UNS 2

NILAI FILOSOFIS MOTIF BATIK JAWA DAN EKSISTENSINYA DI TENGAH MASYARAKAT MODERN AKIBAT GLOBALISASI

 Disusun oleh :Dwi Hening Rahayu / Ema Andriyani

 JURUSAN SASTRA DAERAH, FAKULTAS SASTRA DAN SENI RUPA

UNIVERSITAS SEBELAS MARET

SURAKARTA, 2012

BAB I

PENDAHULUAN

  1. A.    Latar Belakang Masalah

Batik merupakan salah satu hasil budaya lokal yang tetap eksis sampai saat ini dan tidak tergeserkan oleh perkembangan zaman yang semakin modern. Pada perkembangannya batik tidak hanya digemari oleh kaum wanita saja akan tetapi kaum laki-laki juga tidak kalah, karena dengan perkembangan zaman ini semakin menambah inovasi-inovasi baru terhadap motif dan model batik. Kata batik sendiri berasal dari kata “tik” yang artinya “titik” karena hakikatnya “batik” adalah “bertitik” jadi membatik adalah membuat bertitik. Kain batik merupakan kain yang dilukis dengan garis-garis dan titik-titik yang dirangkai (Imam Sutardjo, 2008: 141). Titik ini dalam bahasa Jawa disebut “cecek” yaitu bagian penting dari batik. Membatik merupakan proses awal terbentuknya batik, batik sendiri awal mulanya dibuat dengan cara ditulis sehingga disebut batik tulis. Selain batik tulis karena perkembangan zaman muncul batik cap yaitu batik yang cara pembuatannya dengan cara dicap, serta muncul inovasi lagi menjadi batik kombinasi yaitu perpaduan antara tulis dan cap. Membatik pada dasarnya sama dengan melukis, hanya memiliki perbedaan pada alat dan medianya, di dalam melukis menggunakan media kanvas sebagai las lukisnya, dan kwas sebagai alat tulisnya serta cat sebagai tintanya. Sedangkan dalam membatik menggunakan media kain sebagai alas tulisnya, canting sebagai alat tulisnya serta malam sebagai bahan tintanya.

Perkembangan zaman yang semakin modern membuat inovasi baru pada motif batik, yang dulu lebih bernuansa tradisional sekarang berubah menjadi lebih modern. Batik banyak digunakan pada baju, selendang, jaket, selendang, dan yang paling tradisional batik dulunya dipakai sebagai motif pada kain jarik. Jarik merupakan kain panjang berwarna latar hitam dan corak batik warna coklat dengan motif beraneka.  Kain jarik ini disebut juga jarit.  Pada masa lalu nyamping atau jarik yang digunakan biasanya berupa batik tulis, tetap karena perkembangnnyai  untuk saat ini rupanya tidak jarang pula dipergunakan batik cap. Jarik yang bercorak batik mempunyai maksud bahwa jarik batik adalah kostum yang dipakai para kesatria dalam tradisi budaya Jawa (Pakaian kejawen). Dengan memakai kostum berupa jarik ini diharapkan para pemain mempunyai jiwa ksatria dan berwibawa.

Seni batik merupakan bentuk seni budaya yang kaya akan nilai kehidupan manusia dan alam lingkungan. Motif adalah pola atau bentuk. Batik memiliki macam motif yang memiliki nilai filosofi atau pandangan hidup, yaitu diantaranya motif batik Sido luhur, Sido mukti, sido asih, sido drajat, dan sebagainya..

  1. B.     Rumusan Masalah
  2. Apakah definisi batik? Dan apa sajakah motifnya serta nilai filosofis yang terkandung dalam setiap motif batik jawa tersebut?
  3. Bagaimana eksistensi batik ditengah masyarakat modern akibat globalisasi?
  1. C.    Tujuan Penulisan
  2. Untuk mengetahui macam-macam motif batik yang ada, serta untuk mengetahui nilai filosofis yang terkandung di dalam motif batik jawa tersebut.
  3. Agar dapat diketahui sampai dimana eksistensi batik ditengah masyarakat modern akibat globalisasi.
  1. D.    Manfaat Penulisan.
    1. Manfaat Teoritik

Memberikan informasi dan mendeskripsikantentang batik.

2.     Manfaat Aplikatif

a. Meningkatkan pengetahuan masyarakat tentang perkembangan dan motif batik

b.  Memberikan wawasan kepada masyarakat tentang nilai filosofi yang terkandung di  dalam motif kain batik.

c.  Memberikan pengetahuan kepada masyarakat tentang keberadaan kain batik  ditengah masyarakat modern akibat globalisasi.

3.     Manfaat Praktis

Penulisan makalah ini memiliki manfaat sebagai inventarisasi bagaimana pemaparan tentang batik dan motifnya sehingga hasil paper ini dapat dijadikan sebagai sumbangan untuk menambah referensi tentang penjelasan tentang batik dan motifnya. Sehingga dari makalah ini diharapkan dapat mejadi relevansi dan referensi bagi penulisan makalah selanjutnya.

BAB II

KAJIAN TEORI

 

Berbagai penelitian mengenai nilai filosofis motif batik dan eksistensinya di kalangan masyarakat modern yang telah dilakukan oleh beberapa pihak. Hasil-hasil penelitian tersebut dapat dimanfaatkan sebagai bahan-bahan referensi untuk teori dalam berbagai kajian. Yohanes Surya dalam bukunya “Fisika Batik” menuturkan bahwa batik sebagai objek estetika berpola memiliki tata aturan penggambaran pseudo-algoritmik yang dapat diperlakukan sebagi bentuk seni generatif yang memiliki kegunaan :

–          Memberikan sumbangan dan inspirasi kepada peradaban umat manusia, khususnya perkembangan dalam karya seni generatif.

–          Mendorong dan memperluas eksplorasi dan apresiasi atas batik sebagai bagian dari seni tradisi Nusantara Indonesia.

–          Penelitian tentang aspek fraktalitas secara umum mendorong penggalian lebih jauh tentang aspek kognitif terkait cara pandang dan kebijaksanaan masyarakat terdahulu kita tentang alam dan masyarakat. Mengingat eratnya kaitannya antara seni dan sains sebagaimana ditunjukkan dalam sejarah perkembangan dan sejarah sains modern (2009: 36).

Batik memiliki asal mula yang dimulai melalui makna yang berarti dari setiap katanya.Komarudin Hidayat (2008:79), menurut sejarahnya, kata batik berasal dari bahasa jawa “amba” yang bermakna menulis dan kata “titik”. Para pedagang dari India mengenalkan batik kepada Bangsa Jawa, selanjutnya bangsa Jawa mengembangkan teknik membuat batik. Batik merupakan kerajinan seni rupa yang memiliki nilai seni tinggi dan telah menjadi bagian dari budaya Indonesia, khususnya Jawa. Sejak lama hingga sekarang batik yang sangat terkenal di dunia adalah batik dari Indonesia, terutama dari Jawa.

Menurut Imam Sutardjo, dalam seni batik, segala kejadian atau peristiwa kehidupan kehidupan alam dan lingkungan dapat mendatangkan ilham bagi desainer batik. Batik itu mempunyai falsafah atau pandangan hidup di setiap yaitu makna jalan hidup manusia Indonesia banyak yang diungkapkan dalam motif batik atau jarik.

Motif batik yang kita kenal yaitu dengan berbagai macam corak dan warna pada motifnya. Tetapi menurut Ronggojati Sugiyatno, corak batik yang masih autentik (asli) yang ada sejak tahuan 1980-an, dibagi menjadi tiga yaitu

  1. Parang

Dipakai oleh orang-orang tertentu, biasanya digunakan ketika mempunyai acara-acara besar.

  1. Byur

Motif ini biasanya dipakai oleh masyarakat pada umumnya. Contohnya : motif batik yang dipakai di pasar, dipakai untuk mban-mbanan.

  1. Latar

Dipakai untuk sebuah keperluan tertentu. Contohnya seperti pada acara pernikahan menggunakan motif truntum latar ireng, artinya sesusah susahnya keadaan, masih ada yang membantu yaitu Allah.

BAB III

METODOLOGI PENELITIAN

 

Di dalam penelitian kali ini, kami menggunakan tiga metode penelitian. Yaitu diantaranya: Metode kepustakaan, metode wawancara, dan metode deskriptif.

  1. A.    Metode Kepustakaan

Penelitian Kepustakaan (library research) yaitupenelitian yang dilaksanakan dengan menggunakan literature (kepustakaan), baik berupa buku, catatan, maupun laporan hasil penelitian terdahulu. Di dalam metode ini kami sangat memanfaatkan sarana perpustakaan di Universitas Sebelas Maret Surakarta dan buku online.

Dalam penyusunan makalah ini menggunakan beberapa macam judul buku, yaitu

  1. Kajian Budaya Jawa, pengarang Imam Sutardjo.
  2. Reiventing Indonesia, Menemukan Kembali Masa Depan Bangsa, pengarang Komarudian Hidayat.
  3. Pustaka Keris Vol.23. 2011.
  4. Fisika Batik,pengarang Yohanes Surya.
  5. Sosiologi SMA/MA Kelas XII Jilid 3,pengarang Kun Maryati.
  6. Seni Budaya dan Ketrampilan Kelas 5 SD,Pengarang Sri Murtono.

 

  1. B.     Metode wawancara

Wawancara  terstruktur  adalah  wawancara dengan menggunakan daftar pertanyaan yang telah disiapkan sebelumnya. Pertanyaan yang sama diajukan kepada semua responden, dalam kalimat dan urutan yang seragam.

Dalam metode ini kami berusaha mencari narasumber yang kompeten dalam masalah batik. Ada 2 narasumber yang kami jadikan sebagai sumber referensi penyusunan makalah ini,yaitu sebagai berikut,

  1. Imam Sutardjo, Dosen Sastra Jawa, FSSR, UNS
  2. Ronggojati Sugiyatno, budayawan dari Solo

Wawancara yang dilakukan mengenai sejarah dari batik, nilai filosofis motif batik dan eksistensi batik di tengah masyarakat modern.

  1. C.    Metode Deskriptif

Penelitian Deskriptif (descriptive research)adalah penelitian yang diarahkan untuk memberikan gejala-gejala, fakta-fakta atau kejadian-kejadian secara sistematis dan akurat mengenai sifat-sifat populasi atau daerah tertentu. Atau dalam dalam kata lain metode deskriptif sering kita kenal sebagai metode dimana didalamnya berbentuk penggambaran atau menggambarkan, menguraikan, menjabarkan tentang objek yang dimaksud.

BAB IV

PEMBAHASAN

  1. A.    Definisi batik dan Nilai Filosofis Setiap Motif Batik Jawa

Batik merupakan hasil karya seni rupa yang dibuat dengan motif hias yang beragam. Oleh karena itu, motif dari setiap lembar kain batik tulis tidak ada yang sama persis. Perbedaan timbul dalam proses pembuatannya dilakukan secara bergantian(Sri Murtono, 2007 : 80). Motif batik memiliki nilai filosofis tersendiri. Secara filosofis, motif batik memiliki fungsi dan kegunaan masing-masing sesuai dengan kebudayaan daerah di mana motif tersebut muncul dan berkembang. Termasuk batik Jawa yang menyebar dan berkembang di berbagai daerah di Indonesia memiliki nilai filosofis yang beragam.

Di Surakarta dan Yogyakarta, motif batik berhubungan dengan makna filosofis dalam kebudayaan Hindu-Jawa, juga Budha-Jawa. Yuni Sugandini dalam Batik Warisan Budaya Indonesia yang Bernilai Luhur menuliskan, beberapa motif dianggap sakral dan hanya dipakai di lingkungan keraton dan pada kesempatan tertentu.

Beberapa ragam motif batik dan makna filosofinya,

  1. Ciptoning

Ornamen hias berupa sisik/gringsing, wayang, parang dan gurdo. Simbol kebijaksanaan. Pemakainya pada zaman kerajaan, biasanya para pejabat pemerintahan dengan harapan agar bijaksana dlm mengatur negara.

  1. Parang

Simbol ketajaman berpikir, keberanian, kepemimpinan. Motif parang termasuk ragam hias larangan, artinya hanya raja dan kerabatya diijinkan memakai. Besar kecilnya motif parang juga menyimbolkan status sosial pemakainya di dalam lingkungan kerajaan. Parang Barong, merupakan parang paling besar, diatas 20 cm ukuran besarnya garis putih.

Untuk gaya putri Jogja yakni arah parang dari kiri atas ke kanan bawah. Untuk laki laki jogja, arah parang dari kanan atas ke kiri bawah. Untuk gaya surakarta, laki laki dan putri sama arahnya, yaitu dari kanan atas ke kiri bawah.

  1. Segaran candi baruna

Baruna merupakan dewa lautan, dewa yang mengajarkan makna hidup dan kehidupan kepada Bima dlm pencariannya mengenai hakiki hidup.  Motif ini menjadi kebanggaan raja raja di Pura Pakualaman.

  1. Abimanyu

Abimanyu merupakan putra Arjuna (Pandawa). Ia akan mempunyai keturunan (Parikesit) yang akan menurunkan ksatria yg menjadi raja-raja Jawa. Motif ini menyiratkan harapan agar pemakainya dapat memiliki sifat sifat ksatria seperti sang Abimanyu.

  1. Kawung

Motif Kawung berupa empat lingkaran atau elips mengelilingi lingkaran kecil sebagai pusat dengan susunan memanjang menurut garis diagonal miring ke kiri atau ke kanan berselang-seling. Melambangkan 4 arah angin atau sumber tenaga yang mengelilingi yang berporos pada pusat kekuatan, yaitu

–                      timur (matahari terbit: lambang sumber kehidupan)

–                      utara (gunung: lambang tempat tinggal para dewa, tempat roh/kematian)

–                      barat (matahari terbenam : turunnya keberuntungan)

–                      selatan (zenith : puncak segalanya)

Dalam hal ini raja sebagai pusat yang dikelilingi rakyatnya. Kerajaan merupakan pusat ilmu, seni budaya, agama, pemerintahan, dan perekonomian. Rakyat harus patuh pada pusat, namun raja juga senantiasa melindungi rakyatnya.

Kawung juga melambangkan kesederhanaan dari seorang raja yang senantiasa mengutamakan kesejahteraan rakyatnya. Motif ini juga berarti sebagai symbol keadilan dan kesejahteraan. Pada intinya motif kawung diartikan sebagai bentuk bulat lonjong atau elips.

  1. Udan Riris

Mengharapkan rejeki yang datang terus-menerus, meski tidak besar namun berlangsung secara berkesinambungan,  seperti halnya hujan gerimis yang telah memberi kehidupan di bumi sehingga biji-bijian dapat bersemai dan tumbuh menjadi tanaman untuk dimakan manusia (memberi kesejahteraan/prosperity). Arti kedua, menggambarkan perasaan yang tengah berduka seperti rintik rintik air hujan.

  1. Gringsing

Bentuknya seperti sisik ikan, di bagian tengah terdapat titik hitam. Menurut kamus Van der Tuuk, geringsing adalah nama pakaian wayang jaman dulu. Pada umumnya gringsing menunjukkan motif bintik hitam.

Warna geringsing adalah hitam dan putih. Makna warna hitam melambangkan kekekalan. Sedangkan warna putih lambang kehidupan. Keduanya bermakna sama dengan Bango Tulak. Motif ini dipakai sebagai penolak malapetaka

  1. Sekar Jagad

Sekar berarti bunga, Jagad berarti dunia. Ornamen motif ini berupa aneka bunga dan tanaman yang tumbuh di seluruh dunia, tersusun di dalam bentuk-bentuk elips.

Sekar jagad melambangkan luapan kegembiraan hati serta kebahagiaan. Oleh karena itu pada berbagai kesempatan acara keluarga, sering dipakai, misal pada pertunangan, wisuda, syukuran, dan sebagainya. Pada acara ijab kabul dipakai orang tua pengantin putri. Melambangkan kegembiraan hati orang tua karena putrinya telah mendapatkan jodoh.

  1. Sido Mukti

Berasal dari kata sido yang berarti jadi, menjadi atau terus menerus. Mukti berarti bahagia, sejahtera, berkecukupan. Motif ini melambangkan harapan suatu kehidupan masa depan yang baik, penuh kebahagiaan dan kesejahteraan yang kekal untuk pengantin tanpa melupakan Tuhan yang telah memberi kehidupan.

  1.  Sido Asih

Filosofinya adalah agar mendapatkan cinta kasih, welas asih. Bagus dipakai ketika prosesi pernikahan bagi kedua mempelai Asih artinya kasih sayang. Motif ini bermakna agar hidup rumah tangga kedua pengantin selalu dipenuhi rasa kasih sayang sehingga mereka selalu merasa bahagia dalam suka maupun duka.

  1. Sido Mulya

Mulya berarti mulia. Motif ini menyimbolkan harapan agar keluarga yang dibina akan terus menerus mendapat kemuliaan meskipun mendapat suatu kesulitan. Namun dengan doa dan usaha yang tekun serta sabar maka kesulitan tersebut akan teratasi. Mereka pun tetap diberi anugerah kemuliaan.

  1. Huk

Motif ini merupakan motif larangan, sebelum pemerintahan Sultan HB IX (1940-1988), hanya boleh dipakai putra mahkota dan Raja. Simbol bahwa sebagai pemimpin harus bertanggung jawab penuh pd rakyat.  diibaratkan seperti Burung Hantu yang tajam penglihatannya, meskipun malam menyelimuti kerajaan, seorang pemimpin tetap waspada mengayomi rakyatnya. Huk merupakan kata lain dari burung hantu.

  1. Sido Luhur

Luhur berarti luhur. Dengan mengenakan kain motif tersebut diharapan kedua pengantin selalu berbudi luhur.

  1. Grompol atau Grombol

Grompol dalam bahasa Jawa berarti berkumpul atau bersatu. Melambangkan harapan orang tua agar semua hal yang baik akan berkumpul, yaitu rejeki, kebahagiaan, kerukunan hidup, ketentraman untuk kedua keluarga pengantin. Selain itu, juga bermakna harapan supaya pasangan keluarga baru itu dapat berkumpul atau mengingat keluarga besarnya ke mana pun mereka pergi. Harapan yang lain agar semua sanak saudara dan para tamu akan berkumpul sehingga pesta pernikahan berjalan meriah.

  1. Tambal

Tambal dalam bahasa Jawa artinya menambal atau memperbaiki sesuatu menjadi lebih baik. Motif ini  merupakan perpaduan berbagai motif yang diilhami pakaian para pendeta yang terbuat dari kain bertambal.Dipercaya pakaian pendeta itu dapat melawan pengaruh-pengaruh jahat atau tolak bala.

  1. Slobog

Artinya agar longgar. bagusnya untuk melayat. jangan dipakai untuk menghadiri pernikahan, dianggap memujikan agar cepat menuju kematian.

 

B.  Eksistensi Batik di Kalangan Masyarakat Modern

Mengubah paradigma batik menjadi sesuatu yang berseni dan bernilai, mungkin masih dibatas awang-awang semata. Tidak ada yang salah dengan pendapat kecil ini. Jika kita melihat realitas yang terjadi saat ini, banyak orang memiliki perspektif bahwa memakai batik itu merupakan sesuatu yang kuno dan tak bermode. Bahkan, yang paling sering kita dengar bahwa batik itu hanya digunakan untuk acara resmi saja. Itu semua terbukti jelas di kalangan remaja Indonesia saat ini. Keberadaan pakaian-pakaian modern, seperti jas, tuxedo, dan lain sebagainya, perlahan-lahan mulai menarik perhatian para pemuda Indonesia untuk memilikinya. Dari sinilah awal dimana mereka menganggap batik itu sebagai hal yang menggelikan bagi diri mereka.Banyak orang anti terhadap budaya batik. rasa gengsilah yang selama ini menjadi alasan utama bagi mereka, hingga akhirnya mereka memiliki pandangan negatif seperti itu.

Batik sendiri berasal dari bahasa jawa ”amba” yang berarti menulis dan ”titik”. Dimulai sejak abad XVII, kata batik sangat identik sekali dengan golongan bangsawan. Sehingga tak heran, jika batik dianggap sebagai sesuatu yang bersahaja dan terhormat. Dan oleh karena itulah, batik memberikan kebanggaan tersendiri bagi si pemakainya.

Namun ketika bangsa ini mulai memasuki era globalisasi, perlahan-lahan keberadaan batik mulai memudar dari peredaran. Batik yang dulu digambarkan sebagai suatu kehormatan, kini seolah-olah digambarkan sebagai suatu yang kuno. Mungkin banyak dari kita tak sadar bahwa itu semua terjadi akibat ketidakpeduliaan kita terhadap keberadaan batik itu sendiri. Mungkin karena kita gengsi dengan teman-teman kita yang lain, kita pun berani memunculkan pandangan negatif seperti ini terhadap kehadiran batik. Dan hasilnya, kita pun semakin picik dengan kebudayaan kita sendiri. Bahkan  kita justru membanggakan budaya asing sebagai identitas diri kita. Keberadaan budaya haruslah menjadi bagian yang erat atas berdirinnya suatu bangsa. Sebab, di dalam budayalah ciri khas dan martabat bangsa itu terlekat.

Batik merupakan warisan leluhur bangsa Indonesia yang hingga kini masih mendapatkan tempat di hati masyarakat. Batik tetap terlihat istimewa di tengah persaingan segala hal yang modern. Khususnya pakaian yang banyak digunakan oleh masyarakat Indonesia belakangan dan berbagai modelnya yang kini sudah tertulari virus kebarat-baratan.

Bahkan dulu popularitas bahkan hampir tidak dikenal di dalam ruang lingkup masyarakat Indonesia karena batik dianggap sebagai kuno dan merupakan budaya yang hanya dipakai oleh orang tua saja. Tetapi untungnya, saat ini batik muncul dengan segala modelnya yang disukai oleh banyak masyarakat baik tua maupun muda bahkan dikenal di dunia.

BAB V

PENUTUP

 

  1. A.    Kesimpulan

Batik merupakan hasil karya seni rupa yang mempunyai makna atau nilai filosofis yang sangat tinggi. Berbagai macam motif dalam kain batik mencerminkan kehidupan manusia dan sangat erat kaitannya dengan cita-cita ataupun harapan yang diinginkan dalam kehidupan.

Menurut  Imam Sutardjo, jenis motif batik biasanya menggunakan nama-nama yang luhur, tinggi ataupun yang maknanya mulia. Misalnya batik bermotif sido luhur, sido mukti, truntum, dan jenthik manis.

Eksistensi kain batik kini didasarkan atas lingkungan dimana seseorang itu berada. Yaitu apabila di wilayah kraton masih berpegang pada yang baku dan yang sudah menjadi tradisi, sehingga memakainya tidak sembarangan. Tetapi apabila berada di tempat umum, biasanya sudah tidak memandang makna filosofis, yang penting adalah pantas untuk dipakai.Dengan adanya globalisasi, karya-karya batik dapat dimodifikasi atau dipadukan jika itu motif batik bermotif kontemporer. Tetapi apabila itu termasuk motif batik pakem atau baku, maka enggan untuk dimodifikasi.

Dalam perkembangannya batik sekarang ini berkembang lebih modern. Dimana hal itu dicontohkan dengan adanya inovasi dengan diadakannya seminar di UNS, suatu bentuk kerjasama antara UNS dengan Jepang yang diwujudkan dalam batik kimono. Batik kimono adalah pakaian tradisional jepang yang diinovasi dengan motif batik.

  1. B.     Saran

Dari hasil penelitian ini, penulis memberikan beberapa saran yaitu yang pertama kepada pemerintah khususnya di Jawa dan umumnya di Indonesia hendaknya lebih memperhatikan akan keberadaan dari batik yang kini mulai dipengaruhi oleh budaya mancanegara baik itu berpengaruh positif maupun berpengaruh negatif.

Saran yang kedua yaitu ditujukan kepada masyarakat di Indonesia disarankan ikut serta dalam pelestarian terhadap hasil budaya dalam hal ini batik, agar dapat mempertahankan eksistensinya di era yang serba modernisasi ini.

 

DAFTAR PUSTAKA

Imam Sutardjo. 2008. Kajian Budaya Jawa. Surakarta : Jurusan Sastra Daerah-FSSR-UNS

Komarudian Hidayat, dkk. 2008. Reiventing Indonesia, Menemukan Kembali Masa Depan Bangsa. Jakarta Selatan : Mizan

Kun Maryati, dkk. 2006. Sosiologi SMA/MA Kelas XII Jilid 3. Jakarta : Erlangga

Pustaka Keris Vol.23. 2011. Jakarta

Sri Murtono,dkk. 2007.Seni Budaya dan Ketrampilan Kelas 5 SD. Jakarta Timur : Yudhistira

Yohanes Surya. 2009. Fisika Batik. Jakarta : PT Gramedia Pustaka Pustaka Utama

  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: