Beranda > Uncategorized > TRADISI MERTI DESA…..BayunMarsiwi/Dwi Lestari “UNS

TRADISI MERTI DESA…..BayunMarsiwi/Dwi Lestari “UNS

TRADISI MERTI DESA,MASIH EKSIS SEBAGAI PARIWISATA BUDAYA DI KOTA SURAKARTA

 BayunMarsiwi/Dwi Lestari

JURUSAN SASTRA DAERAH, FAKULTAS SASTRA DAN SENI RUPA

UNIVERSITAS SEBELAS MARET

SURAKARTA, 2012

 

  1. A.    Pendahuluan

Pada kesempatan ini peneliti akan membahas tentang acara merti desa atau lebih dikenal sebagai bersih desa. Peneliti akan mengkaji tentang upacara adat tersebut dari sisi yang berbeda. Biasanya orang-orang selalu menyangkutkan acara seperti ini dengan hal-hal yang berbau mistis. Kebanyakan orang menganggap upacara adat seperti ini sebagai wahana pemujaan terhadap roh-roh yang ada di sekitar desa, padahal jika kita mengkaji lebih lanjut,upacara-upacara adat seperti ini merupakan kearifan local yang menjadi ciri-ciri bangsa Indonesia. Upacara adat ada berbagai macam dan setiap upacara adat tersebut mempunyai makna yang berbeda pula. Pelaksanaan upacara adat tersebut tidak bisa dilakukan sembarangan, karena setiap upacara sudah memiliki waktu tersendiri, bertepatan dengan suatu momen.

Disini peneliti lebih menyoroti acara tersebut dengan pemaknaan sebenarnya dari acara tersebut. Selain itu peneliti juga mencoba mengkaji acara tersebut dari segi historisnya, bagaimana awal mula upacara tersebut ada sampai sekarang, karena sangat mustahil jika upacara adat seperti itu terjadi dengan sendirinya. Selain itu peneliti juga akan membahas tentang tanggapan masyarakat sekitar mengenai acara tersebut.Di sini peneliti akan membahas lebih lanjut tentang acara bersih desa yang diadakan di Desa Ngaglik Wonowoso dan di Desa Bibis Kulon.

 

  1. B.     Merti Desa Wujud Ungkapan Rasa Syukur Masyarakat Jawa Kepada Tuhan dan Alam Sekitar

Ritual merti desa berawal dari petani zaman dahulu yang berpikiran murni dan sederhana, meletakkan lumpang/yoni lengkap dengan alu / lingga ditengah sawah atau kebun. Bisa dimengerti karena ini merupakan perlambang kecintaan dan hormat mereka kepada alam, yang selanjutnya pemujaan kepada Yang di Atas, penguasa alam atau Tuhan Yang Maha Kuasa. Upacara syukuran petani atas keberhasilan mereka dalam bercocok tanam serta kehidupan yang tenteram dan damai, selamat dan lumayan rejekinya, diadakan pertunjukan tayuban sesudah panen raya setahun sekali, hal ini dahulu disebut lebaran ( sesudah panen raya ), pada tahun kuna kabuyutan dipergunakan waktu sesuai dengan pranata mangsa.

Upacara sakral tersebut disebut Gramawedhayang sekarang disebut bersih desa. Pelaksanaan upacara dan acara tradisional tersebut dilaksanakan atas hasil rembugan dan musyawarah dari warga desa. Sesuai dengan tradisi yang sudah turun temurun, seperti pembersihan dan perbaikan fisik desa, makam leluhur (pepundhen), kenduri, sesaji, juga diadakan pertunjukan wayang kulit dengan cerita Murwakala. Upacara ini mengandung maksud supaya penduduk dan desanya tetap hidup reja, selamat dan cukup sandang pangan / papan dengan cara bersyukur kepada Tuhan, menghormat para leluhur desa (cikal bakal), melestarikan alam dan tidak ada gangguan jahat dari manusia atau makhluk-makhluk lainnya. ( Imam Sutardjo, Kajian Budaya Jawa, 2008)

Upacara “Bersih Desa” dilakukan dari, oleh dan untuk rakyat desa yang sederhana dan jujur serta tekun dalam bekerja, tawakal kepada Tuhan, yang hidup rukun dalam kesederhanaan dan mampu melestarikan alam dan seni budaya tradisional, adalah merupakan perintisan kehidupan masyarakat gotong royong, adil dan makmur berdasarkan pancasila yang didambakan bangsa dan  negara tercinta ini. ( Suryo S. Negorodalem Kejawen, 2001)

Dalam upacara bersih desa ini, terdapat upacara slametan atau wilujengan yang berupa sedekah bumi atau sedekah legena. Slametan atauwilujengan merupakan upacara pokok atau terpenting dalam hampir semua kegiatan ritus dan upacara dalam sistem religi orang Jawa pada umumnya dan penganut Agami Jawi khususnya seperti yang telah dinyatakan juga oleh C. Geertz (1960: 11-15, 30-37). Walaupun C. Geertz juga menyebutkan adanya suatu aktivitas keagamaan lain dalam sistem Agami Jawi yaitu kunjungan ke makam nenek moyang dan makam-makam suci pada umumnya (pundhen).

Slametan ini diadakan dengan mengundang warga desa khususnya para  pria dengan beberapa tamu undangan dari pemerintah desa. Sementara tamu-tamu  berdatangan, kemenyan sudah mulai dibakar. Tamu-tamu dipersilakan duduk bersilang kaki (bersila) diatas tikar mengelilingi tumpeng. Lalu upacara dimulai dengan suatu sambutan yang singkat oleh pemimpin desa, yang diucapkan dalam gaya bahasa Krami. Dalam sambutan  itu ia mengucapkan terima kasih atas kedatangan para tamu, dan memberitahukan maksud diadakannya slametan, serta mohon maaf untuk segala kekurangan dalam hal mengatur upacara, dan untuk hidangan yang mungkin kurang memadai. Selanjutnya modin atau kaum yang diminta untuk hadir, dipersilakan untuk mengucapkan doa (ndonga), yang terdiri dari satu ayat atau dua ayat qur’an. Apabila salah seorang tamu yang hadir dapat mengucapkan doa, maka kehadiran seorang modin tidak diperlukan untuk memimpin upacara. Oleh karena itu hal itu sudah diatur terlebih dahulu.

Pada waktu modin berdoa, para tamu tetap duduk bersila kaki, dengan kedua telapak tangan menghadap  keatas  dan diletakkan diatas lutut. Dengan kepala sedikit menengadah dan mata tertutup , para tamu pada waktu-waktu tertentu menyeling dengan mengucapkan ‘amin’.

Apabila doa sudah selesai diucapkan, maka modin mempersilahkan untuk mulai bersantap, disusul oleh para tamu lainnya. Mereka menyendokkan makanan ke atas sehelai daun, dan kemudian menyantapnya tanpa menggunakan sendok / garpu (muluk). Tamu-tamu biasanya hanya makan sedikit saja dan sisanya mereka bungkus untuk dibawa pulang.

Geertz menjelaskan bahwa slametan tidak hanya diadakan untuk menambah rasa solidaritas diantara para peserta upacara itu saja, tetapi juga dalam rangka memelihara hubungan baik dengan arwah nenek moyang. Upacara slametan juga mempunyai aspek-aspek keagamaan, karena selama suatu upacara seperti itu segala perasaan agresif  terhadap orang lain akan hilang, dan orang lain akan merasa senang (1960; 14). Walaupun demikian, Geertz juga menganggap semua upacara keagamaan itu bersifat religi. Sebagai orang jawa, hal itu tidak hanya demikian, tidak semua kegiatan selametan merupakan tindakan keagamaan seperti yang juga telah dikatakan oleh Harsja W. Bachtiar, yang telah mengecam pandangan Geertz

Koentjaraningrat  berpendapat bahwa upacara slametan yang bersifat kramat adalah upacara slametan dimana orang-orang yang mengadakannya merasakan getaran emosi teramat, terutama pada waktu menentukan diadakannya slametan itu, tetapi juga pada waktu upacara sedang berjalan. Keputusan untuk mengadakan suatu upacara slametan kadang-kadang diambil berdasarkan suatu keyakinan keagaman yang murni, dan adanya suatu perasaan khawatir akan hal-hal yang tidak diinginkan atau akan datangnya malapetaka, tetapi kadang-kadang juga hanya merupakan suatu kebiasaan rutin saja, yang dijalankan sesuai dengan adat keagamaan. Getaran emosi keagamaan yang keramat mungkin saja timbul dalam diri para anggota masyarakat yang mengadakan upacara slametan, karena suasana khidmat yang tercipta pada waktu itu, yang juga dapat merasuki jiwa orang-orang lain yang hadir pada upacara itu, terutama pada waktu pengucapan dzikir.

Setelah melakukan upacara slametan dalam rangkaian acara merti desa selesai dilakukan, maka para warga sekitar berduyun-duyun untuk membersihkan makam pepundhen atau leluhur desa.  Para warga kemudian mengadakan acara nyekar dan mengunjungi makam leluhur. Adat ini merupakan suatu aktivitas upacara yang sangat penting dalam religi orang jawa penganut Agami Jawi. Makam-makam dibersihkan dan ditaburi bunga-bungaan, yang disusul dengan pembacaan doa  sambil membakar dupa. Hal ini dilakukan untuk mengenal, mengetahui dan mendoakan para leluhur desa yang telah berjasa dalam pembukaan desa (cikal bakal desa).  Biasanya pada saat melakukan upacara nyekar, juga diadakan kenduri sederhana disekitar makam, dan kemudian dimakan bersama-sama para warga sekitar. Hal ini memang tercermin dari berbagai aspek dari perayaan yang diselenggarakan berkenaan dengan upacara itu, yang mengandung unsur-unsur simbolik untuk memelihara kerukunan warga masyarakat. Akan tetapi perayaan ini juga menandakan adanya sisa-sisa adat penghormatan terhadap roh nenek moyang.

Dalam mengadakan upacara-upacara tersebut tidak lepas dari adanya sesajen-sesajen. Seperti yang dikatakan oleh Geertz juga, upacara sajen memang ada dalam tiap upacara orang Jawa, dan orang Jawa bahkan membuat sajen tanpa suatu upacara pun (1960:42). Orang-orang desa selalu meletakkan sajen disudut petak sawah, ada yang meletakkan di pundhen, ada yang meletakkan di halaman, dan di persimpangan jalan. Sajian terdiri atas berbagai jenis makanan dalam jumlah yang sangat kecil, yang diantaranya terdiri atas nasi tumpeng kecil, berbagai jenis panganan, rempah-rempah, bunga-bungaan dan berbagai macam benda kecil yang diatur diatas pinggan kecil yang terbuat dari anyaman bambu.

Acara puncak yang diselenggarakan dalam upacara bersih desa adalah pertunjukan wayang kulit atau tayuban. Yang acapkali juga mengundang kedatangan para pegawai pamong praja tingkat kecamatan atau kawedanan. Ada desa-desa yang tidak mengadakan tayuban tetapi menggantinya dengan pertunjukan wayang kulit, sedangkan di daerah pedesaan yang sebagian besar penduduknya terdiri atas orang santri, biasanya diadakan sholawatan.

Di pulau Jawa tentu saja terdapat banyak desa lain yang tidak sama keadaannya dalam penyelenggaraan acara bersih desa. Di desa-desa yang biasanya letaknya lebih jauh ke pedalaman dan jauh jaraknya dari suatu kota, fungsi sebenarnya dari suatu upacara itu masih dipelihara sungguh-sungguh oleh warga desa, dan upacara bersih desa memang mempererat solidaritas dan persaudaraan masyarakat disana. Didaerah Surakarta sendiri, terdapat beberapa kampung yang masih melestarikan ritual Merti Desa. Sebuah kampung bernama Wonowoso di kecamatan Jebres dan Kampung Bibis di daerah kecamatan Banjarsari.

  1. A.    Merti Desa Ngaglik, Wonowoso, Mojosongo

Upacara Merti desa Wonowoso selalu  rutin dilaksanakan setiap tahun, Di desa Ngaglik selalu dilakukan upacara merti desa tepatnya setiap bulan Besar / Dzulhijjah yang bertepatan dengan hari Jumat Pahing.  Masyarakat dusun Ngaglik percaya bahwa setelah diadakannya upacara Merti desa, kehidupan masyarakat menjadi guyup rukun, ayem tentrem, murah sandang pangan dan terhindar dari segala marabahaya dan pagebluk. Merti Desa merupakan sebuah prosesi tradisi local dalam bentuk kegiatan bersih desa. Kegiatan ini dilakukan sepenuhnya oleh masyarakat Ngaglik secara gotong royong. Tujuan dilakukannya Merti Desa adalah mengucapkan syukur kepada Tuhan dan supaya Tuhan YME memberikan perlindungan dan keselamatan bagi masyarakat sekitar.

Dalam pelaksanaannya, Merti Desa atau dikenal dengan acara bersih desa telah diadakan sejak zaman nenek moyang sebagai adat istiadat yang diwariskan turun temurun, serta dilaksanakan setiap tahun. Ada pula yang mengatakan bersih desa sudah ada sejak kampung Ngaglik  terbentuk dan tetap dilaksanakan sampai sekarang setiap satu tahun sekali untuk melestarikan adat istiadat dan kesenian jawa supaya anak muda mengerti adat istiadat yang ada di daerahnya. Warga desa Ngaglik mengatakan bahwa dahulu kala bersih desa dilaksanakan sesudah musim panen sebagai wujud rasa syukur warga masyarakat kepada Tuhan Yang Maha Kuasa atas limpahan rezeki yang diberikan kepada warga semuanya, akan tetapi karena sekarang sawah sudah jarang atau hampir tidak ada akibat dipenuhi bangunan rumah, maka cukup dilaksanakan satu tahun sekali pada hari jumat pahing, bulan Dzulhijah. Dahulu pernah tidak diadakan acara bersih desa selama dua tahun, maka di desa tersebut dilanda pageblug, yaitu warga desa banyak yang terserang penyakit dan kekurangan sandhang pangan yang konon katanya penyakit tersebut berasal dari roh-roh jahat atau makhluk halus. Akan tetapi, sekarang perayaan bersih desa hanya dianggap budaya saja dan tidak boleh dikaitkan dengan agama. Menurutnya agama dan budaya/adat istiadat berjalan sendiri-sendiri.

  1. C.    Sejarah Desa Wonowoso dengan Narasumber Mbah Wiryo dan Ibunya Mas Sidiq

Dahulu kala, wilayah desa Wonowoso merupakan daerah hutan belantara yang lebat dan wingit. Wilayah tersebut merupakan wilayah kekuasaan Kraton Surakarta Hadiningrat. Pihak Kraton Surakarta menjadian wilayah tersebut sebagai tanah untuk lurah. Maka ditugaskan seseorang utusan di sana untuk membabat alas dan menjadikan daerah pemukiman. Seseorang tersebut kemudian dijadikan penguasa (lurah) daerah tersebut. Seseorang tersebut lebih dikenal masyarakat dengan sebutan Mbah Lurah.

Setelah babat alas dan menjadikan daerah itu pemukiman, Mbah lurah dikenal karena mempunyai banyak ingon-ingon (hewan peliharaan) yang berupa kerbau. Untuk merawat kerbau-kerbaunya, Mbah Lurah memiliki 2 santri pangon (pengembala) yang bertugas merawat dan mengembalakan kerbau.

Singkat cerita, suatu hari santri pangon menggiring kerbau-kerbau peliharaannya ke sungai Kedung Pungkul untuk minum dan diguyang (dimandikan). Tapi tak seperti biasanya, setelah sampai ditepi sungai, kerbau tersebut mendadak menjadi liar dan berlari tunggang langgang. Santri pangon yang kaget dan ketakutan berlari pulang dan melapor kepada Mbah Lurah.

Sesudah diceritakan panjang lebar kepada Mbah Lurah, Mbah Lurah dan santri pangon kembali ke sungai dan menyelidiki apa yang terjadi. Mereka mengamati ada apa di sungai tersebut, ternyata ditengah sungai tersebut ditemukan bayi laki-laki yang masih ada ari-arinya mengambang dipermukaan sungai Kedung Pungkul tersebut. Dengan segera, Mbah Lurah mengambil bayi tersebut.

Setelah diambil oleh Mbah Lurah, ternyata bayi tersebut sudah meninggal dunia. Mbah Lurah iba dengan bayi tersebut, dia pun membawa pulang dan merukti (merawat) bayi tersebut serta menguburkannya. Sebelum dikuburkan, bayi tersebut diberi nama Gus Rebo, karena ditemukan di sungai pada hari rabu.

Singkat cerita, beberapa lama kemudian Mbah Lurah mendapatkan mimpi yang aneh. Dalam mimpinya, ada seorang anak yang berkata kepada Mbah Lurah bahwa dia adalah bayi yang ditemukan di kedung pungkul tersebut. Sang anak berjanji akan ikut keturunan mbah lurah sampai 7 turunan dan akan melindungi warga desa tersebut dari marabahaya.

Mbah Lurah kemudian memberi nama desa tersebut dengan nama Wonowoso.Wono berarti hutan, karena dulunya daerah tersebut merupakan hutan yang lebat dan wingit. Sedangkan Woso dalam etimologi jawa berarti segala sesuatu yang diperoleh dari usaha perorangan yang mengubah tanah liar menjadi tanah garapan. Sampai saat ini, ada tanah yang meninggi dan diyakini sebagai makam dari gus rebo masih dipercaya warga sebagai pepundhen desa Wonoyoso tersebut.

D.    Wayang Kulit dalam Rangkaian Acara Bersih Desa

Acara wayangan tersebut adalah puncak dari serangkaian acara Bersih Desa yang dilakukan jumat pahing tanggal 25 november 2011 pukul 20.00 sampai selesai. Acara yang diadakan didesa Ngaglik Wonowoso itu dilakukan dalam rangka acara bersih desa. Acara bersih desa dilakukan bertujuan agar desa tersebut terbebas dari  musibah disamping itu juga untuk menumbuhkan kembali rasa tenggang rasa antar penduduk. Acara tersebut dimeriahkan oleh dalang setempat yang bernama ki Bagong Darmono. Sebelum menyaksikan acara wayangan tersebut, kamiberhasil meminta keterangan ki dalang Bagong Darmono. Inilah informasi yang berhasil kami dapatkan terkait acara tersebut.

‘Apa lakon yang akan ditampilkan?’ ‘Bima Labuh.’ ‘Mengapa anda memilih lakon tersebut’,‘untuk sosial masyarakat, karena waktu pandawa terkena musibah mereka masih bisa membantu orang lain’. Waktu Bale sigala-gala dibakar, kurawa merasa kalau pandawa meninggal tetapi ternyata mereka diselamatkan oleh Garangan Putih. Disaat pandawa dititik nadim (masa paling menyakitkan) karena diusir oleh kurawa, pandawa masih bisa menolong orang yang membutuhkan bantuan. Waktu rakyat ketakutan karena Prabu Baka Raja di Kerajaan Ekacakra yang gemar memakan daging manusia, pandawa mau menolongnya dan membuat kehidupan menjadi damai kembali’. ‘Alangkah bahagianya bila manusia bisa menolong orang lain disaat dirinya juga terkena musibah’. Lalu adakah ritual khusus sebelum melakukan acara tersebut?,’ ‘Kalau ritual khusus tidak ada, hanya kebudayaan kenduran yaitu membagi undangan untuk membantu agar acara tersebut dapat berjalan dengan lancar.’ ‘Bagaimana tanggapan anda tentang generasi muda yang cenderung kurang menyukai kesenian wayang ini?’, ‘Amat disayangkan, karena ini adalah kesenian warisan nenek moyang kita, kalau generasi mudanya seperti itu, lantas siapa yang akan melestarikan kesenian ini.’ ‘Lalu bagaimana agar generasi muda bisa menyenangngi kesenian wayang tersebut.’ ‘Menurut saya, orang tuanya harus mengenalkan kesenian ini sejak kecil dan juga pintar-pintarnya dalang dalam mengemas acara tersebut dengan cara membungkus isi kesenian wayang tersebut sesuai dengan masa kini tetapi tetap tidak lepas dari pakemnya.’ ‘Terima kasih pak’,  ‘sama-sama dik.’

Acara tersebut dimulai dengan cara penyerahan secara simbolik tokoh wayang utama dalam acara tersebut yaitu Bratasena yang dilakukan oleh Ketua RT setempat kepada dalang agar acara segara dimulai. Setelah tokoh Bratasena diserahkan acarapun dimulai dan dalang siap memainkan wayangnya. Sebelum melakukan pertunjukan  ia menciumi gunungan dan melantunkan mantra agar acara tersebut lancar.

Dalang mulai melenggak-lenggokkan tokoh buta dalam wayang yaitu Prabu Baka Raja dari Kerajaan Ekacakra disusul dengan patih-patihnya. Prabu Baka mengeluh kepada patih-patihnya tentang ketersediaan daging manusia yang sudah menipis, sehingga ia merasa kurang terpuaskan. Singkat cerita patih-patih tersebut mencarikan daging manusia agar rajanya tidak murka.

Ditempat lain para kurawa membuat rencana untuk menyingkirkan pandawa dengan cara mengundang mereka diacara jamuan di Bale Sigala-gala. Para kurawa memberikan makanan dan minuman yang diberi racun. Para pandawa tidak menyantap jamuan tersebut karena ada pengemis yang meminta makanan kepada mereka, Karena kebaikan hati para pendawa maka makanan tersebut diberikan kepada para pengemis tersebut. Dimalam hari, para kurawa membakar Bale Sigala-gala untuk membunuh para pandawa. Waktu Bale Sigala-gala tersebut dibakar para pandawa diselamatkan oleh seekor Garangan Putih yang menuntunnya ke alas Ekacakra.

Dewi Kunthi dan para pandawa beristirahat di Hutan Ekacakra. Bratasena marah dengan apa yang dilakukan para kurawa, tetapi Dewi Kunthi berhasil meredam emosi Bratasena. Si kembar Tangen dan Kinten mengeluh kelaparan kemudian Dewi Kunthi menyuruh Raden Bratasena dan Raden Arjuna Untuk mencarikan makanan untuk kedua adiknya. Kemudian Raden Bratasena mendatangi Desa Wanasegara kemudian ia bertemu dengan warga yang sedang mengungsi untuk menghindari Prabu Baka yang sering menyantap daging manusia. Kemudian Patih Sardulaksa mengejar mereka untuk dijadikan santapan Prabu Baka, melihat hal itu kemudian Raden Bratasena marah dan menghabisi patih Sardulaksa. Lalu Ki Demang Sagotra berterima kasih dan menanyakan bagaimana ia dan warga desanya dapat membalas budi baiknya.Raden  Bratasena tidak menginginkan apapun kecuali makanan untuk adinya Kinten dan Tangen.

Ditempat lain Raden Arjuna berada di sebuah danau di desa Jonggrangan. Raden Arjuna bertemu dengan sesosok wanita cantik yang sedang duduk ditepi danau, karena penasaran kemudian Raden Arjuna mendekati dan menepuk  bahu wanita itu. Sulastripun menjerit dan lari dari tempat itu.

Di tempat lain Ki Ijrpa merasa cemas karena istrinya yang bernama Sulastri yang sudah lama dinikahinya belum juga mau ia jamah, lalu tiba-tiba Sulastri datang dan memeluknya. Ki Ijrpa kaget dan menanyakan apa yang terjadi dengan Sulastri. Kemudian sulastri menceritakan kejadian yang baru saja dia alami kepada suaminya, lalu Ki Ijrpa marah dan mencari laki-laki yang mengganggunya untuk bertarung dengannya. Tetapi setelah mengetahui bahwa ternyata laki-laki yang menggangguya adalah Raden Arjuna, kemudian Ki Ijrapa minta maaf dan berterima kasih karena berkatdirinya istrinya akhirnya mau ia peluk. Lalu Ki Ijrapa menanyakan bagaimana cara membalas kebaikan Raden Arjuna, kemudian Raden arjuna meminta makanan untuk adiknya Kinten dan Tangen.

Kemudian Raden Bratasena dan Raden Arjuna kembali ke hutan Ekacakra untuk memberikan makanan kepada kedua adiknya yang kelaparan. Melihat kedua anaknya membawa makanan, kemudian Dewi Kunthi menyuruh mereka menaruh makanan yang dibawa untuk diperiksa Dewi Kunthi. Dewi Kunthi mulai memeriksa makanan yang dibawa oleh Raden Arjuna, ternyata makanan yang ia bawa berbau busuk, kemudian Dewi kunthi menanyakan bagaimana Raden Arjuna mendapatkan makanan itu. Raden Arjuna menjelaskan kepada ibunya tentang proses bagaimana ia mendapatkan makanan tersebut. Dewi Kunthipun menjelaskan kepada Raden Arjuna jika selagi bisa melakukan hal lain untuk mendapatkan sesuatu, sebaiknya ia berusaha jangan hanya mengemis untuk mendapatkan sesuatu, lalu Dewi Kunthi menyuruh Raden Arjuna memakan makanan yang ia bawa. Kemudian Dewi Kunthi memeriksa makanan yang Raden Bratasena bawa, setelah ia periksa ternyata makanan tersebut aman untuk dimakan, kemudian Dewi Kunthi menyuruh Raden Bratasena untuk memberikan makanan yang ia bawa kepada Kinten dan Tangen.

Setelah Kinten dan Tangen kenyang, kemudian mereka melanjutkan perjalanan mereka. Di tengah perjalanan di desa Wanasegara, Dewi Kunthi diminta bantuan oleh Demang Sagotra agar anaknya tidak dimakan Prabu Baka, lalu Dewi  Kunthi menyuruh Raden Bratesena untuk menyamar menjadi anak Demang Sagotra. Kemudian Raden Bratasena datang kekerajaan Ekacakra dan berkata kepada Prabu Baka jika ia memakan dagingnya ia akan kenyang sekenyang- kenyangnya. Prabu Baka mencoba untuk memakan raden Bratasena, tetapi ia tidak berhasil memakannya. Lalu Raden Bratasena mengeluarkan kuku pancanakanya dan menghabisi Prabu Baka.

 

  1. E.     Respon Masyarakat dan Peluang Usaha Pariwisata

Menurut hasil pengamatan kami dalam acara bersih desa yang diadakan di desa Ngaglik, Wonowoso, Mojosongo dengan mengambil sampel penonton dan pedagang, diantara mereka ada yang berpendapat bahwa acara bersih desa telah diadakan sejak zaman nenek moyang sebagai adat istiadat yang diwariskan turun temurun, tidak bisa dihapus lagi, serta dilaksanakan setiap tahun. Ada pula yang mengatakan bersih desa sudah ada sejak kampung ini (Ngaglik)  terbentuk dan tetap dilaksanakan sampai sekarang setiap satu tahun sekali untuk melestarikan adat istiadat dan kesenian Jawa supaya anak muda mengerti adat istiadat yang ada di daerahnya. Salah seorang penonton yang juga merupakan warga desa Ngaglik mengatakan bahwa dahulu kala bersih desa dilaksanakan sesudah musim panen sebagai wujud rasa syukur warga masyarakat kepada Tuhan Yang Maha Esa atas limpahan rezeki yang diberikan kepada warga semuanya, akan tetapi karena sekarang sawah sudah jarang atau hampir tidak ada akibat dipenuhi bangunan rumah, maka cukup dilaksanakan satu tahun sekali pada hari jumat pahing, bulan dhulhijah.

Acara bersih desa dilaksanakan untuk membersihkan desa dari segala marabahaya dan dari roh-roh jahat yang hendak mengganggu ketentraman masyarakat desa. Dahulu acara bersih desa pernah ditiadakan selama satu/ dua kali, akibatnya di desa tersebut dilanda pageblug, yaitu warga desa yang bersangkutan terserang penyakit yang konon katanya berasal dari roh-roh jahat atau makhluk halus. Akan tetapi, sekarang perayaan bersih desa hanya dianggap budaya saja dan tidak boleh dikaitkan dengan agama. Menurutnya agama dan budaya/adat istiadat berjalan sendiri-sendiri.

Zaman dahulu kala saat ada acara bersih desadilaksanakan, masyarakat sekitar tidak ada yang bekerja, semuanya berkumpul di lapangan seharian dan di sana sudah tersedia menu tertentu untuk dimakan bersama. Biasanya para pemuda akan hadir ketika malam sepulang kerja, jadi acara wayangan sekarang hanya ramai pada waktu malam hari saja. Dalam acara bersih desa generasi muda dan tua sama-sama berpartisipasi dan peduli dengan acara tersebut.

Menurut penuturan salah seorang penonton, manfaat dari acara bersih desa dan wayangan adalah memberikan hiburan dengan cerita wayang tersebut, apalagi jika cerita wayang mencapai puncak, acara bersih desa juga bisa melestarikan budaya Jawa dan di sana terdapat nilai sosial yang mendasar yaitu nilai kebersamaan warga, karena dalam acara tersebut warga berkumpul di lapangan menonton acara wayang.

Ketika warga diberi pertanyaan tentang budaya tradisional atau budaya modern, mereka mengatakan bahwa semua itu tergantung orangnya, karena dalam kenyataannya ada yang senang budaya modern, ada pula yang senang budaya tradisional, bahkan ada juga yang senang kedua-duanya dan sebagian diantara mereka mengatakan,” Kalau orang dulu pasti lebih senang budaya Jawa seperti wayangan karena paham maksud dan alur ceritanya, tapi karena saya tidak paham maka biasa-biasa saja.”

Pada saat ada acara bersih desa yang menampilkan wayangan tersebut biasanya diiringi dengan hadirnya para pedagang di sekitar lokasi wayangan tersebut. Para pedagang tersebut berasal dari daerah yang mengadakan acara  wayangan tersebut dan banyak  pula yang berasal dari luar daerah tersebut. Biasanya para pedagang akan makin banyak yang berdatangan jika malam menjelang. Para pedagang tersebut ada yang setiap harinya memang sudah berprofesi sebagai pedagang di rumah dan ketika ada acara wayangan mereka berdagang di dekat lokasi wayangan, ada yang sudah berjualan dekat lokasi wayangan dan ada pula yang berjualan hanya saat acara wayangan tersebut berlangsung.

Biasanya kebanyakan para pedagang yang berjualan di acara wayangan menjual makanan seperti mie ayam, es teh, nasi pecel, nasi tumpang, makanan ringan seperti; chiki, kerupuk, molen,  gorengan seperti; piya-piya, bakwan, dan tahu isi, ada yang berjualan siomay, chilok, es krim, dan masih banyak lagi lainnya. Menurut para penjual ketika mereka ditanya mengapa setiap ada acara seperti itu yang dijual kebanyakan makanan?, diantara mereka ada yang menjawab, ‘’Karena penonton kebanyakan dari pagi tidak masak, jadi mereka menyiapi para penonton yang sedang lapar supaya beli di kedainya, ada pula yang menjawab bahwasanya apa saja yang dijual pasti dibeli tidak harus makanan seperti nasi. Karena acara bersih desa hanya setahun sekali sehingga hal itu menurut mereka merupakan kesempatan warga sekitar dan para penonton untuk jajan.

Berdasarkan jawaban dari pedagang, para penonton ada yang membeli dan ada yang tidak, tetapi umumnya pembelinya banyak sekali pada saat acara wayangan tersebut berlangsung karena acaranya hanya satu kali dalam setahun. Karena pembelinya banyak dapat ditarik kesimpulan bahwasanya pendapatan yang diperoleh pedagang tersebut juga banyak. Salah seorang pedagang menuturkan bahwasanya ketika hari-hari biasa pendapatannya hanya sekitar Rp 200 ribu sampai Rp 300 ribu akan tetapi ketika acara wayangan berlangsung pendapatannya bisa sampai Rp 500 ribu sehari. Jadi dengan berlangsungnya acara bersih desa yang hanya diadakan setahun sekali bisa membuka peluang usaha pariwisata bagi para pedagang untuk menjajakan barang dagangannya  kepada para penonton yang hadir dalam acara tersebut.

 

PENUTUP

Dari berbagai kegiatan yang telah peneliti lakukan, dapat peneliti ketahui bahwa acara bersih desa bukan semata-mata hanya bersifat mistik belaka, tetapi lebih kepada tujuan dari acara itu sendiri. Dari semua penelitian tersebut dapat peneliti simpulkan jika acara bersih desa sendiri bertujuan untuk membersihkan desa sekitar dari wabah penyakit yang disebabkan kurangnya perawatan di desa tersebut. Disamping itu, acara tersebut juga bermanfaat agar warga bisa berkumpul bersama dalam acara tersebut, karena warga sendiri jarang berkumpul karena pekerjaan yang mereka lakukan. Di acara bersih desa sendiri semua warga bergotong royong agar acara tersebut bisa berjalan dengan baik.

Lalu untuk mematahkan paradigma masyarakat umum tentang pemaknaan acara bersih desa tersebut, sebaiknya warga jangan cepat memberikan label/ cap tentang segala sesuatu sebelum mereka memiliki dasar yang kuat, bukan hanya persepsi semata tanpa dasar.

Daftar Pustaka

Koentjaraningrat. 1994. Kebudayaan Jawa, Jakarta: Balai Pustaka

Herusatoto, budiono. 2008. Simbolisme: Jawa

Sedyawati, Edi. 2006. Budaya Indonesia, Kajian Arkeologi, Seni dan Sejarah, Jakarta : Raja Grafindo Persada.

Koentjaraningrat. 1979.Manusia dan Kebudayaan di Indonesia, Jakarta : Djambatan

Giri, Wahyana. 2010. Sajen dan Ritual Orang Jawa, Yogyakarta : Narasi.

Sholikhin, Muhammad. 2010. Ritual dan Tradisi Islam Jawa. Yogyakarta : Narasi

Zairul Haq, Muhammad. 2008. Mutiara Hidup Manusia Jawa. Yogyakarta : Aditya Media Publishing.

Kategori:Uncategorized
  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: