Beranda > Uncategorized > EKSISTENSI BUDAYA LOKAL DI RANAH GLOBAL…..ENDANG TRI “UNS

EKSISTENSI BUDAYA LOKAL DI RANAH GLOBAL…..ENDANG TRI “UNS

EKSISTENSI BUDAYA LOKAL DI RANAH GLOBAL “BAHASA JAWA DI TENGAH ARUS GLOBALISASI”

 Disusun Oleh: ENDANG TRI IRIANINGSIH, C0110025

 SASTRA DAERAH

FAKULTAS SASTRA DAN SENI RUPA

UNIVERSITAS SEBELAS MARET

SURAKARTA, 2012

 

BAB I

PENDAHULUAN

  1. A.          LATAR BELAKANG MASALAH

Indonesia merupakan Negara kepulauan yang terdiri dari beribu-ribu pulau. Letak secara geografisnyapun sangat strategis karena diantara 2 benua dan 2 samudera. Apalagi dengan kondisi global seperti saat ini, arus informasi dan media canggih menjamur di kalangan masyarakat dunia membuat Indonesia semakin menjadi salah satu negara yang perlu diperhitungkan. Semua dapat dengan mudah masuk ke Indonesia, dari barang-barang produk luar, trend/ gaya mode pakaian, sampai kebiasaan-kebiasaan maupun budaya dari mancapun juga mewarnai pintu gerbang yang terbuka lebar untuk kebebasan arus globalisasi.

Selain kondisi tersebut, Indonesia juga merupakan salah satu negara yang memiliki banyak kebudayaan dan telah terkenal di penjuru dunia. Kebudayaan-kebudayaan itu dibangun dari kebudayaan lokal/ daerah yang menjadi satu kesatuan diantara perbedaan yang ada. Salah satuya adalah kebudayaan Jawa.

Kebudayaan Jawa memiliki andil yang besar tehadap perkembangan kebudayaan di Indonesia. Karena kebudayaan Jawa penyumbang kebudayaan lokal terbanyak jika dibandingkan daerah lain. Di dalam kebudayaan Jawa sendiri memiliki bagian-bagian kebudayaan yang beragam.

Di era globalisasi seperti ini, memang dirasa banyak kebudayaan yang luntur. Kebudayaan Jawa juga tak luput dari iklim globalisasi yang merajai dunia saat ini. Banyak kebudayaan dari luar yang masuk Indonesia dengan begitu mudahnya. Dan banyak pula kebudayaan Indonesia yang mulai tergerus. Salah satunya adalah bahasa.

Sebagai generasi muda yang digadang-gadang sebagai generasi penerus, kita harus mampu memilih dan memilah mana-mana saja yang terkait dengan kebudayaan sendiri yang akan membentuk dan menjaga kearifan lokal. Salah satu kebudayaan yang akan dibahas dalam makalah ini adalah bahasa Jawa. Bahasa merupakan cerminan dari pengguna bahasa. Apalagi Jawa yang terkenal dengan tindak tutur yang sopan nan santun. Sayangnya hal-hal seperti itu sudah mulai luntur di jaman seperti saat ini. Dalam makalah ini akan dibahas lebih lanjut mengenai bahasa Jawa dan eksistensinya di era globalisasi.

  • RUMUSAN MASALAH
  1. Bagaimana seluk beluk bahasa Jawa?
  2. Bagaimana eksistensi bahasa Jawa di era globalisasi seperti saat ini?
  • TUJUAN PENULISAN
  1. Mengetahui seluk beluk bahasa Jawa sebagai salah satu bagian dari kebudayaan Jawa.
  2. Mengetahui seberapa eksis bahasa Jawa di era globalisasi yang sedang dilanda dunia.
  • MANFAAT PENULISAN
  1. Praktis

1)      Penulisan ini dapat memberikan pengetahuan tentang bahasa Jawa dan perkembangannya saat ini.

  1. Teori

1)      Penulisan ini dapat menjadi salah satu  referensi tentang seluk beluk bahasa Jawa dan perkembangannya.

2)      Penulisan ini dapat menjadi salah satu  bahan kajian bahasa daerah di Indonesia.

 

BAB II

PEMBAHASAN

  1. A.    SELUK- BELUK BAHASA JAWA

Kebudayaan merupakan salah satu unsur yang terdapat dalam suatu negara. Suatu negara yang pernah terjajah ataupun tidak pastinya memiliki kebudayaan. Entah telah terakulturasi ataupun tetap bertahan, yang jelas suatu negara pasti memiliki kebudayaan. Begitu pula dengan Indonesia. Negara yang memiliki beribu-ribu pulau dan berjuta-juta penduduk ini terkenal akan kepemilikan kebudayaan yang kaya pula disamping kekayaan sumber daya alamnya. Kebudayaan Indonesia juga telah termahsyur diseluruh dunia. Kebudayaan-kebudayaan daerahlah yang menyusun kebudayaan nasional yang terkenal itu. Salah satunya adalah kebudayaan Jawa.

Kebudayaan Jawa sendiri juga beragam. Antara daerah satu dan daerah lain di Jawa memilki kekhasan masing-masing. Kebudayaan sendiri memiliki 3 wujud yaitu gagasan (wujud ideal), aktivitas (tindakan), dan artefak (karya) (Yan Mujianto, 2010: 11-12). Bahasa sendiri termasuk kedalam aktivitas (tindakan). Karena aktivitasa dalah wujud kebudayaan sebagai suatu tindakan berpola dari manusia di dalam masyarakat. Wujud ini sering disebut ebagai sistem sosial. Sistem sosial terdiri dari aktivitas manusia yang saling berinteraksi, mengadakan kontak, serta bergaul dengan manusia yang lainnya menurut pola-pola tertentu berdasarkan adat tata kelakuan. Tentunya yang digunakan untuk berinteraksi adalah bahasa.

Bahasa sebagai salah satu wujud kebudayaan tentunya telah memiliki unsur-unsur kebudayaan. Menurut Bronislaw Malinowski kebudayaan meliputi 4 unsur antara lain sistem norma yang memungkinkan kerja sama antara para anggota masyarakat untuk menyesuaikan diri dengan alat sekelilingnya, organisasi ekonomi, alat-alat atau lembaga-lembaga atau petugas-petugas untuk pendidikan (keluarga atau lembaga pendidikan utama), dan terakhir adalah organisasi kekuatan (politik).

Bahasa Jawa selain sebagai alat komunikasi juga sebagai bentuk tata krama masyarakat Jawa. Didalam penggunaannya tidak sembarangan, ada aturan-aturan tertentu yang disebut undha usuking basa Jawa/unggah-ungguh. Secara garis besar unggah-ungguh bahasa Jawa ada 2 yaitu krama dan ngoko. Krama ada 2 macam yaitu krama alus dan krama inggil. Ngoko juga ada 2 macam yaitu ngoko lugu dan ngoko alus.

Berikut adalah tingkatan bahasa dan penggunaannya :

  1. Ngoko lugu biasa digunakan untuk teman sebaya, pada yang lebih muda, pemimpin pada bawahan, dan berbicara sendiri.
  2. Ngoko alus digunakan untuk menghormati mitra tutur yang sedang dibicarakan (pihak ke-3).
  3. Krama alus digunakan untuk  menghormati lawan bicara, orang yang tua terhadap yang lebih muda karena masih menghargai sebagai atasan.
  4. Krama inggil digunakan untuk orang yang lebih muda pada orang yang lebih tua,bawahan pada atasan.

Dari uraian diatas dapat dilihat jelas bagaimana norma tata krama yang dimiliki masyarakat Jawa yang diberlakukan dalam keseharian mereka. Bahasa Jawa mencerminkan bagaimana masyarakatnya hidup saling menghargai satu sama lain  dan tidak ada peraturan tertulis untuk melakukan hal tersebut. Mereka melakukan itu dengan sadar karena unggah-ungguh tersebut telah diajarkan pada mereka sejak kecil. Terutama adalah pendidikan dilingkup keluarga yang pertama kali mengajrakan bagaimana seorang anak menggunakan bahasa.

Selain itu, tidak hanya sekedar alat berkomunikasi saja bahasa Jawa juga dapat menjadi sarana ekonomi. Sebagai contoh para penulis cerkak (cerita cekak), novel dan majalah berbahasa Jawa, penggurit, dapat menjalankan roda ekonomi mereka karena bahasa Jawa.

Bahasa Jawa juga sebagai organisasi kekuatan. Pada dasarnya orang Jawa memiliki rasa kekeluargaan dan kebersatuan yang besar. Sehingga akan terjadi suatu dukungan yang luar biasa dari sesama orang Jawa apabila ada salah satu saudaranya hendak menjadi seorang tokoh masyarakat. Sekan-akan mereka memilki rasa yang sama senasib seperjuangan dan inilah yang menjadikan masyarakat memiliki hubunga kekerabatan yang erat.

  1. B.     EKSISTENSI BAHASA JAWA

Banyakyangmengatakan “wong Jawa ilang Jawane” yang artinya adalah orang Jawa sekarang telah luntur nilai kejawaannya. Banyak orang Jawa yang sudah tidak bisa menggunakan bahasa Jawa yang baik danbenar sesuia tingkat tuturannya. Untuk berbicara pada yang lebih tua atau atasan sekarang sudah banyak yag memilih menggunakan bahasa nasional, bahasa Indonesia karena menggunakan bahasa Jawa krama mereka mengalami kesulitan. Entah tak tahu bahasa kramanya ataupun bingung cara pengucapannya. Hal ini semakin membuat miris para generasi tua dan pemerhati budaya Jawa. Seakan-akan ini mejadi tamparan yang membuat pipi merah panas.

Di era globalisasi seperti saat ini sudah banyak orang Jawa terutama generasi muda yang memprihatinkan. Apalagi dengan semakin banyaknya budaya-budaya manca yang mudah masuk ke Indonesia membuat bahasa Jawa semakin terpinggirkan. Penggunaan bahsa Jawa sudah mulai minim. Dan diantara minoritas itu penggunaan secara baik dan benarpun juga sudah jarang hanya dipertahankan oleh kalangan tertentu saja. Anak-anak muda lebh suka menggunakan bahasa asing karena dianggap lebih gaul dan tidak ketinggalan jaman.

Tapi bagi mereka yang masih menggunakan bahasa Jawa yang baik dan benar tidak tergoyahkan pada tren jaman. Karena mereka sadar apa petingnya bahasa Jawa, antara lain :

  • Bahasa Jawa merupakan lambang kebanggaan daerah.
  • Bahasa Jawa merupakan identitas / jati diri daerah.
  • Sarana untuk berkomunikasi di keluarga dan masyarakat.

Nilai-nilai ajaran dalam bahasa Jawapun juga banyak. Terutama yang terdapat dalam karya sastra. Salah satu contohnya adalah dalam serat Wulang Reh karya Paku Buwana IV yang berisi ajaran-ajaran moral bagi orang Jawa. Seperti dalam petikan tembang macapat, Maskumambang berikut ini:

Wong tan manut pitutur ugi

Anemu duraka

Ing donya tumekeng akhir

Tan wurung kasurang-surang

Ajarannya adalah kepada orang tua hendaknya menghormati dan berbakti. Bahasa Jawa sebagai media pengajaran secara turun-temurun. Ini juga menjadi alasan bagi para pengguna bahasa Jawa. Karena jika tidak mengerti bahasa Jawa mereka juga tidak akan dapat megerti dan memahami ajaran-ajaran yang terdapat didalam karya sastra. Begitu pula dengan para penulisnya sudah tentu tahu apa yang dia tulis. Selain ajaran-ajaran, kita juga dapat menikmati keindahan dari bahasa Jawa dalam karya sastranya.

 

BAB III

PENUTUP

  1. A.    KESIMPULAN

Bahasa Jawa memiliki tempat tersendiri bagi para pengguna dan pemiliknya. Meskipun era globalisasi yang kian menyelimutu perkembangan dunia, bahasa Jawa dapat bertahan hingga sekarang. Selain dalam penggunaan sehari-hari, bahasa Jawa juga banyak ditemui di karya sastra. Seberapa eksis bahasa Jawa adalah tergantung bagaimana kita sebagai generasi muda meneruskan dalam pelestariannya.

  1. B.     KRITIK DAN SARAN

Penulis sadar bahwa makalah ini belum sempurna, maka dengan rendah hati penulis meminta saran dan kritik dari para pembaca.

 DAFTAR PUSTAKA

Imam Sutardjo. 2008. Kawruh Basa saha Kasusastran Jawi. Sastra Daerah FSSR UNS: Surakarta

Imam Sutardjo. 2010. Kajian Budaya Jawa. Sastra Daerah FSSR UNS: Surakarta

Wiwin Widyawati R. 2009. Serat Kalatidha. Shaida: Yogyakarta

Yan Mujianto, dkk. 2010 . Pengantar Ilmu Budaya. Pelangi Publishing: Yogyakarta

Kategori:Uncategorized
  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: