Beranda > Cerita Prosa Rakyat > Si Pitung : Keluarga Mahasiswa Sastra Jawa (KMSJ)-UI

Si Pitung : Keluarga Mahasiswa Sastra Jawa (KMSJ)-UI

SI PITUNG

(Folklor Masyarakat Betawi)

 

Sebagian besar orang tua menginginkan kelak anaknya akan menjadi manusia yang baik dan berguna. Demikian pula harapan Bang Piun dan Mpok Pinah. Mereka mengharapkan Si Pitung, anak mereka, akan menjadi orang yang saleh, dapat menunjang nama baik orang tua, and dapat dibanggakan. oleh karena itu, setelah Si Pitung dikhitan, Bang Piun dan Mpok Pinah menitipkan anaknya ke guru mengaji yang paling terkenal di kampungnya, Kampung Rawabelong, yaitu Haji Naipin

Haji Naipin mempunyai banyak murid. mereka taat dan patuh kepada gurunya. siang malam mereka belajar mengaji, membaca, dan menulis huruf Arab. Mereka juga menjalankan salat lima waktu. Pada bulan Ramadhan mereka menjalankan ibadah puasa.

“Kamu senang tinggal di tempat Haji Naipin, Tung?” tanya Bang Piun saat Si Pitung pulang.

“Senang sekali, Yah,” jawab Si Pitung, “di sana banyak teman”

“Kamu sudah pintar mengaji, ya?”

“Sedikit-sedikit, Yah”

“Syukurlah, Tung. kamu patuh saja pada gurumu. Ayah ikut senang kamu sudah menjadi murid Bang Haji Naipin.”

Kalau Si Pitung ada di rumah, Mpok Pinah membuat masakan yang enak supaya anaknya makan yang banyak. Maklum, di tempat mengaji segalanya harus seba prihatin. Makan sedikit, dan tidurpun sedikit sehingga Mpok Pinah tak sampai hati. Pada hari libur sehabis salat Subuh, Si Pitung dibiarkan Mpok Pinah tidur sampai siang hari.

Akan tetapi, tidak demikian dengan cara berpikir Bang Piun. Selagi di rumah, Pitung harus bangun pagi. Kambing-kambing di kandang perlu digembala di tempat yang banyak rumput, tempat yang paling bagus adalah di daerah perbukitan atau di tepi hutan. Di sana banyak daun muda yang sangat digemari kambing. Letaknya memang agak jauh. Pitung sering enggan menggembala ke sana karena harus melewati pematang dan menuruni lembah, perlu seharian untuk memuaskan kambing-kambingnya. untung saja Mpok Pinah bijaksana. Mpok Pinah selalu membekali Pitung dengan nasi beserta lauk sehingga Pitung menjadi bersemangat. Pitung baru pulang saat matahari hampir terbenam, kemudian menggiring kambing-kambing ke kandang.

Kehidupan orang tua Pitung di Rawabelong sangat bergantung pada hasil pertanian. Pekerjaan Bang Piun berkeliling di lahan orang lain. Kalau Bang Piun melihat pisang, pepaya, atau buah-buahan lain yang hampir masak, dia akan membeli buah itu dengan harga murah. Setelah dibeli, buah-buah tersebut akan diperam dan dua hari kemudian dijual ke pasar. Hasil dari penjualan buah-buah tersebut digunakan untuk membeli beras dan bahan pokok lain. Sisa keuntungan digunakan untuk membeli buah-buahan lagi di ladang.

Pada suatu hari, Bang Piun ingin menjual kambingnya. Namun pada saat itu dia berhalangan. Lalu Bang Piun memanggil Si Pitung

“Tung, tolong bawa dua kambing ini ke Tanah Abang. Jangan diberikan kalau harganya masih terlalu murah. Jelas, Tung?”

“Jelas, Yah.”

“Ayah percaya kamu akan untung dan membawa pulang uang.”

Lalu, Si Pitung menggiring dua kambingnya ke Pasar Tanah Abang. Setibanya di sana, dua kambing tersebut segera dikerumuni para pedangang karena gemuk dan sehat. Dalam waktu singkat, Si Pitung sudah dapat menghitung uangnya. Lumayan. Dia menyempatkan untuk salat Zuhur terlebih dahulu di masjid. Setelah itu, dia melenggang pulang ke rumah. Akan tetapi, ketika hampir sampai rumah dia baru sadar kalau uang yang semua ada di kantong sudah tidak ada lagi. Pitung mulai bingung bagaimana dia akan menjelaskan masalah ini kepada ayahnya, bahwa dia tidak membawa pulang uang dari hasil penjualan kambing. Di mana uang itu sekarang?

Pitung berpikir keras, “Tadi aku bertemu dengan siapa saja di pasar? Oh ya, aku sekarang ingat. Kawanan berandal pasar itu tentunya. Mereka mengajakku bercakap-cakap dan salah seorang dari mereka merogoh kantongku. Akan kudatangi sekarang juga mereka itu!”

Seperti yang telah diperkirakan oleh Si Pitung, kawanan berandal itulah yang mencopet uang hasil penjualan kambingnya. Akan tetapi, mereka tidak mau mengaku. Pertengkaran mulut diakhiri dengan adu tinju. Si Pitung yang telah dilatih silat oleh Haji Naipin setiap selesai salat Isya. Semakin gencar serangan lawan, semakin tangkas lompatan dan hindaran Pitung menghadapi mereka. Kalau sudah tersudut, barulah Pitung membalas, itu pun tidak begitu sungguh-sungguh. Walau demikian, beberapa dari mereka terpental sampi mengaduh. Agar  mereka tidak melakukan tindakan yang lebih berbahaya, Pitung menendang ke kanan dan ke kiri menggunakan siku. Mereka jungkir balik hingga tidak sadarkan diri. Dua di antara mereka menyerah dan mengembalikan uang hasil copetan tersebut kepada Si Pitung. Dengan lega Si Pitung membawa kembali uangnya dan pulang ke rumah.

Para berandal pasar itu mengagumi ketangkasan Si Pitung dalam bersilat. Rais, pimpinan berandal pasar mendatangi Si Pitung. Atas nama kawan-kawan berandal di pasar, dia mengusulkan agar Si Pitung mau menjadi pemimpin mereka.

“Jadi jagoan copet pasar cukup lumayan,” bujuknya.

Pitung marah. Mencopet adalah pekerjaan yang merugikan orang lain, padahal pada masa Belanda, banyak rakyat yang terjajah dan menderita. Mengapa rakyat yang menderita malah dicopet dan dicuri? Pitung tidak terima akan hal tersebut. Dia selalu berpedoman pada ajaran gurunya, Haji Naipin. Sebagai murid, Pitung harus melindungi nasib orang banyak.

“Lalu, bagaimana cara menolong orang-orang yang menderita itu, Tung?” tanya Rais. Kawan-kawan Pitung di Rawabelong juga melontarkan pertanyaan yang sama. Bagaimana cara menyelamatkan dan menolong mereka yang kesusahan?

Pada suatu malam yang sepi, Pitung berpikir dan berbicara dengan dirinya sendiri. Terkadang mengangguk dan menggeleng sendiri. Akhirnya ia putuskan dan laksanakan. Pokoknya dia berniat baik. Memang harus ada korban berupa harta benda. Sebaliknya, yang lain memperoleh manfaat dari harta benda tersebut. Dengan bantuan kawan-kawan terpercaya, termasuk Rais, Si Pitung mulai menyerempet bahaya. Kawan Si Pitung yang lain adalah Ji’i. Mereka tutup mulut, lebih banyak diam daripada berbicara.

Tetangga yang sangat menderita dan tidak punya nasi untuk hari esok tiba-tiba mendapat sepikul beras beserta uang sekadarnya. demikian pula satu keluarga yang terlibat hutang dari tuan tanah, tiba-tiba mendapat santunan. Anak-anak yatim memperoleh kiriman baju dan bingkisan lainnya. Berbeda dengan orang-orang miskin, para saudagar dan tuan-tuan tanah yang kaya merasa ketakutan.

Malam hari di kampung menjadi terasa sangat sepi. Rumah-rumah besar yang dijaga para centeng seperti disekap sunyi. Para centeng tidak bisa bergerak. Golok mereka di pinggang seperti diikat dengan kuat. Kaki-kaki mereka yang kuat seperti tertancap di bumi.

Pada saat itu Si Pitung dan kawan-kawannya memasuki rumah besar. Begitu mudah mereka mengangkut barang-barang dan hilang tanpa jejak.

Pitung dan kawan-kawan tidak mau beroperasi di kampung sendiri, Rawabelong. Mereka harus bergerak di luar. Mereka merajalela di daerah Jembatan Lima. Bahkan sampai daerah Marunda yang terletak di pinggir laut.

Aksi mereka sangat membuat geram para polisi dan serdadu-serdadu Kompeni. Mereka bersumpah untuk bersatu menangkap Si Pitung. Kepala Polisi pada saat itu adalah Schout Heyne. Dia mempelajari cara kerja Pitung dan kawan-kawannya. Akhirnya Pitung ditangkap dan dimasukkan ke dalam penjara. Namun hanya beberapa hari saja Pitung berhasil melarikan diri dengan memanjat atap. Pitung dikejar dan diberondong dengan tembakan senapan, tetapi tidak kena atau mungkin tidak mempan menembus dagingnya. “Kebalkah Pitung?” pikir Schout Heyne.

Schout Heyne beserta satu pleton polisi, dan satu regu serdadu Kompeni memasuki Kampung Rawabelong. Para lelaki dikumpulkan. Mereka diperiksa satu-persatu, yang memiliki hubungan kerabat dengan Si Pitung ditangkap dan diikat, termasuk Mpok Pinah dan Bang Piun yang sudah tua. Lebih menyedihkan lagi adalah Haji Naipin, guru mengaji yang dihormati Si Pitung juga ikut tertangkap. Mereka diancam masuk penjara jika tidak memberitahu di mana Pitung bersembunyi.

Haji Naipin ditodong senapan dan dipaksa untuk membuka rahasia kekebalan Si Pitung. Dengan berat hati, Haji Naipin membuka rahasia kekebalan muridnya tersebut.

Dengan segera, Schout Heyne dan pasukannya mengepung Si Pitung yang saat itu sedang bersembunyi di rumah kekasihnya di Kotabambu. Mereka memanggil Pitung dan memerintahkan agar Si Pitung menyerah dan keluar.

Pitung lebih senang bertarung daripada menyerah begitu saja. Terjadilah pertarungan yang tidak seimbang. Walaupun ada beberapa serdadu yang terjatuh, tetapi kawan-kawan Pitung tetap tidak berdaya. Musuh jauh lebih kuat.

Akhirnya tinggal Si Pitung yang masih bertahan. Seperti yang telah diberitahu oleh Haji Naipin, salah satu serdadu melemparkan telur busuk ke arah Si Pitung. Bersamaan dengan itu, seorang polisi atas perintah Schout Heyne, menembaknya.

Tidak ada halangan lagi bagi peluru. Daging punggung Pitung tertembus. Pada hari itu juga tamatlah riwayat Si Pitung.

Namun karena jasa-jasanya bagi rakyat kecil yang pernah ditolong, Pitung selalu dikenang sebagai pembela rakyat kecil. Akan tetapi, bagi orang yang pernah dirugikan, tetap saja Si Pitung dianggap sebagai penjahat dan sudah sepantasnya mendapat ganjaran berupa tembakan peluru.

 

-Keluarga Mahasiswa Sastra Jawa (KMSJ)-

Universitas Indonesia

  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: