KELONG BUGIS-MAKASSAR YANG MENGANDUNG UNSUR PENDIDIKAN…FRISKAWINI

KELONG BUGIS-MAKASSAR YANG MENGANDUNG UNSUR PENDIDIKAN

Kelong sebagai salah satu bentuk kesuastraan Bugis Makassar, di dalamnya mengandung renungan dan kearfian yang tergambar melalui kesatuan dan kepadatan makna. Kesatuan dan kepadatan makna tersebut, setidaknya dapat dilihat di dalam fungsi-fungsi sastra pada umumnya.

Kelong merupakan salah satu jenis karya sastra Bugis Makassar yang sangat tua. Bagi masyarakat Bugis Makassar, kelong mendapat tempat tersendiri karena segala perasaan suka dan duka yang dialami oleh masyarakanya disampaikannya melalui kelong.

Secara umum, kelong mempunyai lima fungsi, yaitu: (1) kelong sebagai media pendidikan; (2) kelong sebagai sebagai media hiburan; (3) kelong sebagai pembangkit semangat juang; (4) kelong sebagai media komunikasi; dan (5) kelong sebagai produk dan pelestari budaya.

Lemahnya minat masyarakat Bugis Makassar terhadap sastra lisan, khususnya kelong yang di dalamnya terkandung nilai-nilai moral, lebih disebabkan oleh kurangnya pembudayaan kelong itu sendiri, baik di lembaga pendidikan formal maupun di dalam lingkungan rumah tangga.

  1. 1.      Pengertian dan Ciri – Ciri Kelong

 

Kelong adalah salah satu jenis sastra Bugis Makassar yang berbentuk puisi. Dilihat dari segi bentuknya kelong, terutama kelong tradisional memiliki kemiripan dengan pantun dalam sastra Indonesia, seperti empat baris dalam sebait, memiliki persajakan, serta tidak mempunyai judul.

 

Adapun ciri – ciri khusus kelong tradisional yaitu :

 

a)  Baris – baris dalam bait kelong merupakan satu kesatuan yang utuh untuk mndukung sebuah makna

b)  Kesatuan suara yang terdapat pada tiap – tiap baris merupakan kesatuan sintaksis yang berupa kata/kelompok kata dengan pola 2/2/1/2

c)  Jumlah suku kata pada setiap baris berpola 8/8/5/8

2.   Nilai – Nilai dalam Kelong

Nilai merupakan sesuatu yang dihargai atau dihormati atau sesuatu yang ingin dicapai karena dianggap sebagai sesuatu yang berharga atau bernilai. Maka dalam kelong Makassar ditemukan mengandung beberapa nilai yang perlu dijaga dan dilestarikan.

Adapun nilai – nilai yang ditemukan dalam kelong Makassar antara lain :

a.  Nilai Agama

  • Boyai ri taenana                                                           cari Dia dalam gaib

Assengi ri maniakna                                                     yakinkan Dia ada

Tenai antu                                                                     meskipun tidak tampak

Na maknassa ri niakna                                                  tetapi Dia pasti ada

b.  Nilai Moral

  • Ammakku anrong kalengku                                         ibuku ibu kandungku

Anrong tumallassukangku                                            ibu yang melahirkanku

Pakrimpunganna                                                           dan tempat mencurahkan

Panngai ta mattappukku                                               segala kasih

c.  Nilai Pendidikan

  • Manna majai tedonnu                                                 meskipun banyak kerbaumu

Mattambung barang – barangmu                                 bertumpuk barang – barangmu

Susajakontu                                                                 engkau akan susah juga

Punna tna sikolannu                                                     jika tidak berpendidikan

 

Elong Ugi adalah aset kesusastraan regional Sulawesi Selatan yang dapat memperkaya khasanah kebudayaan nasional bangsa Indonesia. Karena itu, Elong-Kelong sangat penting untuk dikaji dan disebarluaskan agar dikenal dan dimengerti oleh generasi muda kita khususnya remaja Sulawesi Selatan yang hidup di tengah perubahan drastis budaya oleh pengaruh globalisasi.

 

3. Deskripsi Kesusastraan Elong Ugi

Lontara elong biasa juga dijadikan Elong-Kelong. Maksudnya bahwa puisi-puisi Bugis ini biasa dijadikan nyanyian oleh sebagian masyarakat, biasa juga dipergunakan dalam acara suasana tertentu, seperti pada acara prosesi pelamaran untuk menarik perhatian dan mengairahkan suasana yang sedang berlangsung, yang mengandung nilai-nilai kehormatan tersendiri di mata masyarakat Bugis. Biasa pula puisi ini dipakai oleh orang yang bersahabat akrab, atau muda-mudi yang berkasih-kasihan dan akan berpisah, seperti:

Senge’ka rimula wenni

Kubali senge’tokko

Rigiling tinroku

Artinya:

Kenanglah aku ketika malam mulai gelap

Niscaya akan kukenang pula dirimu

Ketika aku terjaga di pertengahan malam

 

Di samping itu, ada juga elong yang mengandung nasihat, pemberi semangat, menegaskan prinsip-prinsip kepribadian yang harus dimiliki seseorang dalam mengarungi kehidupan ini. Misalnya:

Sompe’ki to pada sompe’

Tapada mamminanga

Tosilabuang

(Tapada malani laleng nasseddingie atitta tosilolongeng).

Artinya:

Marilah kita menempuh jalan yang dapat menyatukan hati kita.

Agar kita dapat mencapai sebuah kesepakatan.

 

Elong ditinjau dari jenis dan tujuannya dapat dibagi ke dalam bermacam jenis, di antaranya:

1. Elong Bawang, syair yang berisi kata-kata yang jelas dan terang artinya, sehingga mudah dipahami.

2. Elong Maliung Bettuanna, syair yang memiliki makna yang dalam dan memerlukan perhatian khusus untuk mengiterpretasinya.

3. Elong Osong, syair yang dipakai untuk memberikan semangat dalam peperangan.

4. Elong Tomalolo, temasuk di dalamnya Elong Assissengeng, Elong Sicanring-canring, Elong Sibokori, Elong Messebebbua, Elong Mapparere, Elong Mappaddicawa, Elong Toto.

5. Elong Eja-Eja, syair hiburan atau pantun jenaka.

6. Elong Pappangaja, yaitu syair atau nyanyian yang berisi nasihat-nasihat agar kita sadar dan mengikuti kebaikan.

7. Elong Topanrita, yaitu syair yang mengandung nasihat keagamaan, yang membimbing hidup selamat di dunia dan di akhirat.

 

4. Nilai-Nilai Kepribadian Moral dalam Elong Ugi

Berikut ini sebagian sifat-sifat yang dapat kita temukan dalam elong Bugis adalah:

 

a. Pengharapan kepada Tuhan

Salah satu ungkapan dalam elong yang mengandung pengharapan kepada Tuhan adalah: Mamasepi Dewata’e nalolongeng sitalleyang sipomenasae (Engkapa pammasena puwangnge namakulle siyala tau sipomenasa’e). Artinya: Hanya dengan adanya rahmat Allah yang dapat mensejodohkan kedua jenis manusia yang telah mengikat janji (perkawinan).

 

b. Kejujuran dan Kesucian

Elong yang terkenal mengenai kejujuran dan kesucian adalah: Duwami riala sappo unganna panasae belo kanuku’e (Duwami riyala sappo lempu’e sibawa paccing’e). Artinya: Dua yang dijadikan pagar adalah kejujuran dan kesucian. Pagar diri setiap orang sebenarnya sudah cukup bila ia memiliki keduanya, yaitu dapat memelihara sifat jujur dan perbuatannya bersih dari noda dan pelanggaran. Maksud Malempu adalah makkebolai ada tongenge ri alena naiyya sampoengngi ada tongengnge bellewe. Artinya: jujur itu terdapatnya perkataan yang benar dalam diri seseorang dan yang merusak kejujuran adalah pekataan dusta, atau sifat yang suka berkata bohong. Bahkan ada ungkapan yang lain tentang pengharapan tinggi atas berlangsungnya suasana kejujuran dalam sebuah masyarakat, yaitu: Tennapodo mannennungeng lempu’e tettong tungke tenri girangkirang. Artinya: Semoga kekal suasana kejujuran (dalam masyarakat), berdiri dengan kokoh tanpa ada yang menandinginya.

c. Harga diri

Mengenai harga diri dapat kita jumpai elong dalam berikuti ini: Teppadaki makkatenning paccimang riawa bakkaweng nipa’e (Pada sitarongekki’ siri’, iyaregga ripada jagai siri’ta). Artinya: Kita harus saling menghargai, saling hormat menghormati, saling menjaga diri supaya tidak terjadi saling menyakiti dan saling mengumbar aib. Itulah pokok harga diri manusia yang biasa disebut sipakatau atau saling memanusiakan. Dengan begitu terjadi keharmonisan hidup di tengah-tengah masyarakat.

Harga diri seseorang juga dapat muncul ketika dia dapat membuktikan apa yang ia katakan. ’Seddie ada na gau’ (satu kata dengan perbuatan) dalam elong biasa didendangkan: Sagala-sagala tongeng iyapa nasagala tallepi mannessa’e (Macca-macca tongeng iayapa natentu amaccangenna engkapa maddupa rigau’na). Artinya: orang itu benar-benar pintar jika ia dapat membuktikan dengan kerja nyata atas kepintaran atau ilmu yang diketahuinya itu.

 

d. Kesetiaan

Ungkapan kesetiaan dalam elong dapat kita simak berikut: Upappada tinuluku rappe’ natuddu’solo’ temmappangewaku (De upangewai, kegi-kegi maelo natiwi, kuwana lao. Agi-agi maela napugau de’tona kupangewai apa pura uwerenni akkateppereng).Artinya: Aku tidak akan membatahnya, di mana aku dibawa di situlah kau berada. Kesetiaan orang Bugis dapat disimpulkan dalam sebuah ungkapan: Polo pang polo panni, rekko elo’ ajjoareng tempeddingngi tenripugau (Walau paha dan tangan terancam patah, jika itu merupakan kehendak pimpinan [panutan mereka)] pantang tidak dilaksanakan). Tapi tentunya ini didasari bahwa orang diberikan kepercaan itu memilki tanggung jawab, karena dalam elong yang lain berbunyi: Massimangnga nasompereng passompe’ tebbolai padoma na sompe (Massimangnga naparenta atau naatoro’ tau temmissengngengngi laleng ripoasalamakengnge). Artinya: Aku menyerah (tidak akan dapat menerima) diatur atau diperintah oleh orang yang bodoh tidak mengetahui jalan yang dapat menyelamatkan kita dari bencana dan bahaya.

 

 

 

e. Kecerdasan

Salah satu elong yang sangat berkesan mengenai kecerdasan adalah: Iyaro teppaja risappa buwaja buluede naunga panasa’e(Iyaro teppaja risappa tau macca namalempu’). Artinya: Orangyang selalu dicari adalah orang yang cerdas dan jujur. Ini amat menarik karena mempersandingkan kecerdasan dengan kejujuran, sebab orang cerdas tapi licik akan sangat berbahaya dan menakutkan. Itulah sebabnya sehingga ada elong lain yang berbunyi: Mauni buwaja bulu’ nalise’ ampeloi teyawa’ nalureng (Mauni tomacca namaja’ sipa’na teyawa naparenta). Artinya: Meski orang itu cerdas tapi tidak memilki sifat yang baik maka saya tidak ingin diperintah atau dituntun olehnya. Jadi kecerdasan harus bersanding dengan akhlak yang baik baru dapat diterima baik di tengah-tengah masyarakat. Siapa yang disebut orang cerdas (to macca), yaitu: Tau magello’ akkalengna de’na napaccaireng, saba sampoenggi akalengge iyanaritu sipa’ paccairengnge. Artinya: Orang cerdas adalah orang yang bagus akalnya (terarah pemikirannya), karena yang menutupi akal pikiran manusia adalah sifat suka marah. Jadi, orang cerdas adalah orang yang memiliki akal pikiran yang baik.

 

f. Keberanian

Dalam elong banyak ungkapan yang membicarakan tentang keberanian, salah satunya: Wennang pute mappesona eja’e mamminasa bali sipuppureng (Narekko gauk mapaccing muwa, iyamua ripujie ripugau, waranika mewako siamateng). Artinya: Jika perbuatanmu adalah perbuatan suci (benar), perbuatan baik, maka aku berani mati berjuang bersamamu. Jadi, syarat keberanian adalah bersanding dengan kebenaran dan kesucian perlakuan. Bila tidak maka keberanian itu adalah keberanian yang buta. Berani karena benar takut karena salah. Salah satu pesan orangtua dulu adalah: Narekko mateko rilalenna tongengnge, mate risantangikotu mbe (Jika kau mati dalam mempertahankan kebenaran, maka matimu berada dalam kelezatan [mati dalam santan]).

 

g. Kesabaran

Kesabaran adalah sifat istimewa yang banyak ditemukan dalam elong. Ungkapan yang satu ini sungguh mengagumkan di mana kesabaran disandingkan dengan sifat syukur, yaitu: Sabbarakko musukkuru mugalung tokalola muwallongi-longi (Sabbarako mupakkessingi atimmu sukkuruki pammasena puwangnge, musogi mallongi-longi.) Artinya: Bersabarlah dan bersyukur (atas karunia Allah), niscaya suatu saat kau akan menjadi kaya raya. Itulah sebabnya Topanrita’e (ulama) membagi kesabaran menjadi tiga jenis: (1) Assabakeng tururi parentana Puang Dewata Seuwwa’e, (2) Assabbarakeng niniriwi pappesangkana, dan (3) Asabbarakeng pole ripeddi’e. Artinya: (1) Kesabaran dalam menuruti perintah Tuhan, (2) Kesabaran dalam menjauhi larangan-larangannya, dan (3) Kesabaran dalam menahan pedihnya musibah. Sedangkan Peddie (pedih) dibagi menjadi tiga pula, yaitu: (1) amatengeng, (2) abangkarukeng,dan (3) dooko. Artinya: (1) musibah kematian, (2) musibah kebangkrutan, dan (3) musibah penyakit yang menimpa diri.

 

h. Kasih sayang

Mewujudkan perasaan saling menyayangi adalah idaman setiap keluarga dan masyarakat. Ini dapat kita renungkan elong berikut ini: Iyasiya minasakku pattana waliengngi assimellerengnge(Iyasiya teppaja uwammenasai passibali-baliengngi assipojingnge). Artinya: Masalah yang tak pernah pupus dari idamanku adalah terwujudnya perasaan saling menyayangi di antara kita.

 

i. Rajin

Orang Bugis sangat memuji sifat rajin dan amat mencela orang malas. Mari kita perhatikan elong berikut ini:Engkako ritu sompereng deceng munawa-nawa lise’pa murewe (Mabelakotu lao sappa’i decengnge, iyapa mulisu mulolongeppi muwakkattaiyye). Artinya: Kau telah pergi jauh mencari kebaikan (keberuntungan), janganlah kembali sebelum dicapai apa yang dicita-citakan. Kemudian elong lainnya berbunyi: Massimangnga nasorei paddare sedde bola passiring dapureng (Massimangnga nalettuki tau makuttu namabuaja). Artinya: Saya benar-benar tidak dapat menerima lamaran seorang lelaki pemalas dan doyan makan.

 

j. Kerjasama

Elong yang menyandarkan tentang kebaikan kerjasama dapat kita perhatikan berikut ini:Sipanrasa-rasa memeng jemma’e inappa’e siempe’ maberre’ (Pada resomemengpa tauwwe inappa’e silolongeng sitiwi lao rimadecengnge, rialebbirengnge).Artinya: Dengan kerjasama yang baik, orang-orang akan bersama-sama memeroleh kebaikan, keberuntungan dan kemuliaan). Kerjasama sangat disadari kebaikannya oleh masyarakat Bugis.

 

Contoh Elong Ugi:

 

LabuniEssoe


Labuni essoe turunni uddanie
Wettunnani massenge’ ri tau mabelae

 

Telah rembang petang telah datang kenangan

Saatnya kukenang tentang angkau di kejauhan

 

Mabelani laona tengnginana taddewe’
Tekkarebanna pole, teppasenna pole

 

Sungguh jauh engkau pergi melupakan pulang

Tak ada kabar datang, tak ada pesan datang

Waseng magi muonro ri dolangeng
Temmulettutona temmurewetona

 

Gerangan mengapa engkau tinggal di angan-angan

Sampai tak sampai, kembali tak kembali

Iyami ripuada idi tea iyya tea
Idi temmadampe iyya temmasenge
Idi temmadampe iyya temmasenge

 

Begini saja kita katakan: engkau tak ingin, aku tak ingin

Engkau tak menyebut namaku, aku melupakan namamu

Engkau tak menyebut namaku, aku melupakan namamu

 

Ajamua mupakkua menreppa ri cempae
Uanrei buana na mecci elo’mu
Uanrei buana na mecci elo’mu

 

Tetapi janganlah engkau lakukan, jika kupanjat pohon asam

Dan aku cicipi buahnya akan mengalir air liur dari bibirmu

Dan aku cicipi buahnya akan mengalir air liur dari bibirmu

 

Mecci elo manre cempa
Waena kalukue mappasau-sau dekka
Waena kalukue mappasau-sau dekka

 

Jika kering liurmu ingin mencicipi buah asam

Segelas air kelapa menghapus seluruh haus

Segelas air kelapa menghapus seluruh haus

 

Artinya:

Telah Rembang Petang

Bait pertama pada elong tersebut diungkapkan, labuni essoe, turunni uddanie berarti  mata hari  telah terbenam, dan mulai masuk waktu petang. Saat seperti itu biasanya kenangan datang menghampiri orang-orang yang terpisah dengan orang yang dikasihinya. Hal itu tampak pada ungkapan    Wettunnani massenge,  ri tau mabelae”  : ‘saatnya kukenang tentang engkau dari kejauhan’.

Selanjutnya bait  kedua dingkapkan lagi, mabelani laona tengnginana taddewe, berarti: sungguh jauh ia telah  pergi,  tak mau kembali lagi’;  Hal itu dibuktikan dengan ungkapan Tekkarebanna pole, teppasenna pole, artinya: ‘ kabarnya tak ada,   pesan pun tak ada’. Maksud pelantunnya, seseorang yang dikasihinya telah pergi jauh, tak akan pernah kembali lagi, baik berupa kabar, maupun  pesan tak pernah ada.

Lebih lanjut pada bait ketiga:, waseng magi muonro ri dolangeng, artinya:’ mengapa gerangan engkau tinggal di angan-angan’; temmulettutona temmurewetona”, artinya: ‘engkau tak sampai, juga  tak kembali’. Maksudnya:  mengapa gerangan engkau tinggal dalam angan-angan, engkau tak pernah sampai, begitu pula tak pernah kembali.

Bait keempat:, diungkapkan lagi iyami ripuada idi tea iyya tea, artinya: ‘begini saja kita katakan; engkau tak ingin, aku juga tak ingin’.“ Rupanya pelantun elong ini sudah mulai tidak menunjukkan kesabarannya, lalu dikatakan, kalau engkau tidak mau saya juga tidak mau. Lebih lanjut dikatakan  lagi, idi temmadampe iyya temmasenge, artinya: ’engkau tak menyebut namaku, aku melupakan namamu’. Maksudnya,  bila engkau tak menyebut namaku, aku juga akan  melupakanmu. Larik ini menunjukkan ciri khas masyarakat Bugis masing-masing ingin menunjukkan jati dirinya. Larik ini diulang dua kali agar lebih jelas maksudnya.

Selanjutnya, dalam bait kelima diungkapkan, ajamua mupakkua menreppa ri cempae artinya:  janganlah engkau berbuat seperti itu, jika kupanjat pohon asam; uanrei buana na mecci elo’mu, ‘artinya:   aku cicipi buahnya akan mengalir air liur dari bibirmu’; uanrei buana na mecci elo’mu. Bait ini memiliki makna simbolik. Pohon asam itu tinggi dan besar. Hal ini diibaratkan pada seseorang yang memiliki kedudukan yang tinggi,  banyak orang yang tergiur melihatnya. Maksud bait ini adalah manusia tidak boleh bebuat seenaknya terhadap sesamanya, apalagi terhadap orang yang pernah dikasihinya. Tidak menutup kemungkinan orang yang tersakiti menjadi  orang yang hebat dan berkedudukan tinggi sehingga menjadi terpandang di masyarakat.

Bait keenam, diungkapkan mecci elo manre cempa, jika meleleh air liurmu ingin mencicipi buah asam, dilanjutkan dengan ungkapan waena kalukue mappasau-sau dekka, ‘segelas air kelapa akan menghapus seluruh dahaga, waena kalukue mappasau-sau dekka Larik ini diulang dua kali dengan maksud lebih mempertegas maksudnya.  Ungkapan ini juga memiliki makna simbolik. Maksud sebenarnya adalah, suatu ketika orang yang ditinggal itu berhasil menjadi orang terpandang pasti engkau akan tergiur melihatnya. Penawar ketergiurannya itu adalah mencari sesuatu yang dapat menyenangkan hati juga.

  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: