Beranda > Uncategorized > Kearifan Lokal Babasan dan Paribasa….TIM UPI

Kearifan Lokal Babasan dan Paribasa….TIM UPI

Kearifan Lokal Babasan dan Paribasa dalam Perkembangan Globalisasi

Diajukan untuk Pertemuan IMBASADI XIX

Disusun oleh :

Dena Setiawan            (1002623)

Ginanjar Muhamad S  (1006275)

Yuli Siti Rahmawati   (1000974)

Malia Rizki                  (1100983)

Atik Putri Utami          (1103932)

JURUSAN PENDIDIKAN BAHASA DAERAH

FAKULTAS PENDIDIKAN BAHASA DAN SENI

UNIVERSITAS PENDIDIKAN INDONESIA

2012

BAB I

PENDAHULUAN

1.1  Latar Belakang

Ungkapan tradisional merupakan kearifan lokal yang dimiliki setiap suku bangsa dan sangat erat kaitannya dengan karakter dan nilai-nilai yang berkembang dalam suku bangsa tersebut. Ungkapan tradisional atau sering disebut paribasa,babasan, ataupun lainnya merupakan ciri setiap suku bangsa.  Beragamnya ungkapan tradisional merupakan hasil dari beragamnya kehidupan dan pengalaman setiap suku bangsa. Dalam perjalanan kehidupan setiap suku bangsa, banyak hal yang ditemukan dan dijadikan nilai-nilai dalam berkehidupan.

Dalam perkembangannya, ungkapan tradisional berkembang sesuai perkembangan jaman atau Globalisasi. Adanya arus globalisasi bisa menjadi positif atau negatif, tergantung sudut pandang dan cara kita menilai dan mempertahankan kearifan lokal tersebut. Akulturasi budaya seharusnya menjadi lebih baik dalam perkembangan hidup suku bangsa. Dalam ungkapan tradisional banyak sekali nilai-nilai yang baik, dan bisa dijadikan falsafah hidup. Seharusnya nilai-nilai ini tetap dipertahankan ditengah perkembangan globalisasi.

Akan tetapi justru banyak yang tidak mengerti dan menggunakan ungkapan tradisional sebagai falsafah hidup dalam hidup. Hal ini menjadi permasalahan, bagaimana kita mentransformasikan dan mengaplikasikan ungkapan tradisional dalam kehidupan sehari-hari. Agar ungkapan tradisional tetap bisa dijaga dan diinformasikan nilai-nilai kearifan lokalnya, untuk bertindak laku dalam kehidupan dan berkembang sesuai perkembangan Globalisasi, sesuai dengan karakter yang kita miliki sendiri.

1.2  Rumusan masalah

Adapun rumusan masalah dalam makalah ini yaitu :

  1. Apa itu ungkapan tradisional?
  2. Seperti apa ungkapan tradisional di Suku Sunda?
  3. Bagaimana pembagian babasan dan paribasa?
  4. Bagaimana hubungan babasan dan paribasa dalam perkembangan Globalisasi?

1.3  Tujuan Penulisan

Mencari informasi baru mengenai Ungkapan Tradisional sebagai kearifan lokal dan nilai-nilainya, untuk dapat berkembang sesuai perkembangan globalisasi.

1.4  Manfaat Penulisan

Memberikan informasi mengenai hubungan dan keunikan ragam Babasan dan Paribasa dalam perkembangan globalisasi.

1.5 Pembatasan Masalah

Penulis membatasi masalah yang akan dibahas dalam hal ini, yaitu mengambil ungkapan tradisional paribasa dan babasan. Hal ini dikarenakan paribasa dan babasan intensitas pemakainnya masih sering digunakan dalam kehidupan sehari-hari.

BAB II

PEMBAHASAN

2.1 Pengertian Ungkapan Tradisional

Ungkapan tradisional merupakan bagian dari khasanah folklor. Menurut Danandjaja (1984: 17) folklor perlu dipelajari sebab folklor mengungkapkan baik secara sadar maupun tidak, bagaimana folk pendukungnya itu berpikir. Selain itu folklor juga mengabadikan apa-apa yang dirasakan penting (dalam suatu masa) oleh folk pendukungnya.

Menurut Cervantes (dalam Danandjaja, 1984;28, yang dikutif dalam Butir-butir Tradisi Lisan Indonesia, Sukatman, 2009)  mendefinisikan peribahasa sebagai kalimat pendek yang disarikan dari pengalaman yang panjang.

Menurut Budi Rahayu tamsyah, dkk dalam buku 1000 Babasan jeung Paribasa sunda menjelaskan ungkapan tradisional di Sunda salahsatunya adalah Babasan dan Paribasa. Babasan adalah segala ucapan yang sudah tetap dan jelas aturan pemakayannya. Sedangkan yang  disebut dengan paribasa adalah perbandingan yang menjadi perlambang kehidupan, dibuat dalam satu runtuyan kata dan sudah tetap aturan bahasanya.

2.2 Babasan dan Paribasa sebagai karakter Orang Sunda

Babasan dan Paribasa merupakan ungkapan tradisional atau idiom suku sunda. Isi dari babasan dan paribasa merupakan nilai-nilai dan kearifan lokal orang sunda pada umumnya. Dalam babasan dan paribasa banyak sekali kearifan lokal yang terkandung didalamnya. Kearifan lokal tersebut menjadi karakter atau falsafah Orang Sunda pada umumnya. Nilai dan kearifan lokal ini yang harus tetap dijaga dan dijadikan falsafah hidup Orang Sunda, sebagai bentuk wujud nilai yang terkandung dalam babasan dan paribasa.

Babasan dan paribasa  mempunyai aturan yang sudah tetap atau sering disebut bahasa pakeman, sehingga babasan dan paribasa tidak bisa berubah atau pun dirubah. Hal ini berdasarkan bahwa babasan dan paribasa memiliki aturan tetap. Yang dimaksudkan agar nilai-nilai dari babasan dan paribasa tetap terjaga.

Menurut Budi Rahayu tamsyah, dkk dalam buku 1000 babasan jeung paribasa membagi babasan dan paribasa dalam tiga golongan, yaitu :

  1. Paribasa Wawaran Luang

Paribasa wawaran luang menjelaskan mengenai pengalaman yang sudah lumrah di masyarakat, serta merupakan bahan perbandingan tingkah laku manusia. Contohnya:

  1. Adat kakurung ku iga

Adat atau kebiasaan yang sulit untuk dirubah. Dari paribasa ini kita bisa melihat bahwa manusia terkadang kebiasaannya sulit dirubah.

  1. Mihapé hayam ka heulang

Menitipkan barang atau sesuatu kepada seseorang yang tidak jujur atau membahayakan. Maksud dari paribasa ini adalah untuk menjelaskan bahwa kita harus berhati-hati menitipkan sesuatu hal kepada orang yang belum kita ketahui.

  1. Paribasa Pangjurung Laku Hadé

Paribasa pangjurung laku hadé merupakan paribasa yang isinya mendorong untuk berprilaku baik. Adapun contoh dari paribasa ini adalah :

  1. Cikaracak ninggang batu laun-laun jadi legok

Apabila sesuatu dilakukan dengan sungguh-sungguh, meskipun sulit pasti bisa  dilakukan. Dari paribasa ini mengajarkan kita sesulit apapun suatu hal apabila kita lakukan sungguh-sungguh pasti bisa kita lakukan.

  1. Ka hareup ngala sajeujeuh, ka tukang ngala sajeungkal

Hidup harus berhati-hati dan penuh dengan perhitungan. Dari paribasa ini mengajarkan bahwa kita hidup jangan terlalu terburu-buru dalam bertindak, tetapi kita harus berhati-hati dan penuh perhitungan.

  1. Paribasa Panyaram Lampah salah

Paribasa panyaram lampah salah menjelaskan mengenai larangan-larangan untuk tidak melakukan hal-hal yang salah atau membuat celaka. Adapun contoh dari paribasa ini adalah sebagai berikut :

  1. Ulah pupulur méméh mantun

Jangan  meminta upah sebelum kita bekerja.

  1. Ulah meungpeun carang ku ayakan

Jangan berpura-pura tidak tahu, membiarkan seseorang melakukan hal atau tindakan yang salah.

  1. Ulah cul dogdog tinggal igel

Jangan meninggalkan pekerjaan tetap, untuk pekerjaan yang tidak jelas penghasilannya.

2.3 Babasan dan paribasa dalam perkembangan Globalisasi

Globalisasi adalah suatu proses dimana antar individu, antar kelompok, dan antar negara saling berinteraksi, bergantung, terkait, dan mepengaruhi satu sama lain yang melintasi batas Negara. Dalam banyak hal, globalisasi mempunyai banyak karakteristik yang sama dengan internasionalisasi sehingga kedua istilah ini sering dipertukarkan. Sebagian pihak sering menggunakan istilah globalisasi yang dikaitkan dengan berkurangnya peran negara atau batas-batas negara.

Globalisasi juga bisa menimbulkan dampak positif dan negatif. Positif dan negatifnya suatu hal dalam globalisasi tergantung dari setiap sudut pandang dan kebudayaan tiap-tiap Negara. Hal ini bisa kita lihat dalam fenomena-fenomena globalisasi yang mempengaruhi kebudayaan di Negara kita. Salahsatu dampak dari fenomena globalisasi itu bisa kita lihat melalui sudut pandang Babasan dan Paribasa. Contoh dampak fenomena globalisasi, yaitu :

  1. Kemajuan Tekhnologi

Kemajuan tekhnologi merupakan penomena globalisasi yang bisa berdampak positif ataupun negatif. Hal ini tidak bisa kita cegah, karena kemajuan tekhnologi setidaknya dibutuhkan dan akan selalu berkembang sesuai jaman. Dampak positif dari kemajuan tekhnologi, kita bisa lebih mudah untuk berkomunikasi dan berhubungan sosial antar Negara. Sedangkan dampak negatif dari kemajuan tekhnologi ini sendiri, banyaknya orang yang menyalahgunakan kemajuan tekhnologi untuk memperoleh informasi-informasi yang salah. Adapun babasan dan paribasa Orang Sunda yang sesuai dengan konteks kemajuan tekhnologi yaitu :

  • Kudu bisa miindung ka waktu, mibapa ka jaman

Artinya kita harus bisa mengikuti perkembangan jaman. Dengan paribasa ini setidaknya kita bisa lebih positif menggunakan tekhnologi sesuai dengan aturan dan perkembangan jaman.

  • Bengkung ngariung, bongkok ngaronjok

Artinya sekalipun hidup susah, yang terpenting hidup berkumpul bersama keluarga. Paribasa ini sudah jarang digunakan lagi ditengah perkembangan tekhnologi pada jaman sekarang. Banyak Orang Sunda yang belajar jauh ke luar negeri, akibat informasi dari tekhnologi.

Kemajuan tekhnologi bisa menjadi positif apabila kita tetap berpegang teguh kepada adat ketimuran kita, seperti tetap berpegang teguh pada paribasa atau babasan. Tapi kita juga harus lebih pintar memilih ungkapan dari paribasa yang sesuai dan positif terhadap perkembangan globalisasi.

  1. Kebebasan dan keterbukaan

Fenomena lain dari globalisasi timbulnya rasa bebas dan keterbukaan dalam setiap tindakan. Hal ini bisa menjadi dampak positif, contohnya saja kebebasan dan terbuka dalam mengemukakan pendapat. Dengan adanya kebebasan dan keterbukaan dalam berpendapat kita bisa lebih mudah mengemukakan pendapan kita kepada khalayak umum.

Sedangkan dampak negatif dari kebebasan contohnya : budaya seks bebas, hedonisme, dll. Hal ini sangat berlawanan dengan adat ketimuran kita.  Adapun paribasa dan babasan yang sesuai dengan fenomena ini adalah:

  • Abong biwir teu diwengku

Artinya orang yang bicaranya tidak diatur atau asal bicara. Ini biasanya digunakan untuk sindiran kepada orang yang dalam berpendapatnya tidak bisa  mengatur omongannya. Jadi meskipun akibat globalisasi kita mengenal kebebasan, bukan berarti kita bebas dalam mengemukakan apa yang kita inginkan dengan cara yang kita inginkan. Tetapi harus tetap sesuai dengan aturan tatakrama yang kita miliki.

  • Hade ku omong goreng ku omong

Artinya segala sesuatu bisa disebut baik atau buruk dikarenakan omongannya. Dari paribasa ini kita bisa melihat bahwa baik buruknya seseorang dilihat dari apa yang dikatakannya. Maka oleh itu ditengah globalisasi yang membebaskan kita untuk terbuka dalam berpendapat, kita tetap harus menjaga dan memikirkan terlebih dahulu apa yang kita bicarakan.

  • Ulah ngalajur nafsu

Artinya jangan mengikuti nafsu/keinginan sesaat. Hal ini menjelaskan bahwa ketika kita hidup jangan terlalu mengikuti nafsu, karena bisa mengakibatkan kesalahan yang fatal. Perkembangan Globalisasi terkadang memiliki dampak negatif, contohnya saja budaya seks bebas dan hedonisme. Paribasa ini biasanya menjadi nasehat agar tidak terlalu mengikuti nafsu yang bisa merugikan kita dalam kehidupan sehari-hari.

  1. Gaya hidup

Fenomena lain dari dampak globalisasi adalah adanya interaksi sosial yang mengakibatkan adanya alkulturasi budaya, contohnya gaya hidup. Dampak positif dari fenomena gaya hidup yang diakibatkan globalisasi contohnya : etos kerja, disiplin, dan menghargai waktu.

Sedangkan dampak negatif dari gaya hidup akibat fenomena globalisasi diantaranya berkurangnya rasa saling menghormati, dan individualisme. Adapun paribasa dan babasan yang sesuai dengan fenomena ini adalah :

  • Nilas saplasna, ngadek saclekna

Artinya bahwa hidup harus proporsional atau sesuai dengan kebutuhan. Paribasa ini menjelaskan bahwa kita harus bisa disiplin melakukan hal sesuai dengan proporsinya.

  • Nete taraje nincak hambalan

Artinya harus sesuai dengan aturan dan mengikuti prosesnya. Biasanya paribasa ini digunakan untuk menasehati agar kita sabar dan mau menghargai waktu (proses) dari sesuatu hal.

  • Kudu sareundeuk saigel, sabobot sapihanean, sabata sarimbagan

Artinya harus hidup bersama-sama baik dalam duka maupun suka. Paribasa ini biasanya dipaki untuk menasehati agar kita hidup bersama-sama, jangan individualistis. Karena pastinya kita hidup saling membutuhkan, maka kita harus hidup bersama-sama dalam melakukan sesuatu hal.

  • Ulah tutung atahan ari gawe teh

Artinya bahwa kita ketika kita bekerja jangan melakukan pekerjaan setengah-setengah. Dalam paribasa ini mengajarkan bhawa kita harus bekerja secara totakl dalam melakukan hal. Dengan kita melakukan sesuatu hal dengan bersunguh-sungguh dan total, maka hasilnyapun pasti akan baik.

Dari berbagai babasan dan paribasa, kita bisa melihat bahwa masih banyak nilai-nilai kearifan lokal yang bisa digunakan sesuai dengan perkembangan Globalisasi. Derasnya arus perkembangan Globalisasi merupakan hal yang tidak bisa kita cegah atau kita hindari. Karena perkembangan Globalisasi sangat mempengaruhi jaman.

Hal ini bisa menjadi dampak positif ataupun negatif, tergantung bagaimana kita menghadapi perkembangan Globalisasi. Apabila kita menggunakan kearifan lokal yang ada, contohnya Orang Sunda menggunakan Babasan dan Paribasa dalam kehidupannya. Tentu saja hal-hal negatif dari perkembangan Globalisasi bisa dicegah.

Melihat nilai-nilai Babasan dan Paribasa memiliki banyak kearifan lokal yang bisa digunakan dalam permasalahan-permasalahan Globalisasi. Dan apabila banyak orang yang mengerti dan bisa mentransformasikan nilai-nilai tersebut, maka bukan tidak mungkin bahwa kita ke depannya bisa berkembang sesuai dengan perkembangan Globalisasi tanpa harus menghilangnya jati diri dan adat ketimuran yang kita miliki.

BAB III

PENUTUP

3.1  Kasimpulan

Babasan dan paribasa merupakan salahsatu hasil kebudayaan yang dimiliki Orang Sunda, yang memiliki banyak kearifan lokal dan nilai-nilai baik didalamnya. Babasan dan paribasa dapat dikategorikan dalam 3 kategori : Sebagai pemberitahuan, sebagai pondorong berbuat baik, dan larangan dalam berbuat buruk.

Dalam perkembangan Globalisasi banyak fenomena-fenomena akibat Globalisasi terhadap kebudayaan kita.  Fenomena Globalisasi bisa menjadi positif dan negative tergantung dari bagaiman kita menghadapinya. Dengan menggunakan pendekatan nilai-nilai Babasan dan Paribasa, kita bisa tetap berkembang sesuai perkembangan Globalisasi, tanpa harus merubah kebiasaan adat ketimuran kita. Jadi penggunaan nilai-nilai dari babasan dan paribasa ini bisa kita gunakan ditengah derasnya perkembangan Globalisasi

3.2              Saran

Penulis berharap bahwa dengan adanya pembuatan makalah ini, kita bisa mengerti bahwa sangat penting kita tetap menjaga kearifan lokal yang kita miliki ditengah derasnya arus globalisasi. Dengan tetap menggunakan kearifan lokal dan nilai-nilai seperti babasan dan paribasa, bisa membuat kita tetap dengan ciri pribadi kita. Dan ke depannya penulis berharap kita semua bisa mentransformasikan nilai-nilai yang terkandung dalam kearifan lokal contohnya babasan dan paribasa, terhadap penerus kita ke depannya.

DAFTAR PUSTAKA

Taufiq Hidayat, Rachmat dkk. 2007. Peperenian Urang Sunda. Bandung : Kiblat Buku Utama.

Rahayu Tamsyah, Budi dkk. 1994.  1000 Babasan jeung Paribasa Sunda. Bandung : Pustaka

Setia.

Sukatman. 2009. Butir-butir Tradisi Lisan Indonesia (Pengantar Teori dan Pembelajarannya).

Yogyakarta : LaksBang PRESSindo Yogyakarta.

http://irwan-cahyadi.blogspot.com/2012/05/dampak-positif-dan-dampak-negatif.html

http://ipoetmedia.blogspot.com/2010/07/dampak-positif-globalisasi.html

http://wikipedia/Globalisasi.html

Kategori:Uncategorized
  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: