UNPATTI

MAKALAH DARI UNIVERSITAS PATTIMURA, AMBON

 

  1. A.  Latar Belakang

Bangsa Indonesia adalah bangsa yang terdiri atas berbagai suku bangsa dan budaya yang berbeda-beda. Pada dasarnya perbedaan suku bangsa dan adat istiadat itulah yang menjadi suatu kebanggaan dan kekayaan budaya bangsa. Hal ini dapat dilihat pada masyarakat yang hidup di daerah pedesaan yang tidak dapat dipisahkan dari ikatan adat. Mereka masih hidup dalam kebiasaan adat secara turun temurundan selalu memelihara dan mengembangkannya dalam kehidupan bermasyarakat. Segala kegiatan dan interaksi yang terjadi di masyarakat pedesaan tidak terlepas juga dari kondisi lingkungan tempat manusia itu selalu melakukan kegiatan atau aktivitas.

Sebagai bagian dari kebudayaan, bahasa daerah dijamin keberadaannya dalam UUD 1945 Bab XV Pasal 36, yang menyatakan bahwa didaerah-daerah yang mempunyai bahasa sendiri yang dipelihara oleh rakyatnya baik-baik, (misalnya, Bahasa Jawa, Bahasa Sunda, Bahasa Madura dsb), bahasa-bahasa itupun merupakan bagian dari kebudayaan

Indonesia yang hidup. Walaupun telah dituangkan kedalam UUD 1945 serta dijamin keberadaannya oleh pemerintah, tetapi perspektif masyarakat di salah satu daerah di Indonesia yaitu Maluku terhadap penggunaan bahasa daerah sangat memprihatinkan. Generasi muda dewasa ini mulai jarang menggunakan bahasa daerah dibandingkan dengan orang tua. Salah satu faktor yang mempengaruhi hal tersebut adalah penduduk, pekerjaan dan mata pencaharian.

Hal ini dapat dilihat pada salah satu negeri di Maluku yaitu Negeri Amahai. Berdasarkan informasi yang dihimpun dari beberapa pemerintah negeri atau saniri dalam proses observasi awal, saat ini hanya beberapa orang yang masih menguasai bahasa daerah secara utuh. Hal ini terjadi karena kurang adanya transformasi dan perspektif dari generasi muda sendiri untuk mempelajari bahasa daerah tersebut. Tentu saja kenyataan ini berdampak kurang baik terhadap proses pewarisan budaya kepada generasi berikutnya. Bila hal semacam ini terus menerus dibiarkan, maka tidak mengherankan lagi suatu saat budaya didaerah Maluku akan punah.Kebanyakan generasi muda hanya menikmati bahasa daerah lewat upacara-upacara adat, seperti upacara pelantikan pejabat negeri setempat dan juga pada upacara perkawinan adat. Namun yang sangat disayangkan, generasi muda hanya dapat menikmati tanpa mengetahui makna yang terkandung dalam bahasa tersebut.

Berbicara mengenai bahasa daerah dan adat istiadat, ada satu hal yang berkaitan erat dan tidak dapat dilepaspisahkan, yaitu sastra. Salah satu alasannya yaitu karenaciri khas pengungkapan bentuk pada sastra adalah bahasa, sebab bahasa adalah bahan utama untuk mewujudkan ungkapan pribadi di dalam suatu bentuk yang indah.Dalam bahasa yang sangat se­derha­na, sastra dapat dipahami sebagai cara ma­nusia mengeks­pre­sikan pengalaman batinnya tentang rasa senang, sedih, dicintai atau merasa marah karena sebuah penolakan atau pengingkaran.

Di Indonesia, sastra lisan merupakan kekayaan budaya yang sangat penting, hingga sekarang sastra lisan masih tetap diciptakan dan dihayati oleh masyarakat. Begitu pula di daerah Maluku, sastra lisan juga cukup berperan. Hal ini ditemukan di Negeri Amahai, Kecamatan Amahai, Kabupaten Maluku Tengah.  Sastra lisan disana memiliki keberadaan yang berkaitan erat serta berpengaruh dalam kehidupan masyarakat setempat, walaupun tak banyak masyarakat yang mengetahui lebih dalam apa makna dari sastra lisan tersebut.

Salah satu sastra lisan yang cukup dikenal masyarakat pada umumnya yaitu nyanyian rakyat atau yang disebut Kapata oleh masyarakat setempat. Ada beberapa jenis kapata di Negeri Amahai, yaitu Kapata Hasurite, Kapata Cakalele, Kapata Totobuang, Kapata Mainoro atau Maku-Maku, dan Kapata Wele-Wele. Kapata ini sering digunakan dalam upacara-upacara adat seperti pelantikan pejabat negeri, seperti Raja, Kepala Soa, dan Saniri Negeri. Namun tak banyak masyarakat yang mengetahui dan memahami makna dari kapata tersebut. Ada sebagian masyarakat yang bisa menyanyikannya namun tidak memahami maknanya. Ada pula dari mereka yang juga mengetahui maknanya, meskipun hanya tinggal beberapa orang.

Kapata ini memang terlihat ha­nya berupa kumpulan dari bunyi dan lambang bunyi,

te­tapi dibalik simbol-simbol bunyi ini tersimpan cerita, se­mangat, ajaran, dan nasehat yang sangat penting untuk generasi masyarakat berikutnya.Keberadaan kapata sendiri memiliki fungsi dan peranan yang sangat penting. Maka perlu adanya upaya kearah penyelamatan terhadap sastra lisan ini. Upaya peneyelamatan ini bertalian pula dengan kurangnya minat generasi muda terhadap sastra lisan dan langkanya penelitian yang dilakukan. Walaupun pada umumnya masyarakat setempat berpandangan bahwa kapata adalah bentuk komunikasi yang sakral, sehingga ada sikap segan atau pun takut terikat dengan hal-hal yang berhubungan dengan adat terutama dalam berkapata.

  1. B.     PengertianKapata

Kapata adalah salah satu bentuk khusus yang dapat dilagukan. Biasanya dilagukan oleh tua-tua adat pada upacara pelantikan raja (kepala desa), upacara

perkawinan dan lain-lain.  Bahasa yang digunakan pun sukar dipahami oleh orang

awam, yang dalam istilah bahasa melayu Ambon ‘Bahasa Tana’ (Kasihuw dkk, 1992:126).

Lebih luas menurut Lelapary (2011:18), kapata yaitu bentuk bahasa yang secara khusus digunakan oleh masyarakat dalam upacara adat, dengan irama tertentu, tersusun dalam larik-larik dan disampaikan dalam bentuk monolog maupun dialog.

Setiap desa di pulau Ambon dan Lease mengenal kapata juga. Nyanyiannya hampir sama, namun yang berbeda hanya kata-kata yang berkaitan dengan nama desa menurut bahasa tana serta sesuai jenis upacaranya. Dalam menyanyikannya pun, sering disebut pula nama negeri sesuai bahasa tananya (Kasihuw dkk, 1992:127). Misalnya, Amahai dengan nama negeri sesuai bahasa tananya yaitu Lounusa Maatita.

Bahasa tana sendiri adalah bahasa daerah yang digunakan dalam upacara-upacara adat yang bernilai sakral yang tak dapat diketahui atau di mengerti oleh orang lain (Kasihuw dkk, 1992:128). Sedangkan Frans (Lelapary, 2011:18) mendefinisikan bahasa tana sebagai bahasa budaya yang biasa dipakai sebagai alat komunikasi dalam konteks budaya adat istiadat di Maluku Tengah, seperti dalam upacara-upacara adat panas pela dan gandong, upacara pelantikan raja atau upacara perkawinan adat.

Beberapa ciri kapata yang teridentifikasi antara lain merupakan fenomena foklor lisan yang mengandung nilai-nilai budaya Maluku Tengah, masih di wariskan secara lisan, memiliki banyak varian, dan mempunyai kegunaan bagi kelompok-kelompok masyarakat Maluku Tengah (Lelapary, 2011:18).

Di Maluku Tengah, khususnya Negeri Amahai, dikenal ada 5 bentuk kapata antara lain :

1)      Kapata Hasurite

Kapata hasurite adalah kapata yang digunakan atau dinyanyikan untuk

memanggil para nenek moyang Negeri Amahai untuk turut ambil bagian dalam upacara tersebut dan kemudian di kembalikan ke tempat asal mereka.

2)      Kapata Cakalele

Kapata cakalele adalah kapatayang digunakan atau dinyanyikan ketika acara berlangsung. Dulu  kapata ini lebih dikenal sebagai kapata yang digunakan dalam peperangan.

3)      Kapata Totobuang

Kapata totobuang adalah kapata yang dinyanyikan ketika totobuang didendangkan.

4)      Kapata Mainoro/Maku-Maku

Kemudian kapata mainoro atau maku-maku adalah kapatayang dinyanyikan bersamaan dengan tarian maku-maku yang di mainkan oleh masyarakat setempat.

5)      Kapata Wele-Wele

Kapata wele-wele yaitu kapata yang dulu sering digunakan para orang tua ketika sedang mencari nafkah seperti nelayan atau pun petani. Mereka sering menyanyikannya sebagai penghibur, penghilang lelah, dan yang terutama sebagai pengucapan syukur kepada Yang Maha Kuasa atas berkat yang telah mereka terima. Kapata ini lebih ramai dinyanyikan secara

berbalas-balasan ketika musim panen tiba. Namun sayangnya, kapata wele-wele ini hampir punah. Yang mengetahui dan mengerti hanya sisa beberapa orang. Hal ini disebabkan juga karena kapata ini bukanlah kapata formal seperti kapata-kapata lainnya diatas. Kapata ini hanya secara spontan keluar dari mulut para orang tua dahulu untuk saling menghibur berbalas-balasan satu dengan yang lainnya.

  1. Nilai Yang TerkandungDalamKapata

Dalamkapataterdapatnilai yang terkandung di dalamnya.Nilai-nilaiitumencakupnilaiadatistiadat, nilaikebersamaan, nilai moral, nilaisejarahdanjuganilai-nilailainnya yang bermanfaatbagisetiappendengar yang mendengarkankapata-kapatadanjugabermanfaatbagigenerasipenerus.selainitujugaterdapatfungsidarikapataataunyanyianrakyatyaknimenurutDanandjaya, fungsinyanyianrakyatsebagaisalahsatu genre folklorlisandapatdikelompokanmenjadiempatmacamfungsiutamayaitu, (1) fungsireaktifataufungsipelipurlara, (2) fungsipembangkitsemangatdalambekerja, (3) fungsipemeliharasejarah, baiksejarahklanataumasyarakat, dansebagainya, dan (4) fungsisebagaisaranaprotes social.

Berikutiniadalahcontohdarimasing-masingkapata

 

       I.            Kapata Hasurite

 

  1. Soei tunia hei lete, hei lete hei lete nunusaku O nunusaku O

Yasa sama wai latelu O, wai latelu O, manabuse wai la tala O

Wai la tala O

Sae leoewe wai la eti O, wai la eti O, ipasulia sapalewa O

Artinya :

Dari sana mengalir, mengalir dari nunusaku

Tiga batang air mengalir bersama-sama

Dari pusat tiga batang air, mengalir sungai tala,

Datang juga sungai eti, kelihatan pula sapalewa

  1. Nunusaku sama pela, sama pela O upu ama lepa pela, lepa pela O

Wai la telu sama pela, sama pela O eti tala sapalewa, sama pela O

Artinya :

Dari nunusaku/pusat pulau datuk-datuk telah letakan dasar hidup

Tinggalkan janji untuk anak cucu

Dari satu mata air mengalir sungai tala eti sapalewa

 

    II.            Kapata Cakalele

 

  1. Tutua hei lete, hei lete (2x)

Hei lete nunusaku O, nunusaku O (2x)

Artinya :

Dari dahulu di tempat yang tinggi

Tempat tinggi itu di Nunusaku

  1. Yale sei na hari hatu O, hari hatu O (2x)

Hari hatu lesi peme O, lesi peme O (2x)

Artinya :

Sapa balik batu, batu balik tindis dia

  1. Upu Ama Karu Pela, Karu Pela O (2x)

Upu Ama Lepa Pela, Lepa Pela Nia (2x)

Artinya :

Datuk-datuk sudah meletakan dasar hidup kita

Datuk-datuk sudah tinggalkan janji bagi kita

  1. Kuako nemorina, nusa nemorina O (2x)

Kuako lori-lori, nusa lori-lori O (2x)

Nemorina wape, nua la hata O (2x)

Artinya :

Bila tanjung kuako tenang, maka segenap pulau tenang

Bila tanjung kuako bergolak, maka segenap pulau bergolak

Bila ketenangan terganggu, maka kali noa akan banjir darah

  1. Lounusa bubu lete, bubu lete (2x)

Bubu lete wai patola O, wai patola O (2x)

Artinya :

Negeri Lounusa berkedudukan tinggi

Dan selalu siap siaga sebagai seekor ular patola

  1. Lounusa paikole, paikole (2x)

Paikole ni malesy, manu malesy O (2x)

Artinya :

Negeri Lounusa seperti seekor burung paikole

Burung paikole terkenal dengan kegesitannya

  1. Lounusa nahu nahu O, nahu nahu O (2x)

Lounusa resi resi O, resi resi O (2x)

Artinya :

Negeri lounusa akan menyerang setiap ancaman

Yang mengancam keselamatan negeri Lounusa

  1. Yana seiina nenu yami O, nenu yami O (2x)

Nenu yami pana nuku O, pana nuku O (2x)

Artinya :

Bersatulah kita semua

Dan galanglah kekuatan kita

 III.            Kapata Totobuang

 

  1. Jano e maa ta sue e njanailo

Manusia e maa ta kahu rai e budi

Budi to hadat to

Sei ni tehe e sei

Artinya :

Ikan mati karena umpan

M anusia mati tinggalkan budi dan jasa

Adat dan rasa kasih melahirkan

Cinta saudara bersaudara setanah air

  1. Mae pisi eko yane ia ou ouro

Hekai jane ia rahi rahiro

Artinya :

Mari kita bersatu seperti ikan sembilan

Ikan sembilan tidak akan mau berpisah satu sama lain

  1. Epira jo pisi eko hi iro hala lo

Emisi jo pisi eko nihi elo

Artinya :

Berat ya sama-sama kita pikul

Ringan ya sama-sama kita jinjing

 

 IV.            Kapata Mainoro/ Maku-Maku

 

  1. Nunu e nunu e nunusaku nunu we

Nunusaku nusa ina nunusaku nunu we

Nunusaku sama pela nunu siwarima wo

Nunusaku samahite lounusa nunu we

Artinya :

Beringin beringin sakti beringin e

Beringin sakti sudah tiada beringin sakti e

Nunusaku dari sana kami terpencar menjadi patasiwa patalima

Beringin sakti jadi sejarah kumpul semua orang

  1. Marihuni kakawaru lua lua lumute

Susu patania yana siwarima wo

Kamu kamu lumute kuru lena lena

Lena tone tanah waile pele pele O

Artinya :

Marihuno memerintah di Lua Lua Lumute

Anak-anak patasiwa patalima merasa susah

Kamu-kamu di Lumute membuat orang lari turun

Turun ke tone tanah lalu membangun tempat tinggal disana

 

    V.            Kapata Wele-Wele

 

  1. Mututene batek, mututene koderange

Tene badan pise eko

Artinya :

Kain ikat pinggang dengan hiasannya

Pengikat badan kita sekalian

  1. Aleeeeee…… musi e……. musi toma hua buti e…….

Ale nunu tuawa buti…..

Ale huwa buti ne musi sira

Ale paka lasa buti pake lasa nimaliga nia

Siwa hei hale sisa iye naka

Sisa iye naka, naka lori lori jo

Upu kupania lewe matuwane e

Matuwane lete lete koli koli O

Hei hale urolo, awa lena nalahuno

Ahuralo awa susu e aele kawa

Aele maaruru

Inta lounusa maatita longsa maata

Artinya :

Aleeee… angkat lagu…. angkat lagu tahan e……

Ale yang kamuka orang yang tua

Ale angkat dendang lagu terima kasih

Ale goso-goso kaki ni parenta datang

Sembilan pergi ada yang tinggal jaga e

Tuhan yang tinggi pimpin perjalanan O

Sapa ke urolo, beta jalan ke nalahuno

Kalo ke ahuralo lewat air kawa

Dan maruru

Negeri Lounusa maatita kumpul katong samua e

  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: