Beranda > Selayang Pandang > Bahasa Daerah, Dicintai atau Dilupakan?

Bahasa Daerah, Dicintai atau Dilupakan?

Bahasa Daerah, Dicintai atau Dilupakan?

Oleh Hudjolly

Keanekaragaman tradisi di tanah Melayu sedang menuju ke jurang kemusnahan. Seni bangunan Melayuadalah bentuk tradisi yang pertama lenyap setelah datangnya arsitektur Eropa beberapa abad silam. Sesudah masa kerajaan Melayu bersulih-rupa menjadi negara, jadilah kerajaan-kerajaan itu hanya sekadar sebagai simbol tradisi. Kini, ada dua bagian tradisi Melayu yang sedang diterpa tantangan: busana dan bahasa. Tradisi berbusana masih mampu bertahan melalui sejumlah sistem adat yang memelihara kekayaan ragam corak busana Melayu. Inisiasi, upacara, perkawinan, dan festival banyak membantu kelangsungan bertahannya busana Melayu. Sedangkan bahasa justru mengalami problema berat karena hanya digunakan pada suatu area, bersifat khas, dan tiadanya sistem adat yang melanggengkannya, kecuali kode bahasa tertentu dalam upacara adat. Sementara itu, generasi baru cenderung menggunakan bahasa yang baru pula dan tidak memperdulikan bahasa lama. Ini artinya, bahasa daerah terancam luruh secara cepat.
Prediksi Kepunahan

Prediksi Pusat Bahasa Kemendiknas RI yang memperkirakan kepunahan bahasa daerah di Indonesia akan terjadi pada akhir abad ke-21 bisa saja terwujud. Hanya 74 bahasa daerah saja yang akan bertahan dari 746 bahasa daerah yang ada di Indonesia. Secara nasional, ada kebijakan di bidang pendidikan yang mendorong pelestarian bahasa daerah, misalnya melalui bangku sekolah. Namun, faktanya, kebijakan ini hanya menjadi katup pengaman untuk memenuhi kriteria muatan lokal di kurikulum sekolah. Semangat dan kepedulian untuk mempertahankan bahasa daerah belum memuncak dalam bentuk nyata, semisal menyusun bahasa daerah rumpun Melayu menjadi suatu sistematisasi bahasa.

Dua abad silam, Raja Ali Haji memberi contoh bagaimana memungut bahasa-bahasa yang terserak itu menjadi sebuah kitab pengetahuan bahasa Melayu. Perlu ada “Raja Ali Haji kecil” di daerah-daerah yang bersedia memungut bahasa daerah agar tidak terserak, kepedulian itu rasanya belum bergema kecuali pada 74 bahasa itu.

Sementara itu, Tengku Amir Hamzah melakukan manuver berbeda pada “bahasa Indonesia muda” yakni memungut bahasa Melayu menjadi bahasa Indonesia maju yang lebih familiar dengan semangat zaman melalui sastra. Di satu sisi, apa yang dilakukan Amir Hamzah bersifat meluruhkan bahasa Melayu dalam sastra modern. Di sisi lain, Amir Hamzah menghadirkan pemapanan sastra Melayu menjadi sastra modern (Indonesia). Artinya, manuver penyelamatan bahasa daerah tidak hanya dilakukan dengan cara penyusunan kamus dan penggunaan bahasa daerah ke dalam kegiatan formal. Bahasa daerah dapat disintesakan ke dalam struktur bahasa mapan lain sebagai suatu modifikasi pemapanan. Sastra merupakan bidang yang paling terbuka untuk melakukan upaya tersebut.
Kesetaraan Dua Bahasa

Secara alamiah, bahasa daerah dilanggengkan dengan digunakan sebagai bahasa dialek sehari-hari. Sifat alamiah ini berhasil menyelamatkan bahasa daerah. Tetapi sampai kapan suasana semacam itu akan bertahan? Akibat datangnya generasi baru dan prestise penggunaan bahasa internasional akan menyurutkan kecintaan kepada bahasa daerah. Parahnya lagi, ada persoalan dilematis lain, bahwa bahasa nasional justru berpotensi menelan popularitas bahasa daerah.

Pemerintah daerah hendaknya bijak dalam meracik siasat untuk menyikapi dilema itu. Memberi ruang bagi terbentuknya rasa nasionalisme dengan penggunaan bahasa nasional secara baik dan formal sekaligus menjaga warisan bahasa daerah agar tidak mengalami kepunahan. Mengkombinasikan dua bahasa itu juga berpotensi mengakibatkan interupsi bahasa secara massal, baik bagi bahasa nasional ataupun bahasa daerah. Untuk mewajibkan penguasaan bahasa daerah setara dengan kemampuan berbahasa Indonesia juga sulit diimplentasikan secara total. Masalah akan menghantui masyarakat urban dan daerah–daerah yang menjadi pusat akulturasi. Di daerah semacam itu, perjumpaan antar bahasa daerah cukup tinggi. Jadilah bahasa daerah benar-benar terjepit: dicintai atau dilupakan!

Gempita pelestarian tradisi harus juga melibatkan pelestarian bahasa. Selama ini, model-model festival untuk melestarikan seni tradisi hanya berhasil menciptakan duplikasi seni budaya pakai yang dapat dipertontonkan. Barangkali, model festival atau parade bahasa daerah dapat dijadikan faktor penarik melestarikan bahasa daerah karena ini adalah aset budaya yang bernilai tinggi. Pencatatan dan sistematisasi bahasa daerah menjadi suatu keharusan supaya bahasa daerah dapat diselamatkan dari kepunahan. Sebagai upaya untuk mempertahankan jumlah pengguna bahasa daerah, kita dapat menyerahkannya pada kearifan lokal masing-masing.
Keseimbangan dalam Berbahasa

Secara nasional, rasanya tidak mustahil mendorong adanya kebijakan untuk menguasai dua bahasa: bahasa Indonesia dan bahasa daerah asal. Hal ini dapat dimulai dari anak-anak usia sekolah dasar hingga sekolah menengah atas. Bahasa internasional bisa dipelajari sesudah atau bersamaan dengan penguasaan dua bahasa itu. Sertifikatisasi kemahiran bahasa daerah patut dipertimbangkan sebagai manuver mempertahankan kekayaan tradisi bahasa kita.

Jika bukan kita yang bermanuver mempertahankan tradisi dan melestarikannya hingga puluhan abad ke depan, kepunahan bahasa tiada dapat terhindarkan. Mahir bahasa nasional adalah keharusan sebagai warga negara, tetapi mahir bahasa daerah juga suatu wujud kesetiaan kita dalam menjaga warisan tradisi leluhur. Jangan sampai anak cucu kita belajar bahasa daerah justru di negeri manca. Bahasa nasional dan bahasa daerah adalah pengantin bahasa di tanah Nusantara.

__________

Hudjolly M.Phil, Peminat Kajian Tradisi

Sumber: http://www.rajaalihaji.com/id/opinion.php?a=Nzkvcw%3D%3D=

Kategori:Selayang Pandang
  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: