Beranda > Uncategorized > Eksistensi Budaya Lokal dalam Ranah Globalisasi….Rezky UNLAM

Eksistensi Budaya Lokal dalam Ranah Globalisasi….Rezky UNLAM

Eksistensi Budaya Lokal dalam Ranah Globalisasi

Rezky Amelda

HIMPUNAN MAHASISWA BAHASA DAN SASTRA INDONESIA

PROGRAM STUDI BAHASA DAN SASTRA INDONESIA

JURUSAN BAHASA DAN SENI

UNIVERSITAS LAMBUNG MANGKURAT

BANJARMASIN

2012

  1. 1.      PENDAHULUAN

1.1  Latar Belakang

Sebagaimana ditegaskan oleh Kuntowijoyo (1991), agama dan budaya adalah dua hal yang saling berinteraksi dan saling mempengaruhi. Pertama, agama mempengaruhi kebudayaan dalam pembentukannya; nilainya adalah agama, tetapi simbolnya adalah kebudayaan. Kedua, budaya dapat mempengaruhi simbol agama. Ketiga, kebudayaan dapat menggantikan sitem nilai dan simbol agama.

Agama dan kebudayaan mempunyai dua persamaan, yaitu, keduanya adalah sitem nilai dan sistem simbol dan keduanya mudah sekali terancam setiap kali ada perubahan. Agama, dalam perspektif ilmu-ilmu sosial adalah sebuah sistem nilai yang memuat sejumlah konsepsi mengenai konstruksi realitas, yang berperan

besar dalam menjelaskan struktur tata normatif dan tata sosial serta memahamkan dan menafsirkan dunia sekitar. Sementara budaya merupakan ekspresi cipta, karya, dan karsa manusia (dalam masyarakat tertentu) yang berisi nilai-nilai dan pesan-pesan religiusitas, wawasan filosofis dan kearifan lokal (local wisdom).

Baik agama maupun kebudayaan, pada prinsipnya sama-sama memberikan wawasan dan cara pandang dalam menyikapi kehidupan agar sesuai dengan kehendak Tuhan dan kemanusiaannya. Misalnya, dalam menyambut anak yang baru lahir, Islam memberikan wawasan untuk melaksanakan tasmiyah (pemberian nama) dan akikah (penyembelihan hewan) bagi anak tersebut, sementara kebudayaan lokal urang Banjar yang dikemas dalam bentuk tradisi baayun anak yang disandingkan dengan peringatan kelahiran Nabi Muhammad Saw atau Maulid Rasul (sehingga kemudian menjadi baayun maulid) memberikan wawasan dan cara pandang lain, tetapi memiliki tujuan yang sama, yaitu mendoakan agar anak yang diayun menjadi anak yang berbakti, anak yang saleh, yang mengikuti Nabi Saw sebagai uswah hasanah dalam kehidupannya kelak.

Baayun anak adalah proses budaya yang menjadi salah satu simbol kearifan dakwah ulama Banjar dalam mendialogkan makna hakiki ajaran agama dengan budaya masyarakat Banjar. Maulid adalah simbol agama dan menjadi salah satu manifestasi untuk menanamkan, memupuk, dan menambah kecintaan sekaligus pembumian sosok manusia pilihan, manusia teladan, Nabi pembawa Islam, untuk mengikuti ajaran dan petuahnya. Sedangkan baayun anak penterjemahan dari manifestasi tersebut, karena dalam baayun anak terangkum deskripsi biografi Nabi Saw sekaligus doa, upaya, dan harapan untuk meneladaninya.

Sebagai sebuah tradisi yang saban tahun digelar oleh masyarakat banjar, yakni setiap tanggal 12 Rabiul Awal, terutama oleh masyarakat Desa Banua Halat Kecamatan Tapin Utara (khususnya) dan telah menjadi icon budaya Kabupaten Tapin Rantau, tradisi baayun anak atau baayun maulid sarat dengan sejarah, muatan nilai, filosofis, akulturasi, dan prosesi budaya yang berharga untuk dikaji secara komprehensif. Menurut catatan sejarah, baayun anak semula adalah upacara peninggalan nenek moyang orang Banjar yang masih beragama Kaharingan. Gazali Usman (2000) menyatakan bahwa tradisi ini semula hanya ada di Kabupaten Tapin (khususnya di Desa Banua Halat Kecamatan Tapin Utara). Namun kemudian, berkembang dan dilaksanakan diberbagai daerah di Kalimantan Selatan.

Tradisi ini menjadi penanda konversi agama orang-orang Dayak yang mendiami Banua Halat dan daerah sekitarnya, yang semula beragama Kaharingan kemudian memeluk agama Islam. Karena itu upacara baayun anak tidak bisa dilepaskan dari sejarah masuknya Islam ke daerah ini. Setelah Islam diterima dan dinyatakan sebagai agama resmi kerajaan oleh pendiri kerajaan Islam Banjar, Sultan Suriansyah, pada tanggal 24 September 1526, maka sejak itulah Islam dengan cepat berkembang, terutama di daerah-daerah aliran pinggir sungai (DAS) sebagai jalur utama transportasi dan perdagangan ketika itu. Jalur masuknya Islam ke Banua Halat adalah, jalur lalu lintas sungai dari Banjarmasin ke Marabahan, Margasari, terus ke Muara Muning, hingga Muara Tabirai sampai ke Banua Gadang. Dari Banua Gadang dengan memudiki sungai Tapin sampailah ke kampung Banua Halat. Besar kemungkinan Islam sudah masuk ke daerah ini sekitar abad ke-16.

Sebelum Islam masuk, orang-orang Dayak Kaharingan yang berdiam di Kampung Banua Halat biasanya melaksanakan upacara aruh ganal. Upacara ini dilaksanakan secara meriah dan besar-besaran ketika sawah menghasilkan banyak padi, sehingga sebagai ungkapan rasa syukur sehabis panen mereka pun melaksanakan aruh ganal, yang diisi oleh pembacaan mantra atau mamangan dari para Balian. Sedangkan tempat pelaksanaan upacara adalah Balai.

Setelah Islam masuk dan berkembang serta berkat perjuangan dakwah para ulama, akhirnya upacara tersebut bisa diislamisasikan. Sehingga jika sebelumnya upacara ini diisi dengan bacaan-bacaan balian (tetuha adat), bamamang, mantra-mantra, doa dan persembahan kepada para dewa dan leluhur, nenek moyang di Balai, akhirnya digantikan dengan pembacaan syair-syair maulud, yang berisi sejarah, perjuangan, dan pujian terhadap Nabi Muhammad Saw, dilaksanakan di masjid, sedangkan sistem dan pola pelaksanaan upacara tetap. Akulturasi terhadap tradisi ini terjadi secara damai dan harmonis serta menjadi substansi yang berbeda dengan sebelumnya, karena ia berubah dan menjadi tradisi baru yang bernafaskan Islam (Gazali Usman, 2000: 5)

Nilai utama yang hendak ditanamkan oleh para ulama dalam upacara baayun anak dan mengisinya dengan pembacaan syair-syair maulud di Desa Banua Halat tersebut tidak lain sebagai bagian dari strategi dakwah kultural, yakni bentuk dakwah yang dilakukan melalui pendekatan aspek penjelasan dan tindakan yang bersifat sosiokultural dan keagamaan, jadi bukan dengan pendekatan politik, salah satunya adalah dengan mengunakan medium seni budaya (Azyumardi Azra, 2003). Atau oleh Hussein Umar (2003) dimaknai sebagai suatu upaya menyampaikan ajaran Islam dengan mengakomodir budaya lokal serta lebih menyatu dengan lingkungan hidup masyarakat setempat. Karena pada akhirnya dakwah kultural menghendaki adanya kecerdikan dalam memahami kondisi masyarakat dan kemudian mengemasnya sesuai dengan pesan-pesan dakwah Islam (Munir Mulkhan, 2003).

Sehingga dengan model dakwah itu mereka tetap menjaga dan melestarikan sebuah tradisi dengan prinsip setiap budaya yang tidak merusak akidah dapat dibiarkan hidup, sekaligus mewariskan dan menjaga nilai-nilai dasar kecintaan umat kepada Nabi Muhammad Saw, untuk dijadikan panutan dan teladan dalam kehidupan berkeluarga, bermasyarakat, dan berpemerintahan.

Berdasarkan kenyataan di atas, baayun anak adalah salah satu simbol pertemuan antara tradisi dan ajaran agama. Mengayun anak, jelas sebuah tradisi lokal yang dilakukan oleh masyarakat Banjar dan Dayak secara turun-temurun dari dulu hingga sekarang untuk menidurkan anak-anak. Sedangkan memberi nama anak, berdoa, membaca shalawat, ataupun membaca Alquran, dan silaturrahmi merupakan anjuran dan perintah agama. Kedua ritus, secara harmoni telah bersatu dalam kegiatan baayun anak, yang bahkan secara khusus dilaksanakan pada bulan Rabiul Awal sebagai peringatan sekaligus penghormatan atas kelahiran Nabi Muhammad Saw. Inilah dialetika agama dan budaya, budaya berjalan seiring dengan agama dan agama datang menuntun budaya.

1.2  Rumusan Masalah

  1. Apakah pengertian dari kebudayaan Ayun Maulid itu sendiri?
  2. Bagaimana tradisi Banjar “Baayun Maulid” ?
  3. Bagaimana cara melestarikan tradisi Banjar “Baayun Maulid” ?

 

1.3  Tujuan

  1. Mengetahui dan memahami pengertian dan fungsi dari kebudayaan Ayun Maulid.
  2. Mengetahui dan memahami tradisi Banjar “Baayun Maulid”.
  3. Mengetahui dan memahami cara melestarikan tradisi Banjar “Baayun Maulid”.

2.      PEMBAHASAN

 2.1  Pengertian Kebudayaan Ayun Maulid

Baayun artinya melaksanakan aktifitas meng-ayun di ayunan. Karena kegiatan ini dilaksanakan di bulan Maulid (rabiul awal) maka disenut baayun maulid. Baayun Maulid merupakan budaya peninggalan nenek moyang suku banjar yang masih beragama Kaharingan (dayak) sebagai media untuk memperkenalkan anak kepada leluhur sakti dan berpengaruh yang bernama Datu Ujung dengan harapan, anak yang diayun mendapat berkat dalam hidupnya, tidak udah sakit dan tidak rewel. Ketika agama islam mulai berkembang di tanah Banjar, tradisi baayun maulid ini kemudian di-Islamkan dengan mengubah arah tujuan upacara bukan lagi kepada Datu Ujung tapi kepada Nabi Muhammad yang kemudian dilaksanakan di Bulan Kelahiran Nabi.

Kepada setiap orang tua yang mengikutsertakan anaknya pada upacara ini harus menyerahkan piduduk, yaitu sebuah sasanggan yang berisi beras kurang lebih tiga setengah liter, sebiji gula merah, sebiji kelapa, sebiji telur ayam, benang, jarum, sebongkah garam, dan uang perak. Piduduk ini bukan maksud untuk musyrik tetapi nanti akan dimakan beramai-ramai oleh orang yang hadir. Upacara baayun mulud ini sudah merupakan upacara tahunan yang selalu digelar bersama-sama dalam keluarga.

Sebagai sebuah tradisi yang saban tahun digelar, Baayun Anak sarat dengan sejarah, muatan nilai, filosofis, akulturasi, dan prosesi budaya yang berharga untuk dikaji secara komprehensif. Menurut catatan sejarah, Baayun Anak semula adalah upacara peninggalan nenek moyang yang masih beragama Kaharingan. Sejarawan Banjar, H. A. Gazali Usman menyatakan tradisi ini semula hanya ada di Kabupaten Tapin (khususnya di Desa Banua Halat Kecamatan Tapin Utara). Namun kemudian, berkembang dan dilaksanakan diberbagai daerah di Kalimantan Selatan.

Tradisi ini menjadi penanda konversi agama orang-orang Dayak yang mendiami Banua Halat dan daerah sekitarnya, yang semula beragama Kaharingan kemudian memeluk agama Islam. Karena itu upacara Baayun Anak tidak bisa dilepaskan dari sejarah masuknya Islam ke daerah ini.Sebagaimana diketahui, setelah Islam diterima dan dinyatakan sebagai agama resmi kerajaan oleh pendiri kerajaan Islam Banjar, Sultan Suriansyah, pada tanggal 24 September 1526, maka sejak itulah Islam dengan cepat berkembang, terutama di daerah-daerah aliran pinggir sungai (DAS) sebagai jalur utama transportasi dan perdagangan ketika itu. Jalur masuknya Islam ke Banua Halat adalah, jalur lalu lintas sungai dari Banjarmasin ke Marabahan, Margasari, terus ke Muara Muning, hingga Muara Tabirai sampai ke Banua Gadang. Dari Banua Gadang dengan memudiki sungai Tapin sampailah ke kampung Banua Halat. Besar kemungkinan Islam sudah masuk ke daerah ini sekitar abad ke-16.Sebelum Islam masuk, orang-orang Dayak Kaharingan yang berdiam di kampung Banua Halat biasanya melaksanakan acara Aruh Ganal

. Upacara ini dilaksanakan secara meriah dan besar-besaran ketika pahumaan menghasilkan banyak padi, sehingga sebagai ungkapan rasa syukur sehabis panen mereka pun melaksanakan Aruh Ganal, yang diisi oleh pembacaan mantra dari para Balian. Tempat pelaksanaan upacara adalah Balai.Setelah Islam masuk dan berkembang serta berkat perjuangan dakwah para ulama, akhirnya upacara tersebut bisa diislamisasikan. Sehingga jika sebelumnya upacara ini diisi dengan bacaan-bacaan balian, mantra-mantra, doa dan persembahan kepada para dewa dan leluhur, nenek moyang di Balai, akhirnya digantikan dengan pembacaan syair-syair maulud, yang berisi sejarah, perjuangan, dan pujian terhadap Nabi Muhammad SAW, dilaksanakan di masjid, sedangkan Sistem dan pola pelaksanaan upacara tetap.

Akulturasi terhadap tradisi ini terjadi secara damai dan harmonis serta menjadi substansi yang berbeda dengan sebelumnya, karena ia berubah dan menjadi tradisi baru yang bernafaskan Islam (Usman, 2000: 5)Realitas ini menandai dan menjadi pelajaran penting bagi juru dakwah sekarang, bahwa kehadiran dakwah pada prinsipnya tidak hanya menjadikan manusia yang didakwahi (madu) sebagai seorang Muslim, akan tetapi juga menjadikan etos, budaya, adat-istiadat, semangat, prilaku, pola hidup, sistem, dan semua yang melingkupi kehidupan masyarakat agar sesuai dengan ajaran Islam.

Karena itu, jika gerakan menyeru manusia kepada ajaran Islam agar mereka menjadi seorang muslim diistilahkan dengan dakwah, sedangkan gerakan untuk menjadikan Islam sebagai pola dasar serta pijakan bagi kehidupan manusia disebut dengan istilah Islamisasi. Inilah yang disinggung oleh Alquran dengan perintah agar kita masuk ke dalam Islam secara kaffah, tidak hanya keyakinan (agama) akan tetapi juga sistem hidup.

 

2.2    Tradisi Banjar “Baayun Maulid”

Baayun (mengayun) anak adalah tradisi turun temurun yang dilakukan para orangtua untuk mengantar sang buah hati tidur. Baayun dengan prosesi khusus di bulan Maulid, biasanya lebih afdol dilakukan tiap 12 Rabiul Awal bertepatan dengan kelahiran Nabi Muhammad.Saat prosesi, biasanya anak diantarkan dengan shalawat. Harapannya agar anak kelak taat beragama, sehat, anak yang cerdas, serta anak yang berbakti kepada orang tua.Tradisi ini sudah tersohor menjadi satu daribanyak agenda pariwisata unggulan Kalsel. Tidak hanya dikunjungi warga Kalsel, banyak pelancong sekaligus peserta Baayun dari luar Banua. Bahkan ada peserta dari Malaysia dan Brunei Darussalam.

1) Pelaksanaan Acara Baayun Anak

Acara Baayun (anak) ini biasanya dimulai dengan membacakan Shalawat-shalawat nabi besar Muhammad SAW yang diiringi dengan alunan musik terbang hadrah.

Seiring dengan pembacaan shalawat-shalawat tersebut anak (bayi) yang hendak di ayun dimasukkan kedalam ayunan yang berada ditengah-tengah para tamu sampai pada saat pembacaan “asrakal” anak (bayi) baru boleh diankat dari ayunan. Akan tetapi jika anak (bayi) tersebut menagis, boleh diangkat dari ayunan. Dan ketika pembacaan “asrakal” orang tua (ayah) si anak (bayi) mulai melemparkan uang receh di tengah-tengah para tamu untuk di perebutkan oleh para tamu undangan yang berhadir. Selain memperebutkan uang recehan para tamu undangan juga mulai memperebutkan pisang (amas) dan kue beras yang digantung di kedua belah simpul tali (penghubung ayunan dengan tali). Setelah acara rebutan uang receh beserta pisang (amas) dan kue baras selesai, anak (bayi) baru diletakkan kembali kedalam ayunan sambil sesekali di ayun oleh orang tuanya (ayahnya) sampai acara pembacaan shalawat selesai baru anak (bayi) boleh diambil dari ayunan.

2) Pembuatan Ayunan

Ayunan untuk acara baayun anak ini di buat dengan menggunakan kain panjang sekitar 2,5 meter dan lebar 1,2 meter atau yang disebut tapih bahalai (bahasa banjar) sebanyak 3 lapis. Kedua belah kain tersebut diikat dengan tali yang kuat, dan diantara kedua tali diberi kayu ringan (agar anak tidak mudah terjatuh). Kayu penghubung tersebut diberi hiasan dari kain warna-warni yang di bentuk gelembung-gelembung. Dikedua simpul tali pengikat ayunan diberi hiasan kembang kering yang terbuat dari daun kelapa (ada yang berbentuk cambuk, bunga melati, ular, keris) dan di kedua belah simpul pengikat tersebut digantung pisang 2 sisir dan kue beras (masing-masing 1 tiap simpul pengikat).

 

2.3   melestarikan tradisi Banjar “Baayun Maulid”

 

Pada masyarakat suku Banjar dan Dayak di Pegunungan Meratus, Kalimantan Selatan, kegiatan baayun bukan sekadar menidurkan anak. Baayun adalah tradisi yang menjadi bagian beberapa ritual dalam proses peralihan dari bayi sampai menjadi anak yang sudah bisa tidur sendiri. Dari sisi ini aneh jika ada orang tua pengen diayun.Ayunan dari tapih bahalai (kain batik panjang) yang diikat dengan tali dan digantung membentuk huruf “U” hampir dipastikan selalu dijumpai di rumah-rumah warga di daerah itu. Ayunan tidak bisa dipisahkan dengan kehidupan masyarakat Banjar sejak dulu hingga kini. Ayunan biasanya dipertahankan sampai sang anak sudah bisa tidur sendiri di ranjang, yakni pasca umur tiga-empat tahun.

Karena sudah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari, tidak mengherankan kalau masyarakat Banjar kemudian memiliki pelbagai jenis upacara mengayun bayi dengan nilai kepercayaannya sendiri.Bagi bayi yang baru lahir, ada beberapa tahap upacara yang harus dilalui, yakni pada saat memotong tali pusar, membersihkan dan mengubur tembuni, membisikkan azan dan iqamat, serta mengadakan acara kesenian bertutur seperti bakisah, balamut, atau basyair.

Namun, ketiga acara kesenian terakhir sudah jarang dilakukan, digantikan dengan tadatusan Al-Qur’an. Setelah bagian pusar bayi mengering–disebut lepasnya tali tangkai pusat–diadakan prosesi adat memangku. Untuk mulai diayun, biasanya pasca bayi berumur 40 hari, diadakan bapalas bidan, yakni upacara mengayun anak untuk melepaskan pengaruh magis dari bidan dan memastikan anak itu menjadi anak kedua orangtuanya. Upacara ini juga disebut ritual baayun bidan. Proses mengayun tersebut ada dua bentuk, yakni dipukung, yaitu bayi diayun dalam posisi duduk, dan barabah, bayi dalam posisi tidur terlentang di ayunan. Selain tapi bahalai, kalangan tertentu menggunakan kain sarigading bercorak naga balimbur. Namun, kain ini jarang dipakai karena sudah sangat langka.Hatta, seorang bayi juga akan mengikuti prosesi baayun maulid. Upacara ini dipercaya mencegah bayi rewel dan sakit-sakitan, juga sebagai bentuk tolak bala dari pengaruh-pengaruh jahat.

 

Dengan demikian, baayun anak adalah salah satu simbol pertemuan antara tradisi dan ajaran agama. Mengayun anak, jelas sebuah tradisi lokal yang dilakukan oleh masyarakat Banjar dan Dayak secara turun-temurun dari dulu hingga sekarang untuk menidurkan anak-anak. Sedangkan memberi nama anak, berdoa, membaca shalawat, ataupun membaca Alquran, dan silaturrahmi merupakan anjuran dan perintah agama. Kedua ritus, secara harmoni telah bersatu dalam kegiatan baayun anak, yang bahkan secara khusus dilaksanakan pada bulan Rabiul Awal (bulan Maulid) sebagai peringatan sekaligus penghormatan atas kelahiran Nabi Muhammad Saw.Inilah dialetika agama dan budaya, budaya berjalan seiring dengan agama dan agama datang menuntun budaya.Sehingga dengan model relasi yang seperti itu mereka tetap menjaga dan melestarikan sebuah tradisi dengan prinsip setiap budaya yang tidak merusak akidah dapat dibiarkan hidup, sekaligus mewariskan dan menjaga nilai-nilai dasar kecintaan umat kepada Nabi Muhammad Saw, untuk dijadikan panutan dan teladan dalam kehidupan berkeluarga, bermasyarakat, dan berpemerintahan.

 

  1. 3.      PENUTUP

3.1  Kesimpulan

 

Baayun anak adalah proses budaya yang menjadi salah satu simbol kearifan dakwah ulama Banjar dalam mendialogkan makna hakiki ajaran agama dengan budaya masyarakat Banjar. Maulid adalah simbol agama dan menjadi salah satu manifestasi untuk menanamkan, memupuk, dan menambah kecintaan sekaligus pembumian sosok manusia pilihan, manusia teladan, Nabi pembawa Islam, untuk mengikuti ajaran dan petuahnya. Sedangkan baayun anak penterjemahan dari manifestasi tersebut, karena dalam baayun anak terangkum deskripsi biografi Nabi Saw sekaligus doa, upaya, dan harapan untuk meneladaninya.

 

Sebagai sebuah tradisi yang saban tahun digelar oleh masyarakat banjar, yakni setiap tanggal 12 Rabiul Awal, terutama oleh masyarakat Desa Banua Halat Kecamatan Tapin Utara (khususnya) dan telah menjadi icon budaya Kabupaten Tapin Rantau, tradisi baayun anak atau baayun maulid sarat dengan sejarah, muatan nilai, filosofis, akulturasi, dan prosesi budaya yang berharga untuk dikaji secara komprehensif. Menurut catatan sejarah, baayun anak semula adalah upacara peninggalan nenek moyang orang Banjar yang masih beragama Kaharingan. Gazali Usman (2000) menyatakan bahwa tradisi ini semula hanya ada di Kabupaten Tapin (khususnya di Desa Banua Halat Kecamatan Tapin Utara). Namun kemudian, berkembang dan dilaksanakan diberbagai daerah di Kalimantan Selatan.

 3.2 Saran

Baayun Maulid tetap di jaga dan di lestarikan sebuah tradisi dengan prinsip setiap budaya yang tidak merusak akidah dapat dibiarkan hidup, sekaligus mewariskan dan menjaga nilai-nilai dasar kecintaan umat kepada Nabi Muhammad Saw, untuk dijadikan panutan dan teladan dalam kehidupan berkeluarga, dan bermasyarakat.


DAFTAR PUSTAKA

 (hhttp://ismawardah.wordpress.com/2008/12/05/buda diakses tanggal 28 September 2012)

(http://opinibanjarmasin.blogspot.com/2009/03/upacara-tradisional-baayun-anak.htmlya-banjar-baayun-anak/diakses tanggal 28 September 2012)

(http://zuljamalie.blogdetik.com/diakses 28 September 2012)

(ttp://kapanpunbisa.blogspot.com/2012/06/tradisi-banjar-baayun- maulid.html diakses 28 September 2012)

(http://www.nu.or.id/a,public-m,dinamic-s,detail-ids,1-id,26895-lang,id-c,warta-t,Beayun+Maulid+Masyarakat+Banjar-.phpx diakses 28 September 2012)

Kategori:Uncategorized
  1. 25 Juli 2013 pukul 04:28

    Hmm is anyone else encountering problems with the images on this blog loading?
    I’m trying to determine if its a problem on my end or if it’s the
    blog. Any feed-back would be greatly appreciated.

  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: