UNY

EKSISTENSI BUDAYA LOKAL KRATON YOGYAKARTA

 Disusun oleh  : Ichwan Januar Sulistyono, Arifatul Anisa, Ruly Anggraeny

PENDIDIKAN BAHASA DAERAH, FAKULTAS BAHASA DAN SENI

UNIVERSITAS NEGERI YOGYAKARTA, 2012


BAB I

PENDAHULUAN

 

1.1    LATAR BELAKANG

Kraton Yogyakarta merupakan warisan dan cagar budaya bangsa sejak dahulu. Bahkan jauh sebelum bangsa Indonesia berdiri, Kraton Yogyakarta / Kerajaan Mataram sudah berdiri. Kraton yang juga sebagai pusat pemerintahan (kerajaan) Yogyakarta tetap memegang teguh pranata-pranata yang ada sejak masa pemerintahan Sri Sultan Hamengku Buwono I (1755) hingga Sri Sultan Hamengku Buwono X (sekarang). Meski zaman semakin berkembang, nilai-nilai budaya dan kearifan lokal Jawa , Yogyakarta khususnya , tetap lestari dan tidak luntur meski terdapat beberapa perubahan. Namun perubahan tersebut sama sekali tidak merubah nilai-nilai dasar / intinya (kejawen).

Kraton Yogyakarta juga berandil besar dalam penyebaran agama Islam di Yogyakarta dan sekitarnya. Dengan memasukkan ajaran-ajaran Islam dalam kesenian dan budaya, Islam dengan mudah diterima oleh masyarakat. Terbukti dengan adanya Sekaten Upacara Grebeg yang setiap tahun rutin diselenggarakan.

Selain sebagai tempat tinggal raja beserta keluarga, pusat pemerintahan, dan tempat penyebaran Islam, Kraton juga memegang andil besar untuk Bangsa Indonesia.Yogyakarta pernah digunakan sebagai ibukota Indonesia, Kraton Yogyakarta pernah digunakan untuk melantik presiden pertama Indonesia (Ir. Soekarno) di Bangsal Sitihinggail, dan juga tempat berdirinya universitas tertua di Indonesia. Yaitu Universitas Gadjah Mada (UGM).

Dengan berbagai realita dan perubahan zaman yang terjadi, Kraton Yogyakarta tetap nyawiji pada pranata dan nilai-nilai yang ada sejak dahulu. Kraton Yogyakarta begitu filosofis, mengandung makna, falsafah, dan ajaran hidup yang luar biasa di setiap bangunan atau acara yang diselenggarakan Kraton.Inilah yang menjadi daya tarik kraton bagi wisataan domestik / mancanegara. Banyak inspirasi yang bisa di ambil dari Kraton Yogyakarta. Yang akan dibahas dalam makalah ini adalah tentang Kraton Yogyakarta dan apresiasi terhadap Kraton Yogyakarta.

1.2    RUMUSAN MASALAH

Yogyakarta di kenal sebagai kota budaya dan pariwisata. Wisata-wisata budaya banyak di kembangkan di Yogyakarta, salah satunya adalah Kraton Yogyakarta. Dengan luas pusat kraton 14.000m2, kraton Yogyakarta menawarkan wisata budaya yang sangat menarik. Dalam rangka Kuliah Lapangan di Kraton Yogyakarta, terdapat beberapa permasalahan, yaitu :

  1. Bagaimana sejarah dan makna Kraton Yogyakarta ?
  2. Bagaimana silsilah raja-raja di Kesultanan Yogyakarta ?
  3. Siapa saja yang pernah berkuasa di Kraton Yogyakarta ?
  4. Unsur budaya apa saja yang ditemui di Kraton Yogyakarta ?
  5. Bagaimana makna simbolik pada setiap unsur budaya di Kraton Yogyakarta ?

1.3    TUJUAN

Kraton Yogyakarta menyimpan banyak cerita dan nilai yang sangat luhur untuk warga Yogyakarta khususnya, Suku Jawa pada umumnya. Tujuan tentang makalah ini yaitu mengetahui hakikat Kraton Yogyakarta yang mengandung banyak falsafah di setiap aspek kehidupan kita. Dan setelah mengetahui kemudian disalurkan hasil dan ilmu yang ada pada orang-orang terdekat, agar mereka lebih tahu dan memahami budaya pada Kraton Yogyakarta. Selain itu menyuratkan bahwa kejawen yang merupakan budaya Jawa bisa menyatu dan berpadu dengan Agama Islam, yang selalu mengajarkan kita adalah makhluk Allah SWT yang harus selalu ingat pada-Nya dan mensyukuri atas segala pemberian-Nya. Sebagai mahasiswa, praktek lapangan dan penyusunan makalah ini bertujuan mengapresiasi berbagai wujud budaya dan unsur-unsur kemanusiaannya, agar kita bisa lebih mengahargai, menjaga, dan melestarikan Budaya Jawa.

1.4    MANFAAT

Meninjau dari latar belakang dan rumusan masalah, tujuannya antara lain untuk menambah wawasan kita betapa luhurnya nilai-nilai budaya Jawa di Kraton Yogyakarta yang diusung dari tahun 1558 hingga sekarang,  mengetahui filosofi-filosofi Jawa untuk di terapkan di kehidupan kita sehari-hari, memberi apresiasi yang tinggi terhadap Kraton Yogyakarta untuk selalu dijaga dan dilestarikan, serta menjaga kelangsungan hidup berlandaskan Budaya Jawa sesuai unggah-ungguh lan pranata.


BAB II

KRATON YOGYAKARTA

  1. 1.        SEJARAH KRATON YOGYAKARTA

Bermula dari tahun 1558 M, ketika Ki Ageng Pemanahan di hadihi sebuah wilayah Mataram oleh Sultan Pajang karena jasanya membantu Kerajaan Pajang mengalahkan pasukan Arya Penangsang. Tahun 1558 Ki Ageng Pemanahan membangun Kerajaan Mataram di Pasargede, Kotagede. Beliau meninggal tahun 1584 dan mewariskan tahtanya pada Sutawijaya (putra Ki Ageng Pemanahan) melalui penobatan sultan Pajang.

Namun Sutawijaya berontak karena ingin merebut Kerajaan Pajang dan menjadi raja di seluruh pulau jawa. Saat akan terjadi pertempuran antara pasukan Sutawijaya dengan pasukan Sultan Pajang, Kerajaan Pajang justru porak poranda karena badai letusan Gunung Merapi.

Pada tahun 1858 ,Sutawijaya menjadikan Mataram sebagai kerajaanya. Kemudian Sutawijaya bergelar Senopati Ing Ngalaga Sayidin Panatagama atau Panembahan Senopati. Tahun 1601 Panembahan senopati meninggal dan digantikan oleh Mas Jolang (Parabu Anyakrawati). Tahun 1613, Mas Jolang meninggal dan digantikan oleh RM. Rangsang atau Sultan Agung (Prabu Pandhita Hanyakrakusuma). Kerajaan Mataram mengalami perkembangan pesat di bidang politik, militer, sastra, kesenian, ilmu pengetahuan (hukum, astronomi, dan filsafat) serta keagamaan pada pemerintahan Sultan Agung.

Tahun 1645 Sultan Agung meninggal dan digantikan oleh putranya, Pangeran Tegalarum (Amangkurat I). Kerajaan mataram mengalami kemunduran hingga pemerintahan Amangkurat IV di berbagai aspek.

Puncaknya adalah pemeberontakan orang-orang Cina (Geger Pacina) pada tahun 1740-1743 di masa Pemerintahan Paku Buwono II (Putra Amangkurat IV) . Paku Buwono II meminta bantuan Belanda untuk memadamkan peristiwa tersebut. Karena Kartasura mengalami kerusakan parah, maka ibukota dipindahkan ke Solo / Surakarta.

Pada masa pemerintahan Sunan Paku Buwono II di Kraton Surakarta, masih terjadi pemberontakan yang dipimpin oleh Tumenggung Mertopuro.Namun Mertopuro dapat ditaklukkan oleh Pangeran Mangkubumi (adik Paku Buwono II).

Suatau ketika Sunan Paku Buwono II dan Pangeran Mangkubumi berunding dengan Belanda yang diwakili Mr. Hoogendorf yang meminta Paku Buwono II menyerahkan seluruh pesisir utara Jawa kepada VOC sebagai balas jasa Belanda membantu memadamkan peristiwa Geger Pecina. Pangeran Mangkubumi tidak menyetujuinya dan memohon ijin pada Paku Buwono II untuk menentang Belanda.

Setelah mendapat restu dari Paku Buwono II, Pangeran Mangkubumi mendapat pusaka berupa tombak Kyai Plered. Kemudian Pangeran Mangkubumi meninggalkan Surakarta dan menuju hutan bersama pengikutnya yang setia bergeriliya melawan VOC. Pangeran Mangkubumi bergabung dengan RM. Said (Pangeran Samber Nyawa) yang terlebih dulu menentang VOC.

Sebelum Paku Buwono II wafat, kekuasaan seluruh tanah jawa telah diserahkan pada VOC pada 16 Desember 1949).Praktis penobatan Paku Buwono III dilakukan oleh Belanda.Paku Buwono III terikat kontrak politik dengan Belanda, sehingga beliau hanya menjadi ‘boneka’.

Ketika pemerintahan Paku Buwono III inilah perlawanan Pangeran Mangkubumi menghebat.Semua pasukan Belanda termasuk komandannya mati terbunuh di Sungai Bogowonto.Akhirnya Belanda minta berunding dengan Pangeran Mangkubumi.

Kemudian terjadilah perjanjian antara ketiga pihak, yaitu Pangeran Mangkubumi, Paku Buwono III, dan VOC yang dilangsungkan 13 Februari 1755 di Giyanti (Salatiga), maka disebut Perjanjian Giyanti. Akibat perjanjian itu Kerajaan Mataram terbagi menjadi 2 bagian, yaitu Kasunanan Surakarta dan Kasultanan Yogyakarta. Selanjutnya Pangeran Mangkubumi mendirikan kerajaan Mataram Yogyakarta di wilayah Beringan pada tahun 1756.

Pangeran Mangkubumi akhirnya bergelar SRI SULTAN HAMENGKU BUWONO I. Gelar lengkapnya adalah NGARSA DALEM SAMPEYAN DALEM INGKANG SINUHUN KANJENG SULTAN HAMENGKU BUWONO SENOPATI ING NGALOGO NGABDURAHMAN SAYIDIN PANOTOGOMO KHALIFATULLAH INGKANG JUMENENG KAPING I ING NGAYOGYAKARTA HADININGRAT.

  1. 2.        ARTI KRATON YOGYAKARTA

Istilah karaton / keratin / kraton, berasal dari kata ka-ratu-anyang berarti tempat tinggal raja / ratu.Sedangkan kata Yogyakarta berasal dari kata Yogya yang artinya baik dan kata Karta berarti makmur. Sumber lain menybutkan bahwa Yogyakarta / Ngayogyakarta berasal dari kata Ayu, Bagya, lan Karta.

Dalam arti luas , kraton mengandung makna yang berkaitan dengan pandangan hidup jawa yang sangat esensial, yaitu Sangkan Paraning Dumadi (dari mana asalnya manusia dan kemana akhirnya manusia setelah mati). Garis besarnya adalah wilayah Kraton Yogyakarta yang memanjang sepanjang 5KM, dari panggung Krapyak di sebelah selatan hingga Tugu (kraton) Yogyakarta di sebelah utara, terdapat garis linier dualisme secara simbolik filosofi.

Mulai dari panggung Krapyak ke araha kraton, melambangkan proses terjadinya hidup manusia, mulai ketika masih berada di alam arwah (tempat tinggi) sampai hadir ke dunia. Kraton sebagai lambing jasmani manusia, sedang raja / sultan sebagai lambang jiwa sejati yang mengarahkan jasmani / badan manusia.

Sedangkan dari kraton ke panggung Krapyak melambangkan pulangnya manusia kehadirah Tuhan Yang Maha Esa. Dalam pandanga hidup jawa, Sangkan Paraning Dumadi adalah sebutan lain untuk Tuhan.Panggung Krapyak adalah tempat yang tinggi. Dalam hal ini adalah lambing asalnya manusia secara esensial di sisi Tuhan Yang Maha Esa sebagai tempat yang tinggi.

Dengan mempelajari dan memahami arti Krato Yogyakarta, berarti telah belajar tentang falsafah hidup manusia.

  1. 3.        FUNGSI KRATON YOGYAKARTA

Fungsi Kraton Yogyakarta adalah :

  1. Sebagai tempat tinggal raja dan keluarganya.
  2. Pusat pemerintahan.
  3. Pusat kebudayaan dan pengembangannya.
  4. Pada zaman kemerdekaan, mulai di buka untuk kepentingan umum. Seperti kegiatan pariwisata, kegiatan ilmu pengetahuan, serta kegiatan lain yang ada hubungannya dengan kepentingan masyarakat.
  5. Merupakan museum perjuangan bangsa, karena kraton Yogyakarta pernah digunakan sebagai tempat kegiatan perjuangan fisik maupun kegiatan pemerintahan ketika ibukota Indonesoia berada di Yogyakarta.
  1. 4.        BANGUNAN-BANGUNAN DALAM KRATON YOGYAKARTA

Lingkungan Kraton Yogyakarta secara keseluruhan terbagi atas 7 halaman (pagelaran) yang masing-masing bagian dibatasi oleh tembok tinggi, dan di dalamnya terdapat bangunan-bangunan, serta beberapa pintu gerbang yang menghubungkan antara halaman yang satu dengan yang lainnya, yang disebut REGOL.

Seiring perkembangan jaman, bangunan-bangunan tersebut mengalami pemugaran dan pergeseran fungsi. Pemugaran bangunan  kraton secara keseluruhan dimulai tahun 1921 M dan selesai 1934 M pada masa pemerintahan Sri Sultan Hamengku Buwono VIII.

Berikut ini adalah nama-nama bangunan di Kraton Yogyakarta, dimulai dari bagian depan, yaitu :

  1. 1.        Pelataran Pagelaran. Merupakan halaman paling depan yang terletak di sebelah selatan Alun-alun Lor. Di Pelataran Pagelaran terdapat beberapa bangunan, antara lain :
    1. BANGSAL PAGELARAN. Pada awalnya bernama Tratag rambat. Kemudian dipugar oleh Sri Sultan Hamengku Buwono VIII tahun 1921 M. pemugaran tersebut ditandai dengan candrasengkala (tahun jawa) yang terdapat pada bagian atas muka bangsal Pagelaran yang berbunyi “Panca Gana Salira Tunggal” (1865 Jawa). Sedangkan selesainya pemugaran ditandaio dengan suryasengkala(tahun masehi) yang terdapat pada bagian atas belakang Bangsal Pagelaran yang berbunyi “Catur Trisula Kembang Lata” (1934M). Pada tanggal 13 Maret 1946, Sri Sultan Hamengku Buwono IX meminjamkan Bangsal Pagelaran Sitihinggil untuk perkuliahan Fakultas HESP (Hukum, Ekonomi, Sosial, dan Politik) Perguruan Tinggi Gadjah Nada hingga tahun 1973.
    2. BANGSAL PEMANDENGAN, digunakan sebagai tempat duduk bagi Sultan dan panglima perang ketika menyaksikan jalannya latihan perang para prajurit (bregada).
    3. BANGSAL PENGAPIT (Bangsal Pasekawan) merupakan tempat Senopati Perang / Manggalayudha mengadakan pertemuan, serta tempat menunggu perintah dari sultan.
    4. BANGSAL PENGRAWIT, digunakan untuk tempat raja melantik patih. Tetapi mulai tahun 1942 pada masa pemerintaha Sri Sultan Hamengku Buwono IX, bangsal ini tidak digunakan lagi.
    5. BANGSAL PACIKERAN merupakan tempat bagi para abdi dalem Singanegara dan abdi dalem Mertalulut (algojo Kraton) yang bertugas memberi tugas hukuman (eksekusi) pada para tahanan Kraton. Sedangkan eksekusinya dilaksanakan di alun-alun Lor.
    6. BANGSAL SITIHINGGIL digunakan sebagai tempat penobatan / pelantikan Raja-raja kesultanan Yogyakarta dan tempat dilaksanakannya Pasowanan Agung. Pada tanggal 17 Desember 1949 digunakan untuk pelantikan Ir Soekarno sebagai Presiden Indonesia yang pertama. Bangunan ini dipugar pada masa pemerintahan Sri Sultan Hamengku Buwono VIII yang ditandai dengan candrasengkala yang berbunyi “Pandhita Cakra Naga Wani” (1857 tahun Jawa) dan suryasengkala  yang berbunyi “GanaAsta Kembang Lata” (1926 M)
    7. BANGSAL MANGUNTUR TANGKIL sebagai tempat singgasana Raja saat berlangsung upacara penobatan raja / sultan. Bangunan ini terletak di tengah Bangsal Sitihinggil.
    8. BANGSAL WITANA digunakan untuk menepatkan pusaka-pusaka utama Kraton Yogyakarta pada waktu berlangsungnya penobatan raja / sultan dan pada waktu Grebeg Mulud tahun Dal (Jawa). Bangunan ini terletak di belakan Bangsal Manguntur Tangkil.
    9. BALEBANG terletak disebelah timur Bangsal Sitihinggil. Berfungsi untuk menyimpan 2 perangkat gamelan sekaten (Kyai Guntur Madu dan Kyai Naga Wilaga) yang dibunyikan setiap bulan Maulud.
    10. BLE ANGUN-ANGUN yang terletak di barat Bangsal Sitihinggil. Berfungsi untuk menyimpan pusaka tombak yang bernama Kanjeng Kyai Sura Angun-Angun.
    11. REGOL BRAJANALA, yaitu gerbang yang menghubungkan antara halaman Sitihinggil lor dengan halaman Kemandungan Lor. Regol ini terletak di selatan halaman Sitihinggil.
    12. 2.        Pelataran Kemandungan Lor (Halaman Keben). Di dalamnya terdapat Pohon Keben yang dinyatakan sebagai lambing perdamaian oleh Pemerintah Indonesia pada tahun 1986. Bangunan yang terdapat di  dalamnya antara lain :
      1. BANGSAL PANCANITI berfungsi sebagai ruang siding pengadilan kraton. Bangunan ini terletak di tengah halaman Pancaniti.
      2. BANGSAL PACAOSAN adalah tempat bagi abdi dalem yang melaksanakan ronda (jaga). Bangsal ini terletak di sebelah kanan dan kiri Regol Srimanganti
      3. REGOL SRIMANGANTI merupakan pintu gerbang yang menghubungkan antara Kemandungan Lor dengan halaman Bangsal Srimanganti. Regol ini terletak di selatan Bangsal Pancaniti.
      4. 3.        Pelataran Bangsal Srimanganti. Beberapa bangunan yang ada di dalamnya antara lain :
        1. BANGSAL SRIMANGANTI digunakan untuk sultan menyambut kedatangan tamu-tamu penting. Bangsal ini terletak di halaman Srimanganti sebelah barat.
        2. BANGSAL TRAJUMAS merupakan tempat untuk para pejabat istana yang berfungsi mendampingi sultan ketika menyambut tamu-tamu penting. Bangsal ini terletak di halaman srimanganti sebelah timur.
        3. REGOL DANAPRATAPA adalah pintu gerbang yang menghubungkan antara halaman Srimanganti dengan halaman Bangsal Kencana. Regol ini terletak di sebelah selatan halaman Srimanganti.
        4. 4.        Pelataran Bangsal Kencana.  Merupakan pusat Kraton (pusat pemerintahan). Di dalamnya terdapat beberapa bangunan, di antaranya :
          1. GEDHONNG PURWARETNA yang dibangun pada masa pemerintahan Sri Sultan Hamengku Buwono V. Dahulu digunakan sebagai kantor pribadi Sri Sultan Hamengku Buwono IX, dan sekarang sebagai Kantor Kawedanan Hageng Sri Wandana. Bangunan ini terletak di sebelah utara Bangsal Kencana.
          2. GEDHONG JENE (Gedung Kuning) di bangun pada masa pemerintahan Sri Sultan Hamengku Buwono II. Bangunan ini berfungsi sebagai tempat tinggal raja hingga Sri Sultan Hamengku Buwono IX. Sekarang digunakan sebagai kantor pribadi Sri Sultan Hamengku Buwono X. Bangunan ini terletak di utara Bangsal Prabayeksa.
          3. BANGSAL KENCANA. Merupakan bangunan pusat Kraton Yogyakarta yang berfungsi sebagai tempat singgasana raja. Bangunan ini menghadap ke timur, di selatan Gedhong Purwaretna.
          4. BANGSAL PRABAYEKSA, adalah tempat untuk menimpan senjata-senjata pusaka kraton. Di dalamnya juga terdapat lampu minyak yang tak pernah padam, bernama Kyai Wiji. Bangunan ini ada di belakang Bangsal Kencana.
          5. KEPUTREN adalah tempat tinggal putrid-putri raja yang belum menikah. Terletak di barat daya Bangsal Kencana.
          6. MESJID PANEPEN. Selain untuk menjalankan ibadah sholat keluarga istana, juga digunakan untuk acara ijab qabul putra-putri sultan. Terletak di sebelah barat Gedhong Kuning.
          7. KRATON KILEN, merupakan tempat tinggal Sri Sultan Hamengku Buwono X beserta keluarganya. Komplek Kraton Kilen ini terletak di ujung sebelah barat.
          8. GEDHONG KANTOR PARENTAH HAGENG sebagai kantor pejabat kraton, yang berwenang menyampaikan perintah sultan  kepada semua abdi dalem. Letaknya di sebelah timur laut Bangsal Mandalasana.
          9. BANGSAL MANDALASANA, yaitu tempat untuk pentas bagi para pemain musik (Korp Musik Kraton), ketika digelar acara-acara penting. Letaknya di utara Bangsal Kencana.
          10. GEDHONG GANGSA, yaitu ruangan untuk menyimpan gamelan-gamelan kraton, sekaligus sebagai tempat dibunyikannya gamelan tersebut pada waktu kraton menggelar acara-acara resmi. Bangunan ini terletak di halaman bangsal Kencana sebelah timur.
          11. GEDHONG KACA adalah bangunan baru yang fungsinya sebagai museum benda-benda bersejarah peninggalan Sri Sultan Hamengku Buwono IX. Terletak di sebelah timur Gedhong Danartapura.
          12. GEDHONG DANARTAPURA adalah kantor kas Kraton (kantor bendahara kraton. Terletak di timur Gedhong Patehan.
          13. GEDHONG PATEHAN adalah tempat abdidalem yang menyediakan minum untuk keluarga kraton. Terletak di sebelah barat Gedhong Danartapura.
          14. REGOL KEMAGANGAN, yaitu pintu gerbang yang menghubungkan dari Bangsal Kencana menuju halaman Kemagangan. Terletak di barat Gedhong Patehan.
          15. 5.        Halaman Kemagangnan. Merupakan halan belakang dari pusat kraton. Di dalamnya terdapat beberapa bangunan, di antaranya :
            1. BANGSAL KEMAGANGAN merupakan tempat penyelenggaraan pentas wayang kulit semalam suntuk (Bedhol Songsong) yang disaksikan Sri Sultan. Bedhol Songsong diselenggarakan setiap akhir ritual, sebagai acara penutup. Terletak di selatan Regol Kemagangan.
            2. PANTI PAREDEN adalah tempat untuk para abdi dalem membuat gunungan sekaten. Bangunan ini ada dua pasang, terletak di sudut tenggara dan sudut barat daya Bangsal Kemagangan.
            3. REGOL GADUNGMLATI, yaitu pintu gerbang yang menghubungkan Halaman Kemagangan dengan Halaman Kemagangan Kidul
          16. 6.        Halaman Kemandungan Kidul. Didalamnya terdapat beberapa bangunan, antara lain :
            1. BANGSAL PACAOSAN, merupakan tempat jaga bagi para abdi dalem (tugas ronda). Bangunan kecil ini ada sepasang yang terletak disebelah kiri-kanan, bagian utara halaman Kemandungan Kidul.
            2. REGOL KEMANDUNGAN, adalah pintu gerbang yang menghubungkan halaman Kemandungan Kidul dengan halaman Sitihinggil Kidul. Terletak di bagian selatan halaman Kemandungan Kidul.
          17. 7.        Halaman Sitihinggil Kidul. Merupakan bagian akhir dari halaman di lingkungan Kraton Yogyakarta. Bangunan yang terdapat di sini yaitu :
            1. BANGSAL SASANA HINGGIL, merupakan tempat pagelaran kesenian. Pada masa pemerintahan Sri Sultan Hamengku Buwono IX tahun 1956, bangunan ini dipugar dalam rangka 200 tahun berdirinya Kraton Yogyakarta. Terletak di utara alun-alun kidul, menghadap ke selatan.
            2. GAJAHAN, merupakan kandang gajah milik kraton yang terletak di sebelah barat alun-alun Kidul.

 5.       

PANEMBAHAN SENOPATI

(R.SUTOWIJOYO)

Sultan I Mataram Kotagede

(1575-1601)

PRABU ANYAKRAWATI

Sultan II di Mataram Kotagede

(1601-1613)

SULTAN AGUNG H

(Pangeran Rangsang)

Kerajaan pindah ke Pleret, dekat Kotagede (1613-1645)

SUNAN AMANGKURAT

(Sinuhun Tegalarum)

(1645-1677)

PAKU BUWONO I

(Pangerang Puger)

Saudara dari Mangkurat II

1705-1719

AMANGKURAT II

Kartasura

(1677-1703)

AMANGKURAT IV

Amangkurat IV Jawi di Kartasura

(1719-1727)

AMANGKURAT III

Sunan Kencet

(1703-1705)

SUNAN PAKUBUWANA II

Pindah ke Surakarta (Solo), dan menurunkan raja-raja Kasunanan Surakarta (1727-1749)

SRI SULTAN HAMENGKU BUWONO I (P.Mangkubumi)

Pendiri Mataram Yogyakarta dan menurunkan raja-raja Kesultanan Yogyakarta (1755-1792

KPA. MANGKUNEGARA

Di Kartasura

(bukan raja)

SRI PAKUALAM I

(Pangeran Natakusuma)

Pendiri Kadipaten Pakualaman

Di Yogyakarta (1813-1829)

SRI MANGKUNEGARA I

(RM. Said / P.Samber Nyawa)

Pendiri Kadipaten Mangunegaran

(1757-1796)

KETURUNAN RAJA-RAJA MATARAM

 6.        SRI SULTAN HAMENGKU BUWONO I – X

1)        SRI SULTAN HAMENGKU BUWONO I

Nama kecil       :  Bendara Raden Mas Sujono

Tanggal lahir    :  4 Agustus 1717 (Rebo Pon, 26 Ruwah Wawu 1641)

Naik tahta        :  13 Februari 1755 (Kemis Pon, 29 Jumadilawal Be 1680)

Wafat                           :  24 Maret 1792 (Ahad Kliwon, 1 Ruwah Be 1718)

Makam             :  Pasarean Pajimatan Imogiri, Kedhaton Suwargan

Penggantinya adalah Gusti Raden Mas Sudara (putra sulung GKR Kadipaten).Putra kelima garwa selir BRAy Srenggara yang bernama BPH.Natakusuma yang kemudian diangkta menjadi KGPAA.A. Paku Alam I pada tahun 1813 M.

2)        SRI SULTAN HAMENGKU BUWONO II

Nama kecil       :  Gusti Raden Mas Sudara

Tanggal lahir    :  7 Maret 1750 (Setu Legi, 28 Rabi’ulawal Alip 1675)

Naik tahta        :  2 April 1792 (Senin Pon, 9 Ruwah Je 1718)

Wafat                           :  3 Januari 1828 (Kemis Legi, 15 Jumadilakir Alip 1755)

Makam             :  Pasarean Dalem Astana Kotagedhe

Penggantinya adalah Gusti Raden Mas Suraja, putra kelima / putra sulung dari permaisuri GKR.Kedhaton.

3)        SRI SULTAN HAMENGKU BUWONO III

Nama kecil       :  Gusti Raden Mas Suraja

Tanggal lahir    :  20 Februari 1769 (Rebo Kliwon, 18 Syawal Dal 1694)

Naik tahta        :  12 Juni 1812 (Ahad Pahing, 10 Jumadilakir Alip 1739)

Wafat                           :  3 November 1814 (Kemis Pahing, 19 Dukaidah Jimawal

1741)

Makam             :  Pasarean Pajimatan Imogiri, Kedhaton Suwargan

Penggantinya adalah Gusti Raden Mas Ibnu Jarot, putra ke 18 / putra bungsu dari GKR.Hageng.

4)        SRI SULTAN HAMENGKU BUWONO IV

Nama kecil       :  Gusti Raden Mas Ibnu Jarot

Tanggal lahir    :  3 April 1804 (Slasa Kliwon, 22 Besar Jimakir 1730)

Naik tahta        :  10 November 1814 (Kemis Wage, 20 Dulkaidah Jimwal

1741)

Wafat                           :  6 Desember 1823 (Jumat Pahing, 22 Rabiulawal Je 1750)

Makam             :  Pasarean Pajimatan Imogiri, Kedhaton Besiyaran.

Penggantinya adalah Gusti Raden Mas Gathot Menol, putra keenam / putra kedua dari KGR Kencana)

5)        SRI SULTAN HAMENGKU BUWONO V

Nama kecil      :  Gusti Raden Mas Gathot Menol

Tanggal lahir   :  24 Januari 1820 (Senin Kliwon, 7 Rabiulakir Alip 1747)

Naik tahta       :  19 Desember 1823 (Kemis Kliwon, 5 Rabiulakir Je 1750)

Wafat                          :  5 Juni 1855 (Slasa Legi, 20 Siyam Dal 1783)

Makam            :  Pasarean Pajimatan Imogiri, Kedhaton Besiyaran.

Penggantinya adalah Gusti Raden Mas Mustaja, yaitu adik dari Sri Sultan Hamengku Buwono V (putra ketujuh / putra ketiga dari KGR Kencana)

6)        SRI SULTAN HAMENGKU BUWONO VI

Nama kecil       :  Gusti Raden Mas Mustaja

Tanggal lahir    :  10 Agustus 1821 (Ahad Pon, 21 Dulkaidah Ehe 1748)

Naik tahta        :  5 Juli 1855 (Kemis Legi, 20 Syawal Dal 1783)

Wafat                           :  20 Juli 1877 (Jumat Pahing, 9 Rejeb Je 1806)

Makam             :  Pasarean Pajimatan Imogiri, Kedhaton Besiyaran.

Penggantinya adalah Gusti Raden Mas Murtejo, putra pertama / putra sulung dari permaisuri GKR.Sultan.

7)        SRI SULTAN HAMENGKU BUWONO VII

Nama kecil      :  Gusti Raden Mas Murtejo

Tanggal lahir   :  4 Februari 1839 (Senin Legi, 20 Dulkaidah Je 1766)

Naik tahta       :  13 Agustus 1877 (Senin Legi, 3 Ruwah Je 1806)

Turun tahta     :  29 Januari 1921 (Sabtu Kliwon, 18 Jumadilawal Alip 1851)

Wafat                          :  30 Desember 1921 (Malem Jumat Kliwon, 29 Rabiulawal

Ehe 1851)

Makam            :  Pasarean Pajimatan Imogiri, Kedhaton Saptarengga.

Penggantinya adalah Gusti Raden Mas Sujadi, putra ke 23 / putra ke 5 dari GKR Hemas)

8)        SRI SULTAN HAMENGKU BUWONO VIII

Nama kecil      :  Gusti Raden Mas Sujadi

Tanggal lahir   :  3 Maret 1880 (Rebo Wage, 21 Rabiulawal Wawu 1809)

Naik tahta       :  8 Februari 1921 (Slasa Kliwon, 29 Jumadilawal Alip 1851)

Wafat                          :  22 Oktober 1939 (Ahad Kliwon, 9 Siyam Je 1870)

Makam            :  Pajimatan Imogiri, Kedhaton Saptarengga.

Penggantinya adalah Gusti Raden Mas Dorojatun, satu-satunya putra dari permaisuri Kanjeng Raden Ayu Adipati Anom Hemengunegoro.

9)        SRI SULTAN HAMENGKU BUWONO IX

Nama kecil      :  Gusti Raden Mas Dorojatun

Tanggal lahir   :  12 April 1912 (Setu Pahing, 25 rabiulakir jimakir 1842)

Naik tahta       :  18 Maret 1940 (Senin Pon, 8 Sapar Dal 1871)

Wafat                          :  3 Oktober 1988 (Senin Wage, 21 Sapar Wawu 1921) di

Washington DC, Amerika Serikat.

Makam            :  Pajimatan Imogiri, Kedhaton Saptarengga.

Penggantinya adalah Bendara Raden Mas Herjuno Darpito, putra kelima / putra kedua dari Garwa Ampeyan KRAy Windyaningrum HB IX.

10)    SRI SULTAN HAMENGKU BUWONO X

Nama kecil      :  Bendara Reden Mas Herjuna Darpito

Tanggal lahir   : 2 April 1946

Naik tahta       :  7 Maret 1989 (Slasa Wage, 29 Rejeb Wawu 1921)

Permaisurinya habya ada 1 , yaitu BRAy Atik Mangkubumi yang kemudian dinobatkan menjadi GKR Hemas. Putra dalem Sri Sultan Hamengku Buwono X ada 5, semuanya perempuan.Pada tanggal 3 Oktober 1998 Sri Sultan Hamengu Buwono X dilantik menjadi Gubernur DIY hingga sekarang.

  1. 7.        GELAR / KEDUDUKAN BANGSAWAN KRATON YOGYAKARTA

Gelar kebangsawanan Kraton Yogyakarta di atur dalam suatu peraturan yang disebut Pranatan Lan Kalungguhan Pranatan Bab Sesebutan Kalungguhan Para Putra Sentana Lan Darahing Panjenengan Nata Jen Pinuju Pasamuan, Lan Sapanunggalane.Peraturan ini disahkan pada tanggal 3 Mei 1927.

Untuk gelar kebangsawanan putra, Pranatanya sebagai berikut :

  1. Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Anom (KGPAA), sebutan untuk putra mahkota (putra sultan) yang nantinya akan menggantikan kedudukan raja (putra dari permaisuri).
  2. Kanjeng Panembahan, sebutan untuk putra sultan yang mendapat anugrah tinggi karena jasa-jasanya terhadap kerajaan, raja, atau negara.Di Kraton Yogyakarta pernah ada 2 gelar Kanjeng Panembahan, yaitu Panembahan Mangkurat (pemerintahan Sri Sultan HB V) dan Penembahan Pangeran Poerbaya (pemerintahan Sri Sultan HB IX).
  3. Kanjeng Gusti Pengeran Adipati (KGPA), yaitu gelar anugrah yang diberikan pada putra sultan. Gelar ini untuk Sentana Kraton Yogyakarta yang diberika kepada Pangeran Notokusumo (1813), yang kemudian bergelar KGPA Arya Paku Alam I.
  4. Kanjeng Gusti Pangeran Harya (KGPH), yaitu gelar untuk putra sultan yang kedudukannya sebagai  Lurah Pangeran (pemimpin para pangeran).
  5. Gusti Pangeran, gelar untuk putra sulung sultan yang lahir dari istri selir (setelah diangkat menjadi pangeran).
  6. Gusti Pangeran Harya (GPH), gelar untuk putra sulung sultan yang lahir dari istri permaisuri (setelah diangkat menjadi pangeran).
  7. Bendara Pangeran Harya (BPH), gelar untuk putra sultan yang lain, yang dilahirkan dari istri selir (setelah diangkat menjadi pangeran).
  8. Kanjeng Pangeran Adipati (KPA), gelar kepangkatan yang diberikan pada sentana yang dianggap berjasa.
  9. Kanjeng Pangeran Harya (KPH), gelar kepangkatan pada seseorang, tapi kedudukannya di bawah KPA.
  10. Gusti Raden Mas (GRM), gelar untuk putra sultan yang terlahir dari istri permaisuri (sebelum diangkat sebagai pengeran).
  11. Bendara Raden Mas (BRM), gelar untuk putra sultan yang lahir dari selir / putra dari Putra Mahkota (KGPAA) yeng belum jadi pengeran.
  12. Raden Mas Harya (RMH), gelar kebangsawanan yang diberikan Sultan pada seseorang sebagai anugerah.
  13. Raden Mas (RM), gelar untuk keturunan ketiga kebawah Sultan, sampai seterusnya (Canggah).
  14. Raden atau Reden Bagus, gelar untuk keturunan Sultan generasi kelima kebawah.
  15. Mas, gelar untuk abdidalem yang berasal dari rakyat.

Untuk gelar kebangsawanan putri, Pranatanya sebagai berikut :

  1. Gusti Kanjeng Ratu (GKR), gelar untuk permaisuri atau putri sultan yang lahir dari permaisuri, dan sudah menikah.
  2. Kanjeng Ratu, gelar untuk putri sultan yang lahir dari istri selir, dan sudah menikah.
  3. Gusti Raden Ayu (GRAy), gelar untuk putri sultan yang lahir dari istri permaisuri, yang sudah dewasa (belum menikah).
  4. Gusti Raden Ajeng (GRA), gelar untuk putri sultan yang lahir dari istri permaisuri, yang masih kanak-kanak.
  5. Bendara Raden Ayu (BRAy), gelar untuk putri sultan yang lahir dari istri selir dan sudah menikah.
  6. Bendara Raden Ajeng (BRA),gelar untuk putrid sultan yang lahir dari istri selir atau putri dari Putra Mahkota, yang belum menikah.
  7. Raden Ayu (RAy), gelar cucu sampai canggah (angkatan kelima kebawah) sultan yang sudah menikah atau istri para pangeran yang bukan putra/puti sultan.
  8. Raden Ajeng (RA), gelar untuk cucu sampai canggah sultan yang belum menikah.
  9. Raden atau Raden Nganten, gelar untuk cucu sampai wareng (generasi keenam kebawah) sultan yang telah menikah, atau istri bupati yang berasal dari rakyat.
  10. Raden Rara (RR), sebutan untuk wareng sultan yang belum menikah.
  11. Kanjeng Bendara (KB), gelar sebutan untuk istri sultan yang mengepalai para istri selir sultan.
  12. Kanjeng Raden ayu (KRAy), gelar untuk istri permaisuri sultan / istri pertama Putra Mahkota (KKGPAA).
  13. Bendara Mas Ajeng atau Bendara Mas Ayu, gelar sebutan untuk istri selir sultan atau istri selir putra mahkota yang berasal dari rakyat.
  14. Mas Ajeng atau Mas Ayu, gelar sebutan untuk istri para pangeran yang berasal dari rakyat.


 

BAB III

PEMBAHASAN

Wujud Budaya meliputi 3 hal, yaitu Ide (merupakan gagasan untuk melakukan sesuatu yang berkaitan dengan budaya), Aktifitas (merupakan aplikasi/penerapan dari ide sebagai perwujudan budaya dengan nama tertentu), dan Artefak (merupakan media melakukan aktifitas, alat yang digunakan, dan hasil dari aktifitas itu sendiri). Contoh wujud budaya di Kraton Yogyakarta adalah sebagai berikut :

  1. Ide            :  Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW

Aktifitas   :  Sekaten (5-11 Mulud / Rabiulawal)

Artefak     :  2 perangkat gamelan(Kyai Guntur Madu dan Kyai Naga Wilaga)

  1. Ide            :  Peringatan hari besar Islam

Aktifitas   :  Grebek Syawal (awal Idul Fitri), Grebek Besar (awal Idul Adha), Grebek Mulud (12 Mulud / Rabiulawal)

Artefak     :  Gunungan

  1. Ide            :  Jumenengan Ngarsa Dalem (HUT penobatan raja/sultan)

Aktifitas   :  Labuhan Ageng (8 tahun sekali pada bulan Bakda Mulud)

Artefak     :  Gunungan dan sesaji hasil bumi

  1. Ide            :  Tingalan Ngarsa Dalem (HUT kelahiran sultan)

Aktifitas   :  Labuhan Alit (Setiap bulan Bakda Mulud)

Artefak     :  Gunungan dan sesaji hasil bumi

  1. Ide            :  Peringatan tahun baru jawa

Aktifitas   :  Jamasan

Artefak     :  benda-benda Kraton Yogyakarta

Makna simbolik dari wujud budaya di Kraton Yogyakarta

  1. 1.         Sekaten

Perayaan Sekaten yang dilaksanakan di Yogyakarta berlangsung selama tujuh hari, yaitu mulai dari tanggal 5 hingga 11 Mulud (Robiul Awal). Acara ini dilaksanakan unutuk memperingati kelahiran Nabi Muhammad SAW atau Maulud Nabi Muhammad SAW, pada tanggal 11 Mulud Malam di Serambi Masjid Agung dibacakan riwayat Nabi Muahammad SAW oleh Abdidalem Penghulu Kraton di haapan Sultan. Perayaan Sekaten diawali dengan dibunyikan dua perangkat gamelan yang bernama Kyai Guntur Madu (dari Demak) dan Kyai Nagawilaga (ciptaan Sri Sultan HB I) di Bangsal Ponconiti.

Setelah selesai, dua perangkat gamelan tersebut dikawal oleh prajurit Kraton keluar menuju halaman Masjid Agung.Gamelan Kyai Guntur Madu diletekkan di Pagongan selatan dan Gamelan Kyai Nagawilaga diletakkan di Pagongan Utara. Dua gamelan tersebut dibunyikan secara bergantian selama tujuh hari kecuali Kamis malam sampai Jum’at siang setelah sholat Jum’at, pada jam 08.00 – 12.00 WIB, 14.00 – 17.00 WIB dan 20.00 – 24.00 WIB dengan gending-gending tertentu ciptaan wali.

  1. 2.         Grebek Syawal

Upacara Grebeg dilaksanakan untuk memperingati hari besar dalam Islam.Upacara ini dilaksanakan setahun tiga kali karena tiga waktu itulah yang bertepatan dengan hari besar Islam tersebut. Upacara Grebeg ini ada tiga macam:

  • Grebeg Syawal, yaitu dilaksanakan pada hari pertama bulan Syawal untuk memperingati Hari Raya Idul Fitri.
  • Grebeg Besar, dilaksanakan pada hari kesepuluh bulan Besar atau bulan Dzulhijjah untuk memperingati Hari Raya Qurban atau Idul Adha.
  • Grebeg Maulud, dilaksanakan pada hari keduabelas bulan Mulud atau Robiul Awal untuk memperingati hari kelahiran Nabi Muhammad SAW.

Pada upacara ini terdapat Gunungan yang diperebutkan oleh masyarakat yang hadir, disebut Gunungan karena makanan yang disajikan disusun seperti gunung atau tumpeng yang besar.Gunungan ini berisikan makanan yang dibuat dari telur ayam, ketan, buah-buahan dan sayur-sayuran.Sebelum Gunungan ini diperebutkan atau dimakan oleh masyarakat, Gunungan sudah dibacakan do’a-do’a terlebih dahulu oleh Abdidalem Penghulu Kraton untuk kemuliaan Sultan dan kesejahteraaan rakyat serta agar Gunungan tersebut membawa berkah.

  1. 3.         Labuhan Ageng

Labuhan Ageng ini dilaksanakan setiap 8 tahun sekali pada bulan Bakda Mulud untuk memperingati Jumenengan Ngarsa Dalem (HUT Penobatan raja/sultan).Labuhan Ageng biasanya dilaksanakan Dlepih Kahyangan (Wonogiri) dan Gunung Merapi. Benda-benda yang dilabuh berupa potongan kuku, rambut, pakaian bekas sultan, minyak konyoh, dupa, uang tindih Rp 500,00 , dll. Setelah benda-benda itu dilabuh, akan di perebutkan oleh rakyat. Karena benda-benda labuhan itu di anggap memiliki tuah yang membawa rezeki bagi mereka.

  1. 4.         Labuhan Alit

Labuhan Alit dilaksanakan rutin setiap tahun, yaitu pada bulan Bakda Mulud.Tepatnya setelah acara Labuhan ageng. Labuhan alit ini untuk memperingati Tingalan Ngarsa dalem (HUT kelahiran sultan / raja). Labuhan alit ini ditempatkan di Petilasan Parangkusumo yang terdapat gundukan batu bekas bertemunya antara Panembaha Senopati dan Kanjeng Ratu Kidul. Isi dari labuhan alit ini hampir sama dengan labuhan ageng. Hanya saja , biasanya ditambah hasil bumi dan kepala kerbau. Sebelum dilabuh, labuhan tersebut didoakan oleh Abdi Dalem Juru Kunci Parangkusumo.Setelah itu, labuhan itu dibawa ke tepi pantai dan dilarung ke laut. Benda-benda yang dilabuh ini akan kembali ke pantai, yang kemudian diperbutkan oleh warga.

Upacara Labuhan Ageng dan Labuhan Alit merupakan wujud rasa syukur kepada Sang Pencipta yang telah memberi kekayaan alam dan berkah laut yang melimpah kepada seluruh pimpinan dan rakyat Yogyakarta, semoga Yogyakarta tetap lestari dan rakyatnya hidup damai sejahtera.

  1. 5.         Jamasan

Jamasan dilaksakan untuk memperingati tahun baru jawa di bulan Sura (Muharam).Jamasan juga biasa dilakukan pada hari istimewa, yaitu Malam Jumat Kliwon dan Malam selasa Kliwon. Jamasan ini memiliki tujuan mensucikan Kyai Sangkelat (keris), Kyai Nagasasra (keris), Kanjeng Kyai Jimat (kereta), Kyai Pusaka Menik (kereta), Kyai Guntur Madu (gamelan), dsb. Hal ini menjukkan bahwa kraton Yogyakarta memegang teguh budaya yang turun-temurun dari zaman Sri Sultan Hamengku Buwono I hingga sekarang.Mereka beranggapan bahwa benda-benda Kraton Yogyakarta tersebut memiliki jiwa seperti halnya manusia.Namun khusus untuk Jamasan Pusaka (seperti tombak Kyai Plered) tidak boleh dilihat untuk umum.Sehingga sampai saat ini masih belum diketahui secara pasti bagaimana prosesnya.

Untuk pelaksanaa Jamasan , semua yang terlibat harus mengenakan baju adat jawa Peranakan. Mereka semua harus laki-laki, mengenakan kain panjang, surjan, dan blangkon.Kemudian mereka mengeluarkan Kanjeng Kyai Jimat ke halaman Museum Kereta Kraton dan mencucinya dengan air kembang yang telah didoakan.Air hasil cucian ini di perebutkan warga karena mereka percaya bahwa air itu mengandung berkah, tuah, dan khasiat.

Eksistensi Kraton Yogyakarta

Kraton Yogyakarta merupakan ujung tombak di bidang pariwisata Yogyakarta. Mulai dari wisata sejarah, kebudayaan, atau spiritual ada pada Kraton Yogyakarta. Wujud-wujud budaya seperti yang telah diuraikan diatas merupakan bukti dari eksistensi Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat hingga saat ini. Upacara-upacara dan ritual-ritual tersebut masih dilaksanakan sampai saat ini. Karena sebagai wujud tradisi dan identitas Kraton Yogyakarta itu sendiri.

Kami sangat bangga dengan kraton Ngayogyakarta tersebut. Karena banyak nilai yang dapat saya ambil di Kraton Yogyakarta dengan kearifan lokalnya yang luar biasa. Budaya dan segala sesuatu tentang kraton tetap terjaga dari tahun 1717 hingga sekarang, meski terdapat sedikit perubahan untuk mengikuti perkembangan zaman. Namun nilai intinya tetap terjaga, tidak pudar sama sekali.

Tidak hanya untuk Yogyakarta, kraton juga berjasa besar untuk Indonesia. Kraton pernah digunakan untuk melantik Presiden RI yang pertama, yaitu Ir. Soekarno , tempat lahirnya universitas tertua Indonesia (UGM), serta pusat pemerintahan Indonesia ketika zaman kemerdekaan. Tentu patut kita jaga Keistimewaan Yogyakarta.

Selain itu, disinilah pusat pengembangan kesenian dan kebudayaan di Yogyakarta. Setiap hal / sesuatu di dalam kraton pasti mengandung filosofi kehidupan yang sangat bijak untuk kita pelajari dan di terapkan. Kami (mahasiswa Pendidikan Bahasa Daerah) juga dapat belajar banyak hal, terutama terkait tentang kebudayaan.

Jika kami cermati, wujud budaya di Kraton Yogyakarta ini merupakan wujud Manunggal Kawula Gusti dan Sangkan Paraning Dumadi. Manunggal Kawula Gusti secara mikro dapat dijelaskan bahwa jika pemimpin benar-benar mengabdi untuk rakyat, tentu rakyat akan mematuhi segala perintah raja , selalu mengingatnya, dll. Secara makro menjelaskan bahwa Allah SWT telah memberi berbagai fasilitas hidup untuk kita, sehingga kita juga harus selalu bersyukur pada-Nya dan jangan sampai kufur nikmat.Allah selalu membagi rejeki-Nya untuk umat-Nya. Begitu juga raja yang harus selalu ingat akan kesejahteraan rakyatnya. Intinya adalah Allah pemberi segalanya (Sangkan Paraning Dumadi).

BAB IV

PENUTUP

Kesimpulan

 Kraton Yogyakarta merupakan pusat pemerintahan (rumah gubernur DIY) dan pusat kebudayaan di Yogyakarta. Kraton memiliki pandangan hidup, nilai sejarah, kearifan lokal, kebudayaan, kesenian yang harus kita jaga dan lestarikan agar tidak termakan oleh zaman. Kraton Yogyakarta memiliki banyak manfaat. Selain pusat pemerintahan dan kebudyaan, kraton juga sebagai warisan budaya DIY dengan berbagai cerita dan keistimewaannya. Karton juga mengajarkan bagaimana kita memaknai hidup, bersyukur pada Sang Pencipta, dan bermasyarakat. Dengan adanya Kraton Yogyakarta yang merupakan pusat kebudayaan serta turut mempertahankan tradisi-tradisi Jawa Islam yang ada di Yogyakarta dan sekitarnya.

DAFTAR PUSTAKA

Heryan, Fredy.2010.Mengenal Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat.Jogjakarta:

Warna Mediasindo.cetakan keduabelas

_____________, Mengenal Beberapa Obyek Wisata di Yogyakarta, Dinas

            Pariwisata Yogyakarta, 7 Agustus 2009

Widagdho, Drs. Djoko, dkk.2001.Ilmu Budaya Dasar.Jakarta.Bumi Aksara.

            Cetakan ketujuh

 http:/ /google.com/jamasan-kraton_yogyakarta.htm

http:/ /google.com/sekaten-kratonyogyakarta.htm

http:/ /jogjatrip.com/keraton-kasultanan-yogyakarta.com

http:/ /jogjakartatourism.com

http:/ /kaperda.jogjaprov.go.id/kebudayaan/1102-jamasan-pusaka-kraton-yogyakarta

  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: